Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab14 Tertarik


__ADS_3

°°°


Hari hari di sekolah berlalu tanpa sesuatu yang berarti. Namun tidak dengan sepasang kekasih yang sedang berbunga-bunga.


Sabil menatap jengah kedua sahabatnya, ia sudah menebak seperti ada yang berbeda dari mereka.


Seperti sekarang mereka bermesraan tanpa tau tempat, meski biasanya mereka juga dekat tapi sikap mereka akan ada yang membatasi.


"Apa kalian tak ingin menceritakan sesuatu padaku?" tanya Sabil.


Sepasang sejoli itu menoleh,


"Tidak, memang kenapa??" jawab Rani.


"Ohh ayolah, aku tau ada yang tidak beres dengan kalian." Sabil menebak.


"Kami baik baik saja, ya kan kak?" Rani menoleh ke arah Dion mengedipkan sebelah matanya.


"Iya," sahut Dion.


Namun gerak gerik mereka yang mencurigakan tak luput dari pandangan Sabil.


Seperti sekarang ini Dion sedang mengelus rambut Rani lembut, tatapan matanya pun begitu lembut pada Rani.


Walaupun Rani berusaha menutupi sikapnya, namun wajahnya tidak bisa berbohong.


Pipinya bahkan memerah bak udang rebus.


Sabil terkekeh melihat nya, "Baiklah, tanpa kalian katakan pun aku tau artinya."


Rani reflek menepis tangan Dion.


Ia sebal lelaki di sampingnya malah tak bisa di ajak bekerja sama.


"Hahaha.. kalian tidak pintar berbohong,"


Sabil tak bisa lagi menahan tawa nya.


"Aahh Sabil, maaf bukannya mau sembunyikan dari kamu. Tapi aku malu." Rani merasa tak enak pada sahabatnya.


"It's ok, asal kalian bahagia aja."


"Dan kak Dion berjanjilah tak akan menyakiti Rani." ucap Sabil , "Atau aku tidak akan membiarkan kak Dion hidup tenang," lanjutnya lagi sambil menunjuk ke arah Dion.


"Itu pasti, karena aku sangat menyayangi nya,"


ujar Dion meyakinkan, kemudian tangannya menggenggam tangan Rani lembut.


Kini wajah Rani semakin memerah.


"Ok, ok, sekarang berhenti bermesraan di depanku. Aku merasa sekarang hidupku tidak mudah lagi," Sabil menghela nafasnya.


Sedangkan sepasang kekasih itu hanya tersenyum melihatnya.


°°°


Seperti biasa pulang sekolah Sabil mengendarai sepeda kesayangan nya.


Tanpa ia sadari, dari tadi ada mobil yang mengikuti nya.

__ADS_1


Itu Andra, ia melihat gadis manis itu di parkiran sekolah tadi. Dan entah kenapa ia malah mengikuti sampai sejauh itu.


Sekarang sampai di lampu merah, Sabil berhenti dan Andra berhenti tepat di belakangnya.


"Kenapa aku sampai mengikuti nya, kenapa dengan gadis itu dia mampu membuat ku sedikit tertarik," gumam Andra,


Iya terus melihat kearah gadis itu, seakan takut dia menghilang dari hadapannya.


15 menit berlalu, gadis itu membelokan sepedanya ke arah ruko-ruko di daerah itu.


Kemudian dia memarkirkan sepeda nya di depan toko.


"Kalau di lihat dari papan namanya itu sebuah toko kue. Apa dia mau membeli kue." pikir Andra.


Hampir satu jam Andra menunggu, tapi gadis itu belum juga keluar.


"Kenapa gadis itu belum keluar juga," gumam Andra.


"Baiklah aku akan menunggu nya sebentar lagi."


Hari semakin sore, namun gadis itu belum juga menampakkan dirinya. Andra pikir apa dia melewatkannya, tapi sejak tadi pandangannya tak pernah lepas dari toko itu dan sepeda gadis itu juga masih ada di sana.


"Aku rasa perutku sedikit lapar, apa aku masuk saja kesana," Andra mulai merasa tak sabar.


Baru saja ia akan keluar dari mobilnya, ia melihat gadis itu keluar.


"Itu dia, tapi dia sudah berganti baju. Dan apa itu ia membuang sampah?" ia semakin penasaran.


