
°°°
"Hai sayang..."
Uhuk, uhuk.
Seketika suara merdu Shila membuat Alex menyemburkan minuman yang baru saja disesapnya.
"Rupanya kau disini." Ujarnya tanpa bersalah.
Baru saja Alex senang, karena ia berhasil menghindari gadis yang kini sudah duduk di depannya.
Shila menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Kau!!!" Alex geram.
"Apa yang kau makan? Seperti nya enak."
Shila memindahkan makanan yang sedang Alex makan ke hadapannya. Tanpa peduli sang pemilik wajah, sudah seperti ingin menumpahkan emosinya.
Alex mengusap wajahnya, "Kau kan bisa memesannya sendiri," ujarnya.
"Tidak, punyamu terlihat lebih enak."
Gadis itu menikmati makanan berkuah panas, dengan bulatan daging yang di campur tepung di dalamnya.
"Bakso nya enak. Aku kenyang..."
Alex memutar bola matanya malas, ia yang tadinya begitu lapar malah makanan nya di habiskan begitu saja.
Sruuuppp....
Tak hanya makanan, kini minuman itu pun ikut habis tak tersisa.
"Terimakasih sayang, aku kembali ke kelas dulu." Sungguh sudah menjadi kebiasaan nya, sekarang Shila sangat suka membuat Alex kesal.
Shila pergi dengan tersenyum puas.
Alex hanya mengendus kesal.
Di tempat lain.
Andra pun tersenyum puas, karena akhirnya ia melihat wajah Sabila. Setelah seharian ini ia terus merasa ada yang kurang.
"Dimana Alex? Yang lain udah siap." Seru Reza.
Mereka kini sudah bersiap untuk pertandingan basket antar kelas.
Seperti biasa Andra akan mengabaikan yang lain, dia keluar dari ruang ganti dengan kaos olahraga tanpa lengan. Menampakkan otot lengannya yang keras dan besar.
Pemandangan itu sangat di nantikan para siswi yang setia menjadi penonton tim basket sekolah. Jeritan kagum, lengkingan memuja mereka lontarkan. Mereka akan memuaskan mata mereka hari ini, karena mungkin ini hari terakhir mereka bermain basket.
Ya karena besok adalah hari pengumuman kelulusan.
Alex datang dengan muka kusutnya.
__ADS_1
"Dari mana kamu, kenapa mukamu?"
Tanya Reza.
"Apa lagi, tuh...!"
Alex mengarahkan pandangan nya pada sekelompok gadis cantik, yang tampak menonjol dari yang lainnya di pinggir lapangan.
Itu Genk nya Shila dan kawan-kawan, sekelompok gadis yang terdiri dari empat orang. Mereka juga cukup terkenal di sekolah, mereka lumayan cantik, mungkin juga karena penampilan mereka yang Wahh.
"Kenapa tidak kamu putuskan aja si dia?"
Reza yang sudah bosan melihat temannya menggerutu, ia heran kenapa masih juga mempertahankan hubungannya itu.
"Apa kau tau, ayahku sangat menyukai gadis itu. Ayah tau aku berpacaran dengan nya, lalu begitu tau dia anak teman lamanya, ia langsung melarang ku menyakitinya."
"Waahh jadi kau akan menjadikannya istrimu.. peffttt...."
Reza terkekeh, malang sekali nasib temannya.
"Tidak... Lulus sekolah saja belum, main nikah aja."
"Sedang apa kalian! cepat!"
Teriak sang kapten. Teman yang lain sudah bersiap dan pemanasan dari tadi, tapi mereka berdua masih saja menggosip.
Rani yang sedang berjalan berdua dengan Sabil pun ikut tertarik dengan keriuhan yang terjadi.
"Sabil, liat kakak kelas main basket yuk, sebentar."
"Kak Dion bisa cemburu jika melihatnya."
Sabil pasrah saja saat Rani menariknya untuk melihat para kakak kelas sedang bermain basket. Ehh tunggu... itu berarti ada kak Andra juga.
Entahlah semenjak Sabil tau Andra adalah putra dari mom Rahmi ia sedikit canggung bila bertemu.
Namun sudah terlanjur, kini ia berdiri di bagian depan, Rani dengan gesit menerobos kerumunan para siswi di sana.
