
...
Seorang wanita paruh baya, setiap harinya selalu memandang sebuah bingkai berdinding kaca.
Tatapan yang begitu dalam, penuh luka dan rindu bercampur menjadi satu.
Tidak ada air mata, tapi entah kenapa tatapan itu justru terlihat begitu menyayat bagi sang kekasih hati.
"Sayang, bersabarlah," hanya itu yang mampu ia ucapkan,
Hanya senyuman yang ia perlihatkan, senyuman yang begitu menyayat jiwa.
Entah apa lagi yang harus ia lakukan untuk sang kekasih hati. Hanya satu yang mampu mengembalikan kebahagiaan sang istri. Yaitu maaf dari sang buah hati.
Sepuluh tahun berlalu tak lantas membuat Andra melupakan kesalahan sang Mommy. Luka yang ditorehkan pada anak yang pada saat itu berumur delapan tahun sangat membekas di hati.
Flashback
Rahmi Dewi Wijaya, putri tunggal keluarga Wijaya. Seorang model yang cukup terkenal di masa itu.
Diperistri putra sulung keluarga Adiguna, karena perjodohan orang tua.
Meski pernikahan mereka bukan karena cinta, tak lantas membuat mereka tersiksa. Sang suami begitu mencintai istrinya. Tak pernah mengekang, istrinya bebas untuk berkarir.
Tapi semua tak berjalan sesuai harapannya, setelah lahirnya buah hati mereka. Semua berubah, mereka mulai sibuk dengan dunianya masing-masing.
Perusahaan Adiguna company yang dulu belum sebesar sekarang, membuat ayahnya begitu sibuk dalam mengembangkan perusahaan. Berangkat pagi, pulang malam bahkan tak jarang juga bolak balik keluar negeri.
Membuat hubungan yang awalnya memang tak begitu dekat, menjadi semakin menjauh. Daddy Ray semakin tak mengenal istri nya. Terkadang ia melihat sang istri mengabaikan anak mereka. Sibuk bersosiallita, dan memang karirnya yang sedang meningkat.
Daddy Ray mencoba mengerti, mungkin istrinya jenuh dan lelah karena dirinya begitu sibuk dengan pekerjaan. Jadi ia membiarkan saja istri nya mencari kesibukan, dan bermain bersama temannya.
Namun kebebasan itu tak lantas membuat seorang Rahmi Dewi merasa cukup. Ia terus saja melanggar batasan seorang istri, ia mulai tak peduli dengan putranya. Tak lagi menunaikan kewajiban seorang istri, mulai terbuai oleh indahnya belenggu duniawi.
Setiap hari seorang anak kecil yang seharusnya pendapat perhatian dan kasih sayang, hanya dihadapkan dengan pertengkaran kedua orangtuanya.
"Maafkan Daddy nak, Daddy janji setelah perusahaan stabil, Daddy akan memperbaiki semuanya."
Hanya kata itu yang ia dengar setiap harinya,
__ADS_1
Jika kalian tanya apa anak itu mengerti? Tentu saja tidak, anak kecil sejatinya hanya tau bermain. Ia tak butuh harta benda, ia butuh diperhatikan, didampingi, dan diberi kasih sayang.
Semakin hari tidak ada yang berubah dari orang tuanya itu. Perusahaan sang Deddy yang kain membesar tak lantas memberinya kepuasan. Makin hari dirinya semakin sibuk, tak pernah lagi menyapa apa lagi bercerita.
Pagi pergi sebelum putranya bangun, dan malam pulang tak tau waktu. Dan jangan tanya apakah Mommy nya kini bahagia karena hidup bergelimang harta? Jawabnya tidak. Ia sudah terlena oleh dunia, jarang di sentuh suaminya menjadi alasannya.
Sang Mommy sudah terlalu jauh melewati batasannya. Keluarga bukan lagi utamanya.
Kini ia terlena hangatnya belaian lelaki di luaran sana.
Putranya kini mulai mengerti, seiring bertambahnya usia. Tak pernah mendapat kehangatan, di dalam rumahnya, membuat nya menjadi lelaki yang tak tersentuh. Lebih suka menyendiri, lebih suka ketenangan.
Jika banyak yang iri jika ia mempunyai Daddy yang hebat, Mommy yang terkenal maka ia lebih memilih tak mempunyai itu semua.
