
°°°
Sabil masih mengatur nafasnya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan menenangkan jantungnya yang memompa lebih cepat.
Kejadian barusan benar benar membuat organ dalamnya tidak sehat. Ya Sabil masih mematung di tempat ia berdiri tadi.
Benar kata orang wajahnya sangat tampan, trus tadi apa, dia tersenyum.
Sudah Sabil kenapa kau ini.
Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Flashback
"Terimakasih kakak kelas," Sabil menerima buku itu, namun ia kembali menunduk.
"Andra,, namaku Andra."
"Iya,..." Sabil mengangkat kepalanya, iya sedikit bingung dengan ucapannya.
"Panggil aku Andra," jelasnya lagi.
"Iy..iya terimakasih kak Andra."
"Gadis pintar," Andra tersenyum.
"Eehh... ya,"
Andra pergi begitu saja meninggalkan gadis yang masih mematung di tempat.
Flashback off
Manis sekali wajahnya itu, saat sedang gugup.
Tak terasa ia terus tersenyum saat mengingat kejadian di perpustakaan.
"Lihatlah wajah tuan muda kita, apa barusan ia tersenyum." Ledek Alex tiba-tiba.
"Ya aku juga melihat nya," Reza menyahut.
"Apa ada yang tidak kami tau An?"
Dua sahabatnya yang sudah kembali ke kelas tampak heran dengan Andra yang memang jarang tersenyum. Mereka terus memberondongnya dengan pertanyaan.
"Apa karena seorang gadis?" seloroh Alex tiba-tiba. "Wahh kayaknya sebentar lagi ada yang melepas status abadinya."
"Bener An?" Reza ikut penasaran.
"Siapa gadis yang bisa membuatmu senyum senyum sendiri seperti ini," Reza semakin penasaran.
Andra sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan mereka, biarlah mereka terus bertanya-tanya.
,,,
Sedangan Sabil juga sudah di kelasnya saat ini.
Ia memperhatikan kedua sahabatnya. Yang satu tampak membujuk dengan dua ice cream di tangannya, sedangkan yang satu lagi masih setia dengan adegan merajuknya.
"Kalian semakin terlihat seperti sepasang kekasih," ujar Sabil menggoda mereka.
"Aku tidak akan mau mempunyai kekasih gadis manja seperti nya,"
"Begitu kah, kalau begitu kakak bisa kembali ke kelas kakak."
"Tidak usah repot-repot membujuk gadis manja seperti ku." Rani semakin kesal.
Sepertinya Andra telah salah bicara, ia semakin merasa bersalah. Niat hati hanya menggodanya saja.
"Baiklah, nanti pulang sekolah kakak menunggu di parkiran," ucapnya sebelum pergi, dan sempat mengacak rambut Rani sebentar.
"Huuhhh dasar tidak peka! Emang aku anak kecil apa di bujuk pakai ice cream!"
" Apa lagi ini, rambut ku jadi berantakan,"
"Apa dia tidak bisa melihat ku sebagai seorang gadis,"
Sabil geleng-geleng kepala melihat nya, Rani nampak kurang puas dengan bujuk rayu Dion.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak katakan langsung saja,"
Sabil memberi saran.
"Tidak !!! Aku kan cewek masa harus mengungkapkan perasaan duluan." Rani menolak.
"Bukan, maksudku kamu katakan pada kak Dion. agar dia tak selalu memperlakukanmu seperti adik kecilnya."
Rani memikirkan apa yang sahabatnya katakan, apa benar ia harus bilang pada kak Dion. Agar dia mulai memperlakukannya seperti seorang gadis.
,,,
Di dalam mobil,
Setelah beberapa saat tadi sempat terjadi adegan penolakan, akhirnya Rani mau pulang bersama Dion.
"Kak Dion.. "
"Ya,,"
"Bisakah kak Dion tak menganggap ku, anak kecil lagi. Aku sudah cukup dewasa, lihatlah aku sudah besar,"
ucap Rani menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu kakak tau kau sudah besar," sahut Dion tertawa.
"Ihhh kak Dion..!!"
"Kakak seharusnya memperlakukanku seperti seorang gadis," kesal Rani, sambil melipat kedua tangannya didepan.
Dion masih tertawa, namun kemudian iya menepikan mobilnya.
Kini menghadap sang gadis kecil nya, raut wajahnya berubah serius. Menatap nya dalam, mencoba menyalurkan segala apa yang dirasakannya. Berharap gadis itu tau kalau ia sangat menyayanginya sedari kecil, sejak pertemuan awal mereka. Dan sekarang perasaan itu semakin tumbuh, menjadi perasaan takut. Takut kehilangan, takut berjauhan, dan takut bila gadis itu tak lagi membutuhkannya untuk disampingnya.