Aku harap ia tak melihat ku, pikir Sabil. Tapi mana mungkin juga ia melihat ku, sedangkan di sini banyak sekali gadis gadis cantik.
Sabil yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Rani sudah berteriak histeris bersama para siswi yang lain. Otot-otot lengan para pemain basket terpampang nyata di depan. Baju yang menempel pada otot tubuhnya, terlihat semakin s*ksi.
Tentu saja baju yang basah akibat keringat dari pembakaran lemak di tubuh.
Para pemain memainkan permainan nya dengan cantik, suara riuh para penonton di pinggir lapangan membuat mereka lebih bersemangat. Namun tidak dengan Andra, ia seperti tak melihat para gadis itu.
Andra selalu fokus pada permainan nya.
Jeritan semakin kencang tak kala sang kapten berhasil menembakan bola pada ring nya.
"*A**aaa.... Andra keren."
"Aku mau mengusap keringat nya."
"Seandainya dia mau minum minuman yang aku bawakan*."
__ADS_1
Sabil membulatkan matanya, Ya kak Andra memang sangat tampan wajar saja jika gadis gadis akan tergila gila padanya.
"Hebat bro..." puji para teman satu timnya.
Andra sedikit tersenyum menanggapi nya.
Lalu tak sengaja matanya bertemu, dengan mata gadis manis yang berdiri di antara banyaknya penonton.
Entah dorongan dari mana Andra mendekatinya. Ia terus berjalan ke arah para penonton, membuat suasana semakin ricuh karena nya. Dan sekali lagi Andra tak perduli, ia hanya fokus pada kemana arah matanya memandang.
Hawa dingin mulai terasa di sekitar Sabil. Lapangan yang tadinya ramai mendadak berubah mencekam, para gadis mulai menatap Sabil.
*Siapa gadis itu.
Bagaimana kapten kita bisa memperdulikannya.
Wajahnya biasa saja tak begitu cantik*.
Bisikan bisikin itu tentu terdengar ke telinga Sabil. Ia pasrah, dan seketika kesal dengan lelaki yang kini ada di hadapannya.
"Kenapa kau disini?"
"Hah...?" Sabil sedikit menautkan alisnya, dahinya berkerut bingung.
"Disini begitu panas, pergilah ke sana jika ingin menonton." Ujar Andra lagi, sembari menunjuk kursi peristirahatan para pemain. Yang pasti tidak panas, dan tidak berdesakkan.
Sabil masih belum mengerti rupanya. Rani yang melihat nya pun tersenyum, ia segera menyenggol lengan Sabil untuk menyadarkan sahabat nya itu.
"Ok kak, kami akan kesana." Sahut Rani cepat.
"Bagus, gadis patuh."
Sebelum pergi Andra sempat mengusap pucuk kepala Sabil sebentar. Dan pemandangan itu sukses membuat mata para gadis di sana melotot.
Rani yang merasa suasana begitu mencekam pun segera menarik Sabil menjauh dari kerumunan. Mereka berjalan menuju tempat yang tadi di tunjuk oleh Andra.
"Rani, kita pergi saja yuk. Apa kamu tak lihat tatapan mereka seperti singa kelaparan."
Sabil merinding sendiri membayangkan bagaimana jika mereka semua mengamuk.
"Tunggu selesai, tadi kan kak Andra menyuruh kita lihat dari sini."
Dengan terpaksa Sabil masih diam di sana. Mau pergi sendiri pun ia merasa tak aman, bagaimana jika mereka menghadangnya nanti.
Ia sudah tak bisa fokus lagi menonton, pikirannya tertuju pada tatapan permusuhan dari para gadis di sana.
Kenapa juga kak Andra nyamperin aku segala.
"Ehh ngomong ngomong sejak kapan kalian dekat?" Tanya Rani penasaran.
"Bukankah aku sudah bilang pada mu, jika kak Andra adalah putra dari pelanggan kue ayah."
"Tapi aku tak menyangka jika kak Andra akan melakukan hal seperti tadi."
Rani senyum senyum sendiri, ia merasa antara Sabil dan Andra bukanlah hal biasa. Tatapan mata Andra saat melihat Sabil terlihat begitu teduh.
__ADS_1
°°°
Xiexie