
°°°
Saat pintu ICU terbuka Andra, Sabil dan juga Dad Ray langsung berdiri, menghampiri dokter yang baru saja keluar. Dilihat dari raut wajah dokter itu membuat Andra dan yang lain sedikit bernafas lega.
Dokter itu membungkuk hormat sebelum menyampaikan kabar gembira.
"Apa istriku sudah sadar dok. Dia berhasil selamat kan?" Dad Ray sangat ingin mendengar kabar baik.
Mata Sabil dan Andra pun menatap penuh harap pada sang dokter, pertanyaan mereka sama dan sudah terwakilkan oleh Dad Ray.
"Iya tuan, Nyonya sudah berhasil melewati masa kritisnya. Bahkan tadi dia menggerakkan jari tangannya." Sang dokter berkata dengan nada bahagia, ia sudah seperti keluarga pasien saja.
Tangis bahagia dari sang Daddy membuat Sabil dan Andra pun terharu. Dad Ray yang dari tadi kelihatan tegar dan tenang, ternyata menyembunyikan kesedihannya seorang diri. Andra segera memeluk daddy-nya, seharusnya ia harus lebih kuat untuk sang Daddy.
Buru-buru Sabil berterimakasih pada para dokter yang telah berjuang untuk mom Rahmi. Tak disangka dokter itupun menitikkan air mata melihat adegan keluarga itu. Lalu segera kembali masuk ke dalam ruangan.
"Dad kau lihat, mommy sangat kuat. Dia berjuang untuk kita semua." Andra masih memeluk dad nya. Pelukan yang jarang sekali terjadi tapi kini ia berjanji akan sering memeluk keluarga nya.
"Kau benar nak, Mommy mu sangat kuat."
Sabil pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia tau rasanya kehilangan. Ia tau rasanya kesepian disaat rindu pada orang terkasih hanya bisa terucap lewat doa. Pelajaran yang sangat amat berharga ia dapatkan, waktu yang tidak pernah akan kembali lagi seperti kemarin maka kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Menghilangkan ego dan memupuk rasa cinta untuk orang terkasih adalah hal yang sangat penting.
Saat semua sudah tenang dan kembali duduk untuk menunggu perkembangan kondisi mommy, Sabil pamit untuk membeli minuman. Ia tau tidak mungkin mereka mau mengisi perutnya dengan makanan disaat seperti ini. Tetapi setidaknya ada cairan yang masuk kedalam tubuh mereka.
"Kak aku pergi dulu sebentar untuk membeli minum," pamit Sabil pada sang suami.
"Apa kau haus, aku akan menyuruh pengawal untuk membelikannya." Andra tentu tidak mau istrinya kenapa-napa lagi.
"Tidak kak, biar aku saja. Sekalian mau ke kamar mandi. Kau tidak perlu khawatir, banyak pengawal yang tersebar di setiap sudut rumah sakit ini. Aku janji akan kembali lagi." Menyakinkan Andra bukan hal yang mudah, ia butuh alasan yang tepat agar lelaki itu yakin.
"Baiklah, berhati-hatilah," ujarnya seraya mengusap kepala Sabil.
Sabil tersenyum senang karena berhasil beranjak dari sana. Ke kamar mandi mungkin hanya alasan, ia hanya merasa Andra dan dad Ray saat ini membutuhkan waktu berdua saja.
__ADS_1
,,,
Setelah Sabil pergi Andra dan dad Ray banyak mengobrol. Benar kata Sabil jika mereka butuh waktu berdua, jika ada dia mereka memang sedikit canggung. Biasanya mereka banyak mengobrol tentang perusahaan saja.
"Dad, apa kau sudah makan?" Banyak pertanyaan tapi justru pertanyaan itu yang meluncur dari bibir Andra.
"Tidak perlu mengkhawatirkan Daddy. Dad tidak akan tenang kalau mommy mu belum sadar." Menepuk pundak putranya dan tersenyum.
"Dad apa kau ingat dulu waktu kecil aku sering memintamu menemani ku bermain tapi kau sibuk sekali bekerja sampai tak ada waktu untukku. Sekarang aku mengerti sebesar apa tanggung jawab Daddy di perusahaan."
