Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab58 Harapan Ayah


__ADS_3

°°°


Gadis cantik dengan rambut yang sudah panjang tapi enggan di potong itu, sedang menata bunga segar ke dalam vas, yang barusan di terimanya dari kurir bunga.


"Bunga lagi?" Ujar Amel dengan senyum menggoda.


"Hmmm..." jawabnya seraya tersenyum. Bahkan wajah dan hatinya kini berbunga-bunga. Walaupun sekarang mereka jarang bertemu namun Andra tak pernah absen mengirimkan bunga untuk pujaan hatinya.


Amel menopang dagunya dan menatap Sabil yang tengah sibuk dengan bunganya. Mereka sudah sangat dekat sekarang, karena Sabil lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Amel. Dua sahabatnya kini sudah sibuk dengan pekerjaannya, Rani yang namanya sudah di kenal sudah pasti jadwalnya kini sangat padat.


"Kenapa kau tidak melamar pekerjaan di perusahaan Adiguna saja," ujar Amel.


"Tidak kak, aku tidak ingin mengandalkan koneksi. Nanti saja jika tidak ada perusahaan yang menerima ku. Hehehe..."


Amel pun ikut tersenyum. Mereka sudah seperti kakak beradik saja. Tanpa canggung akan menegur jika ada yang berperilaku salah.


Dan akan ikut bahagia jika yang lainnya bahagia.


Di sisi lain, pak Mul yang melihat keakraban mereka pun ikut senang. Sekarang hidupnya tak lagi sepi, banyak mempunyai karyawan juga membuatnya merasa di kelilingi banyak kawan. Ia juga bangga anak gadisnya sudah sebesar sekarang, kini tugasnya hanya tinggal mencarikan pendamping yang terbaik dan menikahkannya.


Pak Mul menyandarkan tubuhnya, kepalanya menatap arah bingkai besar yang menempel di dinding ruangannya. Ya beliau sekarang mempunyai ruang sendiri, yang bisa mengawasi toko kue sekaligus cafenya dari sana saja. Ia tersenyum menatap foto istri tercinta nya, rasanya ia sudah sangat rindu.


Menjadi ayah sekaligus menggantikan sosok ibu untuk Sabil dan harus bekerja juga mencari nafkah adalah hal yang tak pernah terbayangkan olehnya. Beban yang di pikulnya amat berat, tapi ia menjalaninya dengan ikhlas demi buah hatinya bersama sang istri. Putrinya adalah satu satunya peninggalan yang amat berharga dari sang istri.

__ADS_1


Lagi-lagi pak Mul tak bisa menahan air mata bila mengingat istrinya, bidadari surga nya.


Klek


Sabil masuk tiba-tiba tanpa mengetuk.


"Ayah..." ujarnya lembut. Ditatapnya punggung sang ayah yang membelakangi nya.


Buru-buru pak Mul menyeka air mata tak ingin putrinya melihat nya menangis.


"Aku membawakan makan siang untuk ayah," ujar Sabil lagi seraya berjalan mendekat kepada ayahnya. Kini ia sudah berada di depan ayahnya, meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja. Lalu menatap lekat wajah yang sudah lama terlihat sendu itu akibat menahan rindu.


Sabil tau ayahnya pasti habis menangis lagi tapi ia tak bertanya. Jawabannya sudah pasti karena mengingat ibunya.


"Ayah makanlah," ujar Sabil sambil mengambilkan nasi dan lauk pauknya ke atas piring kosong.


"Sudah ayah, tadi bersama anak-anak yang lain." Sebutan Sabil pada karyawan ayahnya.


"Ayah harus makan yang banyak agar sehat selalu dan terus menemani ku." ujar Sabil berharap ayahnya selalu ada untuknya.


Pak Mul tersenyum mendengar ucapan Sabil.


"Suatu saat kau tidak lagi bergantung pada ayah nak, kelak kau akan bergantung pada suamimu."

__ADS_1


Segera Sabil menggeleng, "Tidak, aku akan selalu bersama ayah." Tidak bisa ia bayangkan jika ayahnya tiada kelak. Sabil sadar jika ayahnya sudah sangat tersiksa menahan kerinduannya. Bahkan fisiknya pun sudah tak sekuat dulu.


"Kelak kau harus mengikuti suamimu jika sudah menikah."


"Aku tidak ingin menikah jika harus meninggalkan ayah." Tolak Sabil.


"Mana boleh anak gadis berbicara seperti itu. Semua anak gadis akan menikah dan mengikuti suaminya." Pak Mul berusaha memberikan pengertian pada putrinya.


"Bagaimana kelak jika suamiku galak," ujar Sabil yang wajahnya mulai murung.


Pak Mul mendekat dan mengusap lembut kepala Sabil.


"Ayah tidak akan membiarkan lelaki seperti itu menjadi suamimu nak." Pak Mul paham dengan pemikiran putrinya, selama ini Sabil hidup penuh perhatian, kasih sayang dan rasa cinta yang besar yang di berikan ayahnya. Pak Mul melakukan itu semata-mata agar Sabil tak merasa kekurangan kasing sayang dari ibunya yang telah tiada.


"Aku ingin suamiku seperti ayah yang mencintai ibu dan seperti ayah memperlakukan ibu." Ujar Sabil menatap ayahnya.


"Pasti nak, kau akan mendapatkan suami yang bahkan lebih baik dari ayah. Ayah selalu berdoa agar kau bahagia dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi mu." Pak Mul tersenyum pada putrinya, putri satu-satunya yang amat ia sayangi.


"Sekarang ayah makan yang banyak, aku akan menyuapi ayah." Sabil menyuruh ayahnya duduk dan mulai mengambil sesuap nasi lalu menyuapkannya ke mulut sang ayah.


Pak Mul sampai menghabiskan satu piring penuh makanan nya, tentu saja Sabil yang memaksa terus menyuapkan makanan itu sampai habis.


Cinta ayah kepada putrinya memang selalu tampak lebih besar. Bahkan terkadang ibunya akan merasa cemburu pada putrinya.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2