
°°°
Hingga pukul 5 sore akhirnya mereka sampai di bandara. Setelah berpamitan dengan ayah, tak lupa Sabil juga menyempatkan diri berpamitan dengan kak Amel dan yang lain. Tak masalah sebenarnya mau jam berapapun mereka terbang juga pesawatnya mau menunggu.
Sudah tak asing lagi jika para pengusaha kaya mempunyai pesawat pribadi. Termasuk keluarga Adiguna yang perusahaannya termasuk yang paling besar di negaranya. Pesawat bahkan pulau pribadi pun mereka miliki. Sabil mungkin akan tercengang bila tau seberapa banyak harta yang dimiliki suaminya.
Tapi mungkin sabil akan lebih tercengang bila tau ia adalah pemilik beberapa persen saham Adiguna Grup.
"Kak Andra bayar berapa pilotnya sampai mau menunggu kita?" Bisik Sabil takut jika ada yang mendengar dan takut apa yang dipikirkannya itu benar. Bagaimana kalau kak Andra menyuap, bukankah itu melanggar hukum.
Andra yang mendengar perkataan Sabil pun terkekeh dibuatnya. Apa sang istri benar-benar tak tau kalau suaminya itu kaya. Mungkin Sabil pikir hanya kaya pada umumnya saja.
"Kok kak Andra tertawa sihh..." Memukul lengan Andra.
"Kau itu lucu sekali, lihatlah wajahmu membuatku ingin..." Tak jadi melanjutkan ucapannya, takutnya sang istri menjadi kesal.
"Kakak pengin apa?" Dahi Sabil berkerut menangkap gelagat aneh sang suami.
"Hehehe... tidak sayang. Ayo."
Mereka bergandengan menuju pesawat yang akan ditumpanginya. Assisten Toni di belakang membawakan barang-barang mereka dan lagi-lagi rasanya ia ingin menenggelamkan diri di lautan saja bila melihat kemesraan tuan dan nona mudanya.
Lagi-lagi Sabil heran saat mereka sudah memasuki pesawat. Tidak ada penumpang lain hanya ada mereka berdua dan beberapa pramugari. Sabil gelisah, menengok kanan dan kiri. Pikirnya apa karena telat jadi yang lain sudah berangkat terlebih dahulu.
"Ada apa sayang?" Andra yang melihat istrinya gelisah pun khawatir karena ini pertama kalinya ia menaiki pesawat.
"Kau baik-baik saja?" Terus bertanya.
"Kak dimana penumpang yang lain?"
Ini aneh kan, kenapa hanya ada kita berdua.
"Sayang, ini pesawat pribadi jadi tidak ada penumpang lain, hanya ada kita dan tentunya kita akan bebas melakukan apapun."
Masih sempat menggoda ditengah-tengah penjelasannya.
__ADS_1
Puk! Satu pukulan mendarat di lengan kekarnya.
"Kak Andra ini kenapa selalu berpikiran itu."
Sabil paham akhirnya kenapa hanya ada mereka disana. Ehh tunggu apa katanya tadi, pesawat pribadi maksudnya milik sendiri begitu. Mata Sabil membulat, lalu kini matanya mulai menyusuri setiap sudut ruang yang ada di dalam pesawat itu.
Mewah, elegan dan sangat nyaman. Sabil masih tak percaya jika pesawat yang akan mereka tumpangi ini milik suaminya. Yaa pasti kak Andra berbohong, mungkin hanya menyewa. Ia melihat ke arah tempat duduk suaminya, tanpa sadar Andra sudah tak ada di sana.
"Ton, kau sudah menyiapkan semuanya kan?" Tanya Andra yang saat ini keluar menemui assisten nya, memastikan semuanya siap dan tak ada yang terlupakan sebelum pesawatnya terbang. Mengingat jarak yang akan mereka tempuh itu cukup jauh, tak mau terjadi apapun dengan istrinya.
"Semuanya sudah saya pastikan sendiri tuan, tuan muda tidak perlu khawatir."
Karena kenyamanan tuan muda adalah yang utama.
Andra menepuk pundak Toni, assisten yang selalu bekerja keras memenuhi segala kemauannya.
"Jangan sungkan bertanya pada pak Tantan bila menemukan kesulitan saat aku tak ada. Kau juga bisa menghubungiku bila itu diperlukan. Kau paham?"
