Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab98 Rencana Jane


__ADS_3

°°°


Andra dan Sabil jelas merasa iba melihat keadaan mom Rahmi secara langsung. Namun, mereka mencoba bersikap biasa tanpa menunjukkan tatapan kasihan.


Senyum mom Rahmi terus merekah setelah kedatangan putra dan menantunya. Hatinya kembali menghangat sekaligus takut.


Tuhan bolehkah aku egois dan meminta jangan kau ambil kebahagiaan ini dari ku. Menatap dengan sedikit berkaca-kaca.


"Mommy, apa mom lapar?" Sabila mencoba menawarkan makanan. "Aku membawakan makanan kesukaan Mommy." Lanjutnya.


"Boleh, tentu Mommy tidak akan menolak masakan mu sayang." Dengan seulas senyum diwajahnya.


"Baiklah aku akan menatanya dulu mom, tunggu sebentar." Sabil mulai bergerak lincah menata berbagai macam jenis makanan hasil masakannya sendiri. Ia mengemas sedemikian rupa hingga membuatnya tak basi di perjalanan. Sebelumnya juga Andra sudah menyuruh salah satu pelayan dad dan mommy nya untuk memanaskan nya.


"Aku juga membawakan makanan kesukaan Daddy ." Sabil pun menatanya di atas meja yang ada di depan sofa dan sebagian ia tata di meja kecil yang biasa untuk makan pasien rumah sakit.


"Mom lihatlah semua ini, bahkan menantu mu itu menyiapkan semua ini sendiri demi untuk mendapatkan pujian dari mertuanya." Sontak Sabil melotot tak percaya, bagaimana mungkin Andra berkata seperti itu. Membuatnya malu di depan mom dan dad Ray.


Andra yang mendapatkan tatapan tajam dari sang istri pun menghentikan ucapannya. Takut tak mendapat jatahnya nanti. Bisa-bisa harus puasa panjang.


Mom Rahmi dan dad Ray tertawa melihat putranya tak berkutik saat Sabil menatapnya. Inilah yang mereka harapkan, seorang wanita yang mampu membuat putranya yang keras kepala dan dingin itu luluh. Bukannya tak sayang pada putranya tapi bila bukan pada istrinya ia takluk maka pada siapa lagi.


"Biar aku bantu ambilkan mom." Sabil mengambilkan makanan satu persatu dan memasukannya ke dalam piring mom Rahmi.


"Terimakasih sayang."


Sabil menunggu dan memperhatikan mom Rahmi saat memakan makanannya. Mommy memakannya dengan mata berbinar, dia bahagia karena sudah lama tak memakan makanannya dari negaranya. Rasanya berbeda sungguh, pernah ia meminta koki yang ada disana memasak makanan yang sama tapi tak seenak ini.


"Sayang ini sungguh enak, mom bahagia sekali masih bisa menikmati makanan dari negara kita. Walaupun bisa menyuruh orang untuk membuatnya disini tapi rasanya tetap berbeda. Mungkin karena bahan bakunya beda dan tentunya bukan kamu yang memasak nak."


"Benarkan Dad?" Melirik suaminya yang sedang menikmati makanannya juga. Dad Ray hanya mengangguk dan terus mengunyah.


"Lihatlah bahkan Daddy mu tak ingin berhenti makan." Mom Rahmi terkekeh melihat suaminya.

__ADS_1


Sabil pun ikut tersenyum, ia bahagia melihat mom dan dad tersenyum.


"Apa kau sudah makan nak? Putraku apa kau sudah membawa Sabil makan." Mom Rahmi bertanya pada putranya yang tengah sibuk dengan gajet nya.


Andra hampir lupa, mereka hanya makan saat di pesawat tadi. "Oya... hampir lupa mom. Ayo sayang aku akan membawamu makan."


"Tidak nanti saja kak, aku belum lapar. Aku ingin menemani Mommy dulu." Tolak Sabil.


"Tidak nak, kau makan dulu saja nanti kau bisa sakit jika menunda waktu makan. Cepat An, bawa Sabil makan." Perintah mommy yang tidak ingin dibantah karena mengkhawatirkan menantunya.


Sabil pun menurut saja jika sudah begitu. Nanti ia akan kembali lagi kemari setelah makan, pikirnya.