"Apa dia bekerja di sana? Lebih baik aku melihat nya sendiri."


Andra berjalan melewati deretan ruko-ruko itu, karena memang ia parkir sedikit jauh dari toko yang Sabil masuki.


Ia melihat sekeliling nya, seperti nya ia merasa dulu sering ke tempat itu.


Matanya berhenti pada sebuah restoran di sebrang jalan,


"Bukankah tempat itu...??"


"Ya tempat itu adalah tempat dimana aku melihat Mommy bersama laki-laki."


Meskipun bangunannya sedikit berubah tampak lebih seperti bangunan baru, tapi ia yakin itu tempatnya.


Andra sedikit kesal jika mengingat itu, kemudian ia kembali berjalan.


"Pantas aku seperti tidak asing dengan tempat ini, meski sekarang banyak berubah, sudah banyak bangunan-bangunan ruko berjejer disini tidak seperti dulu yang masih jarang."


Andra berhenti di depan toko kue itu,


bukankah ini toko kue yang sering aku dan Daddy kunjungi dulu. pikirnya


Kemudian ia melihat ada pria tua yang sedang melayani para pembeli,


Ia tak melihat Sabil di dalam sana, kemudian ia memutuskan masuk untuk membeli beberapa kue untuk Mommy nya. Dan jika memang ini toko kue favoritnya, mungkin masih menjual kue kesukaan nya.


Ting


Andra melewati pintu, dan mendengar kata sambutan dari pria tua tadi.


"Selamat datang, sedang mencari kue yang seperti apa? kami mempunyai beberapa rekomendasi untuk anda," sapa ayah Sabil ramah.

__ADS_1


Andra masih fokus mengedarkan pandangannya, tak menghiraukan ucapan prai tadi.


"Permisi??"


"Iya maaf aku tak mendengarnya," Andra tersadar.


Namun sedetik kemudian ia kembali tersentak,


Dia bukankah....


"Permisi nak, ada yang bisa saya bantu?" ayah Sabil keheranan,


"Ayah ini, aku sudah mengangkat kue nya," ucap Sabil dari ruangan yang ada di belakang, dengan senyum yang menghiasi wajah nya.


Andra semakin tenggelam dengan pikirannya, melihat interaksi antara ayah dan anak itu.


Lalu Sabil menyadari sejak tadi ada sepasang mata yang memandang nya.


Ia cukup kaget melihat kakak kelas nya berada di dalam toko kue ayahnya.


"Baiklah ayah masuk dulu, tolong kamu layani anak itu. Ayah rasa dia seperti kebingungan."


ucap ayah Mul pelan.


Kemudian Sabil menghampiri kakak kelasnya, "Permisi kak, ada yang bisa saya bantu?"


Bukannya menjawab tapi Andra balik bertanya, "Apa itu tadi ayahmu?"


"Iyaa... apa..??"


"Mmmm... maksud ku, aku tadi mendengar kau memanggilnya ayah. Jadi apa dia ayahmu dan toko kue ini apa milik ayahmu?" Andra bertanya untuk meyakinkan apa yang ada di pikiran nya.


"Iya beliau ayah saya, dan ini toko kue nya," Sabil berusaha menjawab pertanyaan Andra, meski merasa aneh kenapa ia bertanya hal itu.


"Lalu dimana ibumu??"


Sabil tidak langsung menjawab, ia semakin heran dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut lelaki itu.


"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Apa kau hanya berdua saja dengan ayahmu menjalankan toko ini?" jelas Andra, ia tau Sabil menatap nya heran.


"Yaa.. kami hanya berdua, ibuku sudah tidak ada."


"Maksudnya?"


"Itu ..."


Sabil menunjuk sebuah bingkai yang terletak di meja dekan mesin pembayaran.


"Beliau sudah lebih dulu meninggal kan kami, tepatnya 10 tahun yang lalu."


Deg


Andra memperhatikan wajah wanita yang ada di foto itu, wanita itu terlihat sedang menggendong anak perempuan. Dan anak perempuan itu yang dulu dilihatnya di toko ini.


Sekarang ia yakin, wajah wanita itu ialah wajah yang dulu ia lihat tergeletak di tengah jalan dengan bersimbah darah.


°°°


xiexie

__ADS_1


__ADS_2