"Maafkan Daddy karena belum bisa menjadi ayah yang baik untuk mu. Seharusnya dad banyak memberikan perhatian untukmu dan mommy hingga mom mu tidak akan kesepian dan mencari kehangatan diluar. Sebenarnya semua itu salah Daddy yang tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik."
Baru kali ini dad Ray mengutarakan isi hatinya, ternyata selama ini ia juga dilanda perasaan bersalah.
"Tidak ada manusia yang sempurna dad, semuanya pasti mempunyai kekurangan. Semua yang terjadi di keluarga kita adalah cobaan. Aku bahagia sekarang melihat Daddy dan Mommy saling menyayangi."
Andra belajar banyak dari ayah mertuanya yang begitu bijak dalam menghadapi masalah. Tidak lupa juga berlapang dada saat cobaan mendera.
"Andra yakin mommy bisa bertahan Dad. Aku akan terus berjuang mencari pendonor untuk Mommy."
Sabil yang sebenarnya sudah kembali dari tadi pun terharu, ia melihat dari kejauhan ayah dan anak itu mengobrol dari hati ke hati. Ia menghapus air mata di sudut matanya sebelum akhirnya mendekat.
"Kak, ini minumlah." Menyodorkan satu botol air mineral pada Andra. "Dan ini untuk dad."
"Kalian minumlah, setidaknya ada cairan yang masuk ke tubuh kalian. Aku tau kalau kak Andra dan daddy tidak mungkin mau makan tapi aku mohon jangan menolak untuk minum juga."
Setelah mendengar perkataan Sabil ayah dan anak itu pun meminum air mineral itu hingga tandas. Banyak menangis dan kurang tidur bisa membuat mereka dehidrasi. Dan nanti siapa yang akan menjaga Mom Rahmi kalau mereka juga sakit.
Tiba-tiba pintu ruangan ICU terbuka kembali, beberapa dokter keluar dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca.
"Ada apa dok, apa terjadi sesuatu di dalam?" Andra langsung bertanya setelah melihat gelagat aneh dari dokter itu.
"Begini tuan, nyonya Rahmi sudah sadar dan dia terus memanggil nama Sabila," ujar sang dokter tapi aneh dia terlihat gelisah saat mengatakannya.
__ADS_1
"Bukankah itu bagus dok." Mata Andra berbinar.
"Ada apa sebenarnya?" Kini dad Ray ya tidak sabar mendengar kabar selanjutnya.
"Maaf tuan, meskipun sudah sadar tapi keadaan nyonya semakin menurun. Jika tidak secepatnya mendapatkan pendonor, kami khawatir nyonya tidak bisa bertahan lebih lama lagi." Tentu saja dokter itu berkata dengan rasa takut.
Kini tubuh dad Ray yang hampir tidak bisa menahan keseimbangan, terhuyung ke belakang. Untunglah Andra dengan sigap menangkap tubuh sang Daddy.
"Daddy...." Sabil tak kalah panik melihat tatapan mata dad Ray yang seketika kosong.
"Dad sadarlah, Mommy pasti bertahan Dad." Andra mengguncang tubuh yang ada dalam dekapannya itu.
"Dok tolong, berusahalah melakukan yang terbaik sampai kami mendapatkan pendonor. Kami mohon." Sabil mengatupkan kedua tangannya, kini tangisnya pun mengalir deras.
"Baiklah nona, kami akan terus berusaha. Sebaiknya nona Sabila ikut kami, sepertinya Nyonya Rahmi ingin bertemu dengan anda nona."
Sabil melihat suaminya untuk meminta ijin dan Andra pun menyetujui dengan anggukan kepalanya. Tapi Sabil terlihat khawatir meninggalkan suaminya sendiri mengurus daddy-nya.
"Tidak usah khawatir, aku akan mengurus Daddy." Andra seperti tau arti tatapan sang istri.
Mengikuti para dokter masuk kedalam dan memakai pakaian khusus. Sabil terus meyakinkan hatinya, aku harus kuat tidak boleh menatap mommy dengan kesedihan.
°°°
Xiexie
#Kawalsampaiakhir
Salam sayang dari Sabila dan Andra.
Jangan lupa baca juga novel baruku ya guys.
Judulnya : Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
__ADS_1
Cari Nama penanya : Three ono
Xiexie