Baru saja Andra dan Sabil hendak keluar, pintu ruangan itu di ketuk. "Permisi."


Tok, tok, tok.


"Itu mungkin suster Jane, ia akan datang jika waktunya minum obat." Mom Rahmi kemudian menyahut. Sabil mengangguk paham, namun perasaannya kembali aneh saat mendengar nama itu.


"Nyonya, waktunya minum obat." Berjalan membawa obat-obatan yang ia maksud.


"Baiklah sus, tolong bawakan kemari." Pinda mom Rahmi.


Suster Jane mendekat dan tampak menyerngitkan dahinya melihat makanan yang ada di depan mom Rahmi. Kemudian ia mulai bersuara.


"Apa ini, siapa yang membawa makanan berminyak dan berbumbu seperti ini." Berbicara dengan sedikit lantang.


"Ada apa sus?" Mom Rahmi tampak kebingungan, begitupun dengan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Maaf nyonya tapi ini tidak baik untuk kesehatan nyonya. Tepatnya bisa mencelakai nyonya tanpa sadar." Jawab suster Jane yang berubah ramah.


"Itu aku yang membawanya sus, maaf tapi aku sungguh tak bermaksud mencelakai mommy. Sungguh aku sudah sangat mengurangi minyak dan bahan lainnya." Sabil nampak begitu bersalah, niat hati ingin menyenangkan hati mertuanya malah dianggap penjahat.


"Ohh tidak apa-apa sayang, mom mengerti kau tidak mungkin mau mencelakai mommy. Aku juga hanya memakan sedikit tadi jadi aku rasa tidak masalah sus." Mom Rahmi berkata untuk menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


"Maaf nyonya saya hanya terlalu khawatir dengan kondisi anda." Suster Jane membungkukkan badannya meminta maaf.


"Tidak apa-apa sus, terimakasih kau selalu mengkhawatirkan keadaanku selama ini. Tapi aku yakin menantuku tidak mungkin berniat buruk."


Mom Rahmi meraih tangan Sabil yang jaraknya tak terlalu jauh darinya, mengusap dan menenangkan. Menatap mata Sabil yang hampir berkaca-kaca, seolah mengatakan jika ini bukan salahnya.


Tidak apa-apa sayang, mom tau kau seperti apa.


"Sekali lagi maafkan saya yang sudah lancang nyonya." Suara suster Jane lagi. Mom Rahmi mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya pada Sabila.


"Lain kali jaga bicaramu suster. Istriku tidak mungkin mau mencelakai mommy." Andra yang sedari tadi diam pun akhirnya bersuara. Ia bangun dan merangkul pundak istrinya hingga menempel padanya. Sabil pun menoleh kearah sang suami, aneh Andra berbicara pada suster Jane tapi matanya menatap dirinya. Seolah enggan menatap orang yang sudah berani berbicara lantang pada sang istri dan berani menuduhnya.


"Maaf tuan muda, saya tidak ber..."


"Kau bisa keluar, aku menghormatimu karena sudah merawat mommy ku dengan baik selama ini. Tapi tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti hati istriku." Memotong ucapan suster itu dengan cepat. Kemudian berbicara penuh penekanan dan tetap menatap istrinya penuh keteduhan.


"Sudah sayang." Ujar mom Rahmi pada putranya lalu beralih menatap suster Jane, "Terimakasih sus nanti aku minum obatnya." Mengusir dengan halus.


Suster Jane mengerti akan ucapan mom Rahmi, ia pun segera undur diri. Tangannya mengepal kuat dibawah lalu wajahnya berubah penuh kebencian setelah keluar dari ruangan itu. Usahanya seakan sia-sia selama ini.


Aku tidak akan menyerah, ini hanya awal. Masih banyak waktu untukku mengambil semuanya yang seharusnya menjadi milikku. Tak akan aku biarkan kalian bertahan lama. Geramnya entah pada siapa.


°°°


Xiexie.


Besok awal bulan yuk gencarin tangan kalian untuk pencet tombol likenya, yang masih punya sisa-sisa vote bolehlah kasih ke Sabila.


Dikasih bunga bertebaran juga author mau, apalagi dikasih kopi.


Wkwkwk...


Big love untuk kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2