
°°°
🎶
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh
'Tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku
,,,
Biarlah lagu dari Adera itu mewakili perasaan sepasang manusia yang kini saling membisu saat ini.
Kelap kelip lampu jalan yang ada di malam ini, mewarnai perjalanan Andra dan Sabila.
Jangan tanya kelap kelip bintang ya... Di ibu kota yang penuh dengan bangunan dan kendaraan, cenderung tak bisa menikmati indahnya bintang di malam hari. Jika malam hari kota akan terlihat “bersinar” akibat cahaya lampu yang berasal dari setiap sudut jalanan hingga bangunan di kota. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya polusi cahaya
"Apa kau lapar?"
Suara Andra memecahkan keheningan.
"Hah... Hmm sedikit kak." Jawab Sabil.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita makan dulu. Apa ada yang ingin kau makan?" Tanya Andra lagi, namun sekarang sedikit menoleh ke arah Sabil karena saat ini tepat berada di lampu merah.
"Apa saja kak."
"Apa kau ada alergi makanan?" Tanya Andra lagi memastikan.
Sabil menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Baguslah, aku ingin makan seafood. Kau tidak keberatan?"
Sabil hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum di wajahnya.
Andra melajukan kembali mobilnya, setelah lampu lalu lintas itu berubah hijau.
Ia berbelok ke arah di mana terdapat banyak terdapat warung-warung yang menyajikan kuliner di malam hari.
Andra berhenti di depan salah satu warung tenda yang lumayan besar dan ramai pengunjung.
"Ayo kita makan di sini," ajaknya.
"Tempatnya lumayan ramai, tapi di jamin enak. Kau tidak apa kan?" Andra terlihat begitu senang, sudah lama ia tak makan seafood kesukaannya.
"Iya kak." Jawab Sabil.
Mereka memasuki tenda itu, memilih tempat duduk yang kosong di sana.
Sabil merasa sedikit heran, ternyata Andra mau makan di pinggir jalan seperti ini. Aku kira para orang kaya hanya suka makan di restoran mewah saja.
Andra mulai memesan apa saja yang di inginkan nya. Tak hanya satu menu tapi beberapa macam menu yang berbeda ia pesan.
"Apa ada yang lain, kau ingin makan yang lain?" Tanya Andra memastikan, karena sedari tadi Sabil hanya menurut saja saat ia menawarkan beberapa menu kesukaannya.
"Tidak kak ini saja."
__ADS_1
Sabil tak begitu tahu jenis makanan diluar, karena ayahnya selalu memasak untuknya. Dan ia pun jarang sekali berwisata kuliner, ia hanya makan di luar sesekali jika Rani dan Dion mengajaknya pergi. Itupun menurut Sabil masih enakan masakan ayahnya.
Kini mereka memainkan ponselnya masing masing, sambil menunggu masakan yang tak kunjung datang. Mungkin karena begitu banyak pengunjung, maka kita harus bersabar, kita harus membudidayakan antri ya...
Sesekali Sabil mendengar beberapa pengunjung membicarakan lelaki yang saat ini duduk di depannya itu. Ya... mau bagiamana lagi, wajah tampan, hidung mancung, mata coklat, badan tinggi, garis rahang yang tegas. Siapa yang melihat pasti ingin menghambur ke pelukannya.
Seketika Sabil dan Andra menjadi pusat perhatian di sana. Sabil risih, tentu ia tidak terbiasa di perhatikan banyak orang.
Tidak dengan Andra, ia seperti biasa acuh terhadap para gadis yang menatapnya kagum.
"Apa kau sudah lama berteman dengan Dion dan Rani? Kalian cukup dekat."
Tanya Andra mengalihkan perhatian, ia melihat Sabil yang merasa tak nyaman saat ini.
Sabil mengalihkan pandangan nya dari layar ponselnya. "Aku tidak pandai berteman, hanya Rani yang dekat dengan ku dan aku pun merasa nyaman di dekatnya. Awalnya kami juga tak dekat, tapi entah kenapa sampai saat ini kami sangat dekat. Kak Dion dan Rani sudah berteman sejak kecil, dan kak Dion suka sekali mengekori nya. Karena itu kami juga dekat." Jelas Sabil.
Andra mendengarkan dengan seksama apa saja yang Sabil ceritakan. Rupanya gadis itu lumayan suka berbicara juga, tapi harus di pancing terlebih dahulu.
"Apa sekarang aku termasuk temanmu?"
"Hah..." Sabil bingung harus menjawab apa. Apa berteman juga harus mengikrarkan status seperti status pacaran dan yang lain.
Menurut Sabil semua orang bisa berteman, ya... sederhana sekali pemikiran gadis itu. Ia tak tau saja jika terkadang ada juga berbagai macam teman, ada teman dalam selimut, teman di balik batu, teman berbulu domba, dan ada juga teman jenis karnivora... apa coba? Ya teman makan teman.
Seorang pelayan menghampiri mereka, dengan sebuah nampan berisi beberapa piring makanan. Rupanya pesanan mereka sudah selesai di buat. Harum bumbu yang bercampur seafood segar memanjakan hidung siapa saja.
"Selamat menikmati..." Kata si pelayan pria tadi setelah meletakkan piring piring yang di bawanya ke meja di tengah Andra dan Sabil.
"Ayo makan." Ujar Andra.
Mereka menikmati makan malamnya, sesekali Andra membantu Sabil mengupas udang dan kepiting.
°°°
__ADS_1
xiexie