"Mommy, bisakah besok kau ke sekolah?"
"Besok akan ada pertunjukan dari para siswa untuk orang tuanya ," tanya Andra pada Mommy nya, ya sangat jarang sekali ia bisa sarapan bersamanya. Sebenarnya ia ragu untuk bertanya, yang pasti sudah tau jawabannya.
"Mommy tidak bisa, kau tanya Daddy mu saja," ia bangkit setelah menyelesaikan sarapannya. Hendak pergi dan entah kapan akan kembali.
"Mommy, bisakah kau tak bekerja lagi? Bukankah harta Daddy banyak, apa itu tak cukup untuk Mommy??" tanya Andra memberanikan dirinya, ia sungguh ingin keluarga nya kembali normal.
"Tentu harta Daddy mu sangat cukup untuk Mommy, tapi ada yang Daddy tak bisa berikan untukku."
"Daddy mu kini terlalu sibuk dengan pekerjaan,"
"Kau adalah anak yang hebat nak, maaf Mommy tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk mu, mungkin kau berharap tak pernah lahir dari ibu seperti ku." wanita itu memeluk putra nya, baru sekarang ia kembali merasakan pelukan sang Mommy, bahkan ia lupa bagaimana pelukan seorang ibu.
Malam harinya Andra mencoba menemui Daddy nya, entah lah ia tau Jawabannya pasti sama saja. Ia janji ini yang terakhir, tak akan lagi ia meminta apapun pada kedua orang tuanya.
tok,tok,tok
Andra mengetuk pintu ruang kerja sang Daddy,
"Masuk," terdengar sahutan dari dalam sana.
Perlahan iya masuk menghampirinya,
"Apa Daddy sibuk?" tanyanya, setelah berdiri agak dekat meja kerjanya.
__ADS_1
"Tidak nak, ada apa? apa kau mau sesuatu? uangmu habis?"
"Tidak Dad, ada yang ingin aku tanyakan, Bisakah kau datang ke sekolah besok? akan ada pertunjukan dari para siswa untuk orang tuanya."
"Besok Daddy ada meeting nak," jawabnya tanpa menoleh, ia masih sibuk dengan tumpukan kertas di depannya.
"Apa uang Daddy masih kurang? Kenapa masih saja tak mempunyai waktu untukku." lirihnya
"Kapan Daddy akan membuat Mommy berubah, bisakah Daddy memperhatikannya, aku sudah lelah melihat keluarga kita seperti ini,"
Daddy tak marah sama sekali dengan apa yang putranya katakan, ia justru senang kini putranya mengerti dengan keadaan keluarganya.
"Sini nak mendekatlah, Apa kau tau tindakan Mommy mu sudah terlalu jauh. Daddy tau apa saja yang dilakukannya setiap hari, Daddy selalu menyuruh orang untuk mengawasi nya."
"Mungkin kau bertanya apa Daddy tak pernah mencoba berbicara padanya. Tentu saja pernah, Daddy selalu memberikan apa yang dia mau. Bukan Daddy sengaja mengabaikan kalian, tapi dengan bekerja Daddy bisa sedikit mengurangi kekecewaan Daddy."
"Kau masih terlalu kecil untuk tau semua itu, Daddy harap kau tumbuh dengan baik. Dan jangan pernah membenci Mommy mu kelak jika tau semua itu."
Tak ada kebohongan di matanya, hanya ada tatapan kekecewaan dari sorot matanya. Apa yang sebenarnya Mommy lakukan hingga Daddy yang begitu hebat pun di buatnya seperti ini.
"Jika besok meeting cepat selesai, Daddy akan mengunjungi mu di sekolah," ucap sang Daddy sambil mengusap kepala putranya.
,,,
Pagi harinya ia seperti biasa berangkat sekolah, hanya diantar sang sopir.
Ia memandang keluar jendela dilihatnya seorang anak yang sedang tertawa bersama orangtuanya. Apa dia iri, tentu saja. Siapa yang tak ingin menikmati hangatnya sebuah keluarga.
Pengumuman guys
Author ada novel baru tapi di akun yang beda. Cari di pencarian ya.
Judulnya Bersabar Dalam Luka Perjodohan
Nama penanya Three ono
Jan lupa kasih dukungan juga.
__ADS_1
Xiexie