Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab82 Terjangkit Virus


__ADS_3

°°°


Seminggu berlalu.


Andra begitu sibuk menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera terbang menyusul sang Mommy. Ia frustasi sendiri jadinya, sudah seminggu ini lembur sampai larut malam tapi masih banyak juga pekerjaannya.


Rindu yang menggunung pun rela Andra tahan agar bisa fokus pada pekerjaan. Padahal terkadang hati dan pikirannya tidak sejalan. Otaknya mikirin kerjaan tapi hatinya merindu calon istrinya.


Berkali-kali Andra mengacak-acak rambutnya.


Kapan bisa selesai ini semua, maafkan aku Sabila. Kamu pasti sangat merindukanku kan.


Sabar ya sayang...


Aneh memang, bukannya dia sendiri yang rindu.


Sabila POV


Haacciii....


"Kenapa tiba-tiba jadi dingin," gumam Sabil mengusap-usap kulit tubuhnya yang terasa dingin.


POV end


"Ton, ke ruangan ku sekarang," perintah Andra pada assistennya lewat sambungan telepon kantor.


Toni yang diperintah oleh atasannya pun segera menghadap. Ia bergegas takut ada hal penting yang ingin atasannya sampaikan.


Tok, tok, tok


"Masuk Ton." Sahut Andra cepat.


Sang asisten pun segera masuk setelah mendapat ijin.


"Anda memanggil saya tuan," ujar Toni setelah berdiri di depan meja kerja Andra.


"Ton, apa pekerjaanku masih banyak?"


Kenapa anda tidak sabaran tuan, biasanya juga anda yang paling rajin bekerja tanpa mengenal lelah.

__ADS_1


"Aku sudah sangat rindu dengan kucing manis ku, Ton."


Oh jadi ini alasan anda tidak sabaran, sudah berapa kali anda memanggil saya hari ini hanya untuk bertanya pekerjaan masih banyak atau tidak.


"Bagaimana ini Ton? Apa tidak bisa saya langsung tanda tangani saja agar cepat selesai."


Terserah anda saja tuan, toh dulu sudah saya ingatkan kalau semua berkas yang masuk kemari sudah saya periksa dengan teliti tapi anda sendiri yang bersikeras ingin menelitinya lagi.


"Bagaimana kalau Sabil rindu padaku Ton? Kasihan dia jika menahan rindu."


Ya ya terserah anda saja.


"Ton, kenapa kau diam saja?" Andra kesal sendiri karena diabaikan oleh bawahannya.


"Maaf tuan muda, kalau anda terus saja memanggil saya bolak-balik kemari bukannya pekerjaannya akan semakin menumpuk?" Lelah Toni menghadapi virus baru yang menyerang tuan mudanya.


Virus rindu sepertinya telah menguasai hati dan pikiran anda tuan.


"Apa kau sedang menyalahkan ku, Ton?" Andra mendelik tajam menatap assistennya.


"Saya tidak bermaksud tuan."


Jangan sampai anda melampiaskan amarah anda pada saya tuan. Sepertinya hanya nona Sabil yang mampu membuat anda normal kembali.


Percuma saja tuan, yang anda butuhkan hanya nona Sabil saat ini.


"Apalagi Ton... Cepat keluar." Kesal Andra.


Bukannya anda yang tadi menyuruhku kemari, membuang waktu saja.


"Saya permisi tuan..." Ujar Toni yang kewalahan menghadapi atasannya sekarang.


"Hmmm...."


Toni pun segera berjalan keluar tapi entahlah kenapa ia tiba-tiba berbalik lagi dan mendekati meja kerja Andra.


Andra yang sadar sang assisten kembali pun menatap heran.


"Maaf tuan, sepertinya saya punya saran."

__ADS_1


"Katakan!" Ujar Andra datar dan menatap tajam. Seakan mengatakan jika saran yang diberikan assistennya itu tidak bagus maka bersiaplah terima akibatnya.


Dengan susah payah Toni menelan ludahnya sendiri, tenggorokannya tiba-tiba mengering. Ia merutuki kebodohannya sendiri, kenapa ia sampai berani memberikan saran pada atasannya. Kalau tentang pekerjaan sudah pasti Toni tidak kesulitan, tapi kalau urusan asmara ia lebih baik memilih angkat tangan saja.


"Jadi saya akan memilah-milah berkas yang penting dan mendesak saja, lalu berkas yang waktunya masih lama anda bisa mengurusnya nanti setelah urusan anda selesai," Ujar Toni dengan yakin meski kakinya sedikit bergetar.


Hening.


Andra tampak memikirkan apa yang Toni katakan, seraya mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja. Sesekali mata elang itu menatap tajam pada assistennya. Seperti singa yang sedang mengintai mangsanya.


Tuk.


Sang tuan muda menjatuhkan bolpoin di tangannya. Lalu menyenderkan punggungnya pada kursi dan matanya terpejam.


Apa yang sedang anda pikirkan tuan muda? Jangan membuat saya takut.


Pikiran Toni sudah tidak tenang.


"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang," ujar Andra dengan mata yang masih terpejam.


Cepatlah tuan, anda setuju kan.


Toni terus saja menggerutu dalam hati, dia tidak mungkin berani berkata langsung karena Andra sangat berjasa di hidupnya.


"Aku rasa ide mu lumayan juga. Baiklah cepat kau pilih berkas yang mendesak saja agar aku bisa segera menandatangani nya." Tuan muda kembali bersemangat rupanya.


"Baik tuan, saya akan segera mengerjakannya. Saya permisi."


Toni berbalik dan segera keluar dari ruangan CEO nya itu. Kali ini ia benar-benar keluar tak ingin mengulangi kebodohannya. Yang mana membuatnya tak karuan karena takut tuan mudanya marah.


Lelaki yang tadi murung dan lesu kini mood nya sedikit membaik. Membayangkan bisa bertemu calon istrinya membuat bibirnya sedikit terangkat. Masalah pernikahan sudah siap sebenarnya, dokumen nikah juga sudah jadi tinggal mengucap janji suci di di depan yang maha pencipta, tapi karena kesibukan Andra membuat itu semua di undur.


Andra mengambil ponsel yang tergeletak di meja lalu menyalakan layarnya.


°°°


Xiexie


Terimakasih atas dukungan dari kalian.

__ADS_1


Jangan lupa ajak yang lain untuk baca juga ya...


ngarep nih othornya.


__ADS_2