Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab65 Calon Nona Muda Asli


__ADS_3

°°°


Sedangkan di lantai teratas gedung itu, sedang terjadi keributan karena kedatangan wanita yang mengaku calon nona muda Adiguna itu. Andra jelas marah karena ada orang yang tak diundang datang kekantornya, bahkan tanpa ijin terlebih dahulu.


"Siapa yang mengijinkanmu masuk," bentak Andra pada wanita itu.


Kepercayaan diri wanita itu bahkan sudah berganti dengan rasa takut. Ia sudah berdandan secantik dan seseksi itu tapi tak membuat tuan muda Adiguna meliriknya. Ayahnya yang sudah menyuruh ia datang untuk merayu Andra, ia pun dengan senang hati melakukannya. Siapa yang tidak senang jika bisa menjadi istri dari CEO Adiguna.


"Apa ayahmu yang sudah menyuruh mu kemari!! Berani sekali ayahmu." Andra yang memang moodnya sedang tidak baik pun semakin memburuk.


"Toni... Cepat kau bereskan dan jangan lupa berikan peringatan pada perusahaan X!!" Andra sangat tidak bisa mentolerir orang yang bermain curang, bahkan tak segan melemparkan anak gadisnya sendiri.


Mendengar perkataan yang barusan terlontar dari mulut Andra membuat wanita itu menelan ludahnya sendiri. Bukan hanya malu yang ia dapatkan, tapi perusahaan ayahnya juga terancam. Sungguh ia salah karena sudah bermain-main dengan tuan muda Adiguna. Kalau ia bisa mengulangnya, ia tak akan melakukan itu, saat ia sudah memasuki ruang CEO dengan percaya diri ia mendekati Andra dan menggodanya.


"Baik tuan," ujar Toni, ia juga merasa kecolongan karena sampai ada kejadian seperti itu. Ia ingat tadi perutnya sedikit bermasalah dan cukup lama di kamar mandi.


"Silahkan nona, saya akan mengantarkan anda keluar," ujar assisten Toni, ia masih bersikap ramah.


Wanita itu berbalik dan hendak keluar, namun langkahnya berhenti di depan pintu. Tanpa diduga dia kembali berbalik berlutut di depan Andra.


"Tuan Saya mohon maafkan saya. Tolong jangan apa-apakan perusahaan ayah saya. Saya akan memberikan apapun yang anda mau." Wanita itu sudah tidak punya malu, bahkan ia mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Cukup!! Kau pikir aku akan tergoda dengan tubuhmu itu. Menjijikkan!!" Umpat Andra.


"Cepat bawa wanita ini pergi Ton!" Teriaknya.


"Mari nona, jangan sampai saya bersikap kasar," ujar Toni dengan nada mengancam.

__ADS_1


Tapi wanita itu cukup keras kepala.


"Tuan Andra, kau akan menyesal karena menolak saya... Apa kurangnya saya..." ujar wanita itu mengiba.


Andra tersenyum miring mendengar penuturan wanita itu.


"Kau mau tau kekurangan mu. Kau itu tidak punya harga diri dan tidak tau malu." Ujar Andra yang enggan melihat wajah wanita itu lagi.


"Cepat seret dia Ton."


"Baik tuan."


Toni pun segera menyuruh petugas keamanan membawa wanita itu keluar. Sempat terjadi penolakan saat akan di bawa bahkan sepanjang perjalanan ke bawah wanita itu terus memberontak dan mencerca petugas keamanan.


Suasana di bawah pun menjadi riuh akibat teriakkan yang wanita itu buat.


"Itu assisten Toni...," gumam Sabil dan hendak mendekat ke arah tangan kanan Andra itu. Tapi niatnya ia tahan kembali saat melihat assisten Toni sedang memarahi kedua resepsionis yang sedang berdiri.


"Kenapa kalian berani membiarkan wanita itu naik tanpa ijin. Apa kalian tidak tau bagaimana marahnya tuan muda. Saya akan menyuruh HRD memberi kalian peringatan." Ujar assisten Toni tegas.


Wanita yang tadi pun sudah di giring keluar perusahaan.


"Ingat kalian, jangan pernah membiarkan siapapun ke lantai atas tanpa persetujuan dari ku!!" Bentak assisten Toni lagi. Lalu ia berjalan menuju ke lift.


Sabil yang masih terpaku dengan kemarahan assisten Toni, segera sadar dan mencoba memanggil lelaki itu. Tapi suasana sedikit sesak dan ramai, membuatnya kesulitan menyusul assisten Toni. Sabil tak kehabisan akal, ia mencoba memanggil lelaki itu dari kejauhan.


Tapi assisten Toni tak mendengar dan terus berjalan sampai di depan lift.

__ADS_1


"Assisten Toni," Sabil sedikit berteriak.


Telinga lelaki itu seperti mendengar ada yang memanggil namanya. Ia pun menoleh mencari sumber suara, diantara para karyawan yang lalu lalang.


"Nona Sabila..." Ujar assisten Toni melihat keberadaan wanita yang mampu mengembalikan senyum tuan mudanya itu. Kemudian ia segera mendekat.


Para karyawan yang melihat assisten Toni berjalan mendekat pun menyingkir memberi jalan, dengan menebak-nebak ada apa gerangan yang membuat assisten tuan mudanya itu kembali.


"Selamat siang nona sabil. Sejak kapan anda disini nona," ujar assisten Toni dengan sedikit membungkuk. Seketika membuat para karyawan melotot. Tak terkecuali kedua resepsionis yang masih gemetaran itu.


"Apa Aku bisa menemui kak Andra? Apa dia sibuk?" Tanya Sabil yang meresa lega.


"Anda bisa langsung naik nona, tidak perlu menunggu dan bertanya. Tuan muda pasti mempunyai waktu untuk anda." ujar assisten Toni sedikit menunduk, ya dia tidak berani berlama-lama menatap wajah calon nona mudanya atau ia akan mendapat amukan dari Andra.


"Tadi aku hanya duduk sebentar takut kak Andra sedang sibuk," ujar Sabil seraya tersenyum, ia tak mengadukan kedua resepsionis yang membuatnya menunggu lama. Melihat mereka terkena marah tadi saja ia tak tega.


"Mari nona, saya akan mengantarkan anda menemui tuan muda," ujar assisten Toni mempersilahkan Sabil berjalan di depannya.


Para karyawan pun membungkuk hormat saat Sabil berjalan melewati mereka. Lalu mereka mengelus dada dan bersyukur, ya untunglah mereka tak ikut-ikutan merendahkan Sabil.


Sabil dan Toni sudah berada di dalam lift. Asisten Toni bersyukur dengan adanya kehadiran Sabil di waktu yang tepat, karena hanya wanita itu yang mampu meredam amarah tuan mudanya.


°°°


Xiexie


Terimakasih semua yang sudah membaca karyaku.....

__ADS_1


__ADS_2