
°°°
Andra berdiam sesaat, sempat membuat Jihan percaya diri. Gadis itu sudah memasang senyumnya. Andra berdiri kemudian meraih tasnya dan pergi begitu saja.
Alex ingin tertawa melihat raut wajah Jihan yang terlihat kesal, tapi ia tahan.
Lucu sekali wajahnya, mana mungkin Andra mau dengan wanita seperti mu.
"Tenang saja Andra memang seperti itu." Alex berakting.
"Iya Lex, makasih."
Jihan langsung pergi menahan rasa kesal dan malunya.
Alex sudah tau Jihan gadis seperti apa, teman-temannya banyak tersebar di mana saja termasuk di tempat hiburan malam. Gadis itu cukup di kenal oleh pria-pria kalangan atas. Ya tapi hanya ia yang tau, Alex tidak pernah memberi tahu Andra tentang itu.
Baginya Andra bukan lelaki bodoh, ia pintar dan cerdas mana mungkin bisa tergoda oleh Jihan. Dan lagi sudah ada si cantik Sabila yang menempati hati tuan muda Adiguna itu.
Tawa Alex pecah setelah Jihan menghilang dari ruangan itu.
"Peffttt... hahahaha..."
"Woy... apa yang lucu?" Tanya teman lainnya, yang melihat Alex tertawa sendiri.
"Tidak ada apa-apa bro... hehehe.."
"Aneh..." Ujar teman lainnya lagi.
,,,
"Sayang apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Dion pada Rani, saat ia sudah sampai di halte bus depan sekolah menengahnya dulu.
"Lumayan lama kak." Rani sedikit mengerucutkan bibirnya.
Dion tau saat ini kekasih nya sedang kesal padanya karena terlambat menjemput.
__ADS_1
"Maafkan kakak, tadi lumayan macet di jalan."
Jarak dari kampus nya ke sekolah Rani memang cukup dekat, bila tak bertemu kemacetan di jalan tentunya. Tapi Dion tetap berusaha mengantar dan menjemput kekasihnya itu. Walaupun kadang hanya bisa salah satunya, namun ia akan berusaha tak melewatkan satu hari pun. Apalagi hari ini Rani akan mencoba ikut audisi casting pertamanya.
Rani masih diam dan enggan menjawab.
Tiba-tiba Dion menarik tangan kanannya yang sedari tadi disembunyikan di belakang punggungnya. Satu ikat bunga mawar berada di tangannya. Harum segar dari serbuk bunga menyeruak hingga indera penciuman Rani. Gadis yang tadi mengalihkan pandangan nya, kini menoleh ke sumber wewangian yang menusuk hidungnya.
Seketika senyum mulai mengembang di wajah cantiknya. Dia suka sekali bunga tak hanya mawar tapi jenis bunga yang lain juga. Meski keindahan bunga hanya sesaat sebelum akhirnya layu, tapi setiap jenis bunga mempunyai keindahan yang estetik baginya.
"Kau mau memaafkan ku?" Tanya Dion sembari menyodorkan bunga di tangannya.
Rani mengambil bunga nya tanpa berkata apa-apa, lalu masuk ke dalam mobil mendahului Dion.
Membuat Dion tersenyum lega, ia tau gadisnya itu tak akan bisa lama-lama marah padanya.
Ia pun segera menyusul memasuki mobil.
Berulang kali Rani menghirup harumnya bunga segar di tangannya. Ia tak bosan bahkan enggan melepaskan bunga itu dari tangannya.
Rani hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Syukurlah jika kamu suka," ujar Dion lagi seraya mengusap lembut pipi Rani.
"Apa kau sudah siap untuk casting pertamamu?" Lanjutnya.
"Sudah kak, tapi aku sedikit gugup."
"Tarik nafas yang panjang lalu hembuskan perlahan, itu akan sedikit mengurangi kegugupan mu." Dion sedikit memberi penenang untuk gadisnya.
Rani mencobanya, menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
"Hosh...hosh..."
"Bagaimana, apa masih gugup juga?"
__ADS_1
"Sedikit berkurang kak, tapi belum sepenuhnya hilang."
"Tenang saja nanti akan terbiasa."
Nyesss... bagai tersiram air es, usapan lembut Dion memang selalu menenangkan.
Rani pun tersenyum, ia rasa tak ada teknik apapun yang lebih ampuh ketimbang perlakuan hangat sang kekasih.
Mereka telah sampai di depan gedung yang menerima artist baru yang akan memulai karirnya. Kecil memang, tidak sebesar gedung perusahaan milik ayah Dion.
Sebenarnya Dion sudah beberapa kali menawarkan pada Rani, untuk bekerja di perusahaan nya di bawah naungan orang-orang yang sudah pasti kompeten dan profesional.
Tapi Rani menolak, ia tak mau menggunakan jalur yang instan seperti itu. Ia ingin merasakan rasanya berjuang dari bawah karena sesuatu yang bisa di dapatkan oleh usaha sendiri pasti akan lebih puas nantinya. Ia juga sudah siap jika harus melewati jalan yang tidak mudah, mungkin bebatuan terjal akan ada dalam perjalanan nya.
"Kenapa kau melamun? Apa masih gugup." Ujar Dion khawatir.
"Tidak kak, hanya sedikit."
Dion meraih kedua tangan Rani, digenggamnya erat dan penuh cinta. Lalu memberikan kecupan lembut di sana, menyalurkan kekuatan untuk sang kekasih.
"Ingat tenangkan dirimu, anggaplah seperti biasa saat kau di panggung bersama rekan teater mu. Ini untuk melatih mu juga, saat kau terkenal nanti akan lebih banyak yang akan di hadapi."
"Terimakasih kak." Rani tersenyum senang, bersyukur sekali memiliki Dion di sisinya.
Lelaki itu juga selalu mendukung apapun keputusannya, asal dirasa tidak merugikan diri Rani sendiri.
Rani turun dari mobil setelah mendapat amunisi dari kekasihnya.
"Kak, aku akan masuk sendiri. Jika kakak lelah dan bosan menunggu kakak bisa pergi ke kedai di sebrang sana."
Dion mengangguk dan tersenyum, "Tidak usah khawatirkan kakak. Ingat kau harus berusaha semaksimal mungkin."
"Ok kak..." Rani menarik nafasnya sekali lagi dan menghembuskannya. Memantapkan diri nya sekali lagi. Ayo Rani kau harus berusaha. Semangat...
°°°
__ADS_1
Xiexie