"Saya mengerti tuan." Membungkuk hormat pada tuannya.
"Baguslah, aku yakin kau tidak akan mengecewakan perusahaan Adiguna. Jagalah semuanya seperti sediakala dan jaga dirimu baik-baik."
Anda pamer lagi tuan. Toni harus banyak bersabar menghadapi sifat baru atasannya yang suka pamer itu sekarang.
Tapi benar juga apa yang dikatakan Andra, Sabil sudah menunggunya sedari tadi.
"Kak Andra dari mana saja?" Aku takut sendirian.
"Kenapa sayang, apa kau rindu?" Menggoda tak tau tempat.
Puk! Satu pukulan lagi melayang.
"Aww... kenapa kau suka sekali menyakiti ku sayang. Dicium saja jangan dipukul?" Ujarnya dengan masih berpura-pura kesakitan, padahal pukulan Sabil tidak seberapa. Bahkan tidak berasa di lengan kekarnya.
"Itu karena kakak selalu menjawab dengan asal kalau aku tanya." Sungut Sabil.
__ADS_1
"Kenapa sayang, apa kau masih tak percaya jika ini pesawat pribadi milik suamimu?"
"Benarkah, kak Andra bukan menyewa?" Sabil yang masih tak percaya pun memastikan lagi.
"Benar sayang, apa kau tidak tau suamimu ini kaya?" Membuka kaca mata hitamnya dan menyelipkan di leher kaosnya.
Sejak kapan kak Andra sombong begitu. Sabil menatap sinis suaminya.
"Hai kau tak percaya juga, apa perlu aku tunjukkan surat-suratnya."
"Tak perlu kak, aku percaya sekarang."
Apa aku harus bahagia atau sedih karena baru mengetahui jika suamiku ini sangat kaya. Sabil dengan pikirannya sendiri.
"Bersiaplah sayang, sebentar lagi kita akan mulai terbang. Tenangkan pikiranmu dan percayalah semua akan baik-baik saja. Jangan lepaskan tanganku."
Andra cemas dan berharap penerbangan kali ini berjalan lancar. Ia menggenggam tangan Sabil agar istrinya itu tak perlu takut selagi ada dia disampingnya.
Sabil cukup gemetaran mengingat itu, ini pesawat dan tidak akan mungkin bisa turun jika ia merasa takut. Pesawat ini hanya akan turun jika sudah sampai tujuan. Ia pasrah, mempercayakan semuanya pada sang suami.
Mau mundur pun tak mungkin, tekadnya cukup kuat untuk bertemu mommy mertuanya.
"Mungkin akan ada guncangan diawal tapi hanya sebentar, semuanya akan baik-baik saja setelah itu. Kau juga bisa tidur jika mengantuk sayang. Ada kamar yang bisa di pakai untuk beristirahat." Katanya terus menenangkan sang istri.
Ehh kamar, kenapa ada kamar juga di pesawat. Matanya menyiratkan banyak pertanyaan.
"Kau tidak percaya, nanti kau bisa melihat sendiri. Kita juga bisa mencobanya di pesawat, mencoba hal baru di atas ketinggian." Tersenyum menyeringai dan itu membuat Sabil bergidik, sakit di pinggangnya saja masih belum sembuh lalu masih ingin menambah.
Sang pilot mulai menerbangkan pesawatnya. Benar kata Andra tadi jika sedikit menakutkan awalnya. Tapi Sabil mencoba tenang dengan memejamkan matanya, membayangkan indahnya negara yang akan ia kunjungi.
Ya setelah Andra bilang mereka akan ke Swiss, buru-buru Sabil mencari tahu lewat internet tentang negara yang dikelilingi oleh pegunungan es itu.
°°°
Xiexie
__ADS_1
*Aku percaya sebuah titik pencapaian seseorang itu bukan dilihat dari keberhasilannya tapi dari apa yang ia kerjakan dengan sepenuh hati.
Seperti saat aku menulis cerita ini. Awalnya takut tak ada yang membaca dan tidak diterima. Hanya tulisan dengan haluan tingkat tinggi didalamnya. Sepenuhnya adalah halu dan mungkin sebagian tidak ada di dunia nyata*.