
°°°
Andra dan Sabil sampai di ruangan mom Rahmi. Setelah tertidur sebentar kini wajahnya kembali berseri, rasa lelah dan kantuknya sedikit menghilang. Beda dengan Andra yang lengannya kebas karena untuk tumpuan. Dia tidak bergerak hingga satu jam demi kenyamanan tidur sang istri.
Mereka masuk keruangan itu, tanpa sengaja berpapasan dengan suster Jane yang hendak keluar. Lagi-lagi tangannya mengepal kuat saat Andra bahkan tak meliriknya ketika berpapasan. Troli makanan yang ia bawa sampai bergetar hebat karena kuatnya wanita itu menahan amarah.
Tidak seperti Andra yang mengabaikan kehadiran suster Jane. Sabil tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat berpapasan dengan suster itu. Tapi entah apa ia salah lihat, Sabil merasa tatapan mata wanita itu pada suaminya terasa berbeda. Saat menatap Sabil pun seperti menatap pada musuhnya.
"Kalian sudah datang." Suara mom Rahmi memecah ketegangan. Membuat Sabil mengalihkan pandangan nya dari suster Jane.
Mereka mendekat tak lupa menyalami satu-satu mom dan dad Ray. Andra langsung duduk di sofa setelah menyalami dan mencium mom Rahmi. Melihat dad Ray yang masih sibuk membaca koran.
"Apa Toni menghubungi mu nak?" tanya dad Ray tanpa menoleh.
"Tidak dad, aku sudah berpesan jika ada masalah segera menghubungi pak Tantan atau aku. Tapi sampai sekarang dia belum juga menghubungi ku, aku harap semuanya baik-baik saja."Jelas Andra pada daddy-nya.
"Kau harus tetap mengawasi gerak-gerik mereka, gerakan mereka sangat gesit dan lincah seperti tikus yang mencuri makanan."
Beberapa saat yang lalu, Andra sudah memberitahu Dad Ray tentang musuh dalam selimut yang ada di perusahaan. Dad Ray sempat tak percaya karena orang-orang itu masih ada hubungan keluarga dengan dirinya. Tapi akhirnya dad Ray percaya dengan bukti-bukti yang Andra perlihatkan.
"Kalian itu para lelaki kenapa hanya membicarakan pekerjaan." Mom Rahmi menyindir kedua lelaki itu yang wajah dan sifatnya seperti fotocopyan. Walaupun begitu tapi kedua laki-laki itu sangat menyayangi keluarga.
Benar saja kan, bahkan ayah dan anak itu menoleh bersamaan. Membuat mom Rahmi dan Sabil tertawa.
"Apa yang lucu sayang?" Dahi Andra berkerut.
"Tidak ada kak." Padahal tawanya sampai terpingkal-pingkal. Mom Rahmi pun sama, ia sampai memegangi perutnya yang terasa kaku.
__ADS_1
Sedangkan dad Ray yang mengerti hanya diam saja dan melanjutkan membaca koran. Jadilah hanya Andra sendiri yang tidak paham disana.
"Mom, apa yang kalian tertawakan?" tanya Andra yang masih penasaran.
"Kami menertawakan kalian yang hampir sama wajah dan sifatnya." Mom Rahmi yang merasa kasihan pada putranya pun menjelaskan juga.
"Siapa bilang mom, kami berbeda. Aku lebih tampan dari Daddy dan tentunya lebih pintar. Aku bisa menangkap para benalu di perusahaan dan aku bisa mencari istri yang sangat cantik dan baik."
Bangga Andra dengan apa yang diraihnya tapi sayangnya itu tak bertahan lama saat dad Ray menimpali ucapannya.
"Jadi maksudmu mommy mu jelek begitu? Dad akui kau lebih pintar tapi dad tidak menyangka kau tega mengatai Mommy mu yang mantan model terkenal itu jelek."
Ribuan belati seakan menyerangnya. Sekali bersuara maka dad Ray mampu melumpuhkan musuhnya.
Kini nyali Andra menciut, ia termakan omongannya sendiri.
"Bukan begitu maksudnya mom, Mommy adalah wanita tercantik pada masanya tapi sekarang di usia ini Sabil yang paling cantik diantara gadis lainnya."
Sedangkan dad Ray semakin senang karena sekarang putranya itu pasti gelagapan menanggapi mommy nya.
Benar saja kan, Andra sedang berusaha meminta maaf. Menciumi tangan sang Mommy dan terus memohon. Sabil malah bingung sendiri melihat keluarga itu, ayah mertuanya tersenyum menang, sedangkan ibu mertuanya merajuk dan suaminya itu sedang memohon maaf. Tapi kemudian ia merasa bahagia melihat interaksi diantara mereka.
"Mom, bukan begitu maksud Andra mom. Mommy tentu saja sangat cantik kalau tidak, tak mungkin kan melahirkan putra setampan diriku." Tetap menyombongkan diri yang utama.
Mom Rahmi memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Andra, sifatnya sungguh tak jauh berbeda dengan suaminya yang suka memuji diri sendiri.
"Lihatlah suamimu ini Sabil, malam ini kau jangan mau memberinya jatah. Biarkan saja dia tidur di sofa." Mom Rahmi menggoda putranya.
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan jatahku mom kenapa menyuruhku tidur di sofa segala. Apa mommy tidak ingin segera menimang cucu." Berbicara seraya mengerlingkan sebelah matanya pada sang istri.
Pukulan yang cukup keras mendarat di bahu Andra. Kemudian mom Rahmi memijit pelipisnya, bahkan putranya itu sama frontalnya dengan ayahnya.
Mata Sabil pun membulat, akan jadi apa tubuhnya kalau setiap malam menghadapi keganasan suaminya saat bergulat.
"Sakit mom..." gerutu Andra.
"Apa kau tidak lihat, istrimu itu sampai loyo dan tak bertenaga seperti itu. Lalu kau masih ingin menggempurnya, mommy tidak akan membiarkannya. Biarkan istrimu istirahat dulu untuk memulihkan tenaganya. Kau bisa membuatkan cucu untuk mommy besoknya lagi."
Sontak Sabil benar-benar dibuat malu dengan obrolan yang semakin mengarah ke hal-hal itu saat ini.
"Bagaimana jika Sabil yang meminta mom, aku tidak janji kalau nanti bisa menahan diri." Tersenyum menyeringai.
Ya ampun, Sabil rasanya ingin tenggelam saja dilautan untuk menutupi rasa malunya. Untuk menghadapi suaminya yang begitu mesuumm sekarang, Sabil benar-benar harus banyak mencari alasan untuk menolak jika tubuhnya sudah lelah.
"Mom, Andra. Kalian berhentilah, jangan membuat Sabil semakin malu dengan obrolan kalian." Akhirnya dad Ray melerai pertikaian itu. Jika tidak, tak tau lagi apa yang akan di bicarakan ibu dan anak yang sedang menyidam cucu itu.
°°°
Xiexie
Ayo dong like dan komen nya dikencengin. Jangan cuma baca aja.
Hehehe... author gabut, ga punya semangat liat pembaca yang makin dikit.
Apa kalian tidak suka dengan cerita ini???
__ADS_1
Pencet vote kalau gak suka dan pencet hadiah kalau suka.
Wkwkwk....