"Kakak tau Ran, kamu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik."
"Kamu bukan lagi gadis yang akan berlari ke belakang punggungku bila menangis, kamu sudah bisa menghadapi masalahmu sendiri."
"Karena itulah kakak masih memperlakukanmu bak gadis kecil yang akan selalu ku lindungi, karena kakak terlalu takut..."
"Kak Dion takut apa??"
Dion menghirup nafas panjang,
"Kakak takut kau tak lagi membutuhkanku, takut kau menjauh, takut kau..."
Rani masih menunggu apa yang akan laki laki itu katakan.
"Takut kau dekat dengan lelaki lain, kakak tidak tau kenapa. Setiap kali ada laki-laki yang mencoba mendekati mu, aku seperti tak rela melihatnya,"
"Kakak cemburu?" potong Rani.
"Aku tidak tau, aku baru pernah merasakannya."
"Artinya kakak mencintai ku??"
Dion terdiam, apa benar ia mencintainya. Memang ia sangat menyayangi Rani, tapi kalau cinta?? entahlah ia saja belum pernah berpacaran.
"Aku juga mencintai kakak." ucap Rani, tak ada keraguan saat ia mengatakannya.
"Kak, kak Dion.."
Ia melambaikan tangannya di depan wajah Dion, karena tak ada reaksi apapun darinya.
Dion membulatkan matanya, ia bingung harus menjawab seperti apa. karena ia pun sama sekali tak berpengalaman dalam urusan cinta.
"Yaa..."
"Ayo kita segera pulang,"
Katanya, membuat gadis di sampingnya kecewa.
"Kakak belum menjawab pernyataan cinta ku," lirihnya, namun Dion masih bisa mendengarnya.
Suasana hening menyelimuti perjalanan pulang mereka. Rani begitu kecewa sekaligus malu, bagaimana ia akan menghadapi Dion setelah ini.
Ciiittt
__ADS_1
"Aku turun dulu kak, terimakasih." ucap Rani dengan nada yang tak bersemangat.
Namun belum sempat ia membuka pintu mobil, Dion segera menarik lengannya. Alhasil Rani menabrak dada bidangnya.
"Kakak juga mencintai mu," ucapnya.
Seketika hati Rani berbunga, pipinya bersemu merah. Ia masih tak percaya, perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.
Langsung saja ia menghambur memeluk lelaki yang dicintainya.
Dion cukup kaget, lalu ia segera membalas pelukan gadisnya.
Setelah cukup lama berpelukan, akhirnya mereka melepaskan pelukannya. Keduanya tampak malu, pipi Rani semakin memerah. Sedangkan Dion, lebih bisa mengontrol dirinya.
"Apa artinya sekarang kita berpacaran?" tanya Rani dengan polosnya, ya cinta memang membuat orang tak bisa berfikir.
Dion menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Tapi bisakah kita merahasiakannya dari Sabil dulu?" Pinta Rani pada Dion.
"Mmmm aku hanya malu kak."
"Apa kau yakin Sabil tak akan tau, ku rasa dia cukup pintar dalam menganalisis keadaan."
kata Dion.
"Ya tapi biar aku saja yang memberitahunya, jika sudah siap, please??"
ucap Rani sambil mengatupkan kedua tangannya memohon,
"Ok kak," kini iya memasang wajah manisnya.
"Baiklah, terserah kau saja,"
Dion pun mengalah, ya dia paling tidak bisa menolak bujukan gadis itu.
•••
Haacciii...
"Apa ada yang sedang membicarakan ku,"
Sabil bertanya tanya,
"Kau kenapa nak, apa kau sakit?" tanya ayah Mul, yang membawa satu nampan kue yang baru keluar dari ovennya.
"Tidak yah, hanya tiba tiba merasa dingin saja."
"Kau istirahat saja kalau lelah nak, ayah bisa melakukannya sendiri."
"Aku tak apa ayah," ucap Sabil meyakinkan, kemudian ia meraih nampan itu dan menata kue kue cantik itu di lemari kaca di depannya.
Ting...
Seorang pelanggan datang,
"Selamat datang nyonya, apa kau akan membeli kue yang seperti biasa?"
tanya Sabil saat melihat siapa yang datang.
"Iya.. tapi tolong bungkus kan kue kue yang lain juga. Aku akan membawanya untuk anak-anak panti,"
"Sepertinya wajah nyonya terlihat sangat cantik hari ini,"
Wanita itu tertawa, "Kau pandai sekali memuji."
"Sungguh nyonya kau terlihat lebih cantik dan mengeluarkan aura yang sangat positif."
"Kau benar, karena sekarang putraku telah kembali."
°°°
Maafkan jika banyak typo ya..
harap maklum masih tahap belajaran.
Xiexie
__ADS_1