
"Maafkan saya tuan muda, saya akan membereskan semuanya." Ujar pak manager. Manager yang biasanya galak terhadap karyawan pun bisa membungkuk hormat di hadapan Andra.
Padahal sang manager pun belum tau, kesalahan apa yang telah di lakukan oleh bawahannya sampai tuan muda Adiguna itu murka. Matanya menatap tajam pada bawahannya.
"Apa salah ku An? Aku hanya ingin menemani mu makan." Jihan masih tak tau malu dan tidak sadar jika perbuatannya itu merugikan orang lain juga.
Dan sekarang pak manager mulai menduga. Apa itu yang di maksud mengganggu kenyamanan, tapi apa salahnya wanita itu cantik dan sexxyy. Pikirnya.
Ya mungkin pikirannya tidak salah, laki-laki mana yang bisa menolak jika ada wanita cantik dan seksiii di dekatnya.
"Andra... aku sudah lama menyukai mu." Masih dengan wajah yang di buat anggun dan senyum yang terus mengembang, Jihan dengan berani membangunkan singa yang sedang tidur. Yaa.. perempuan itu memegang lengan Andra dengan manja.
Braakkk....
Seketika otot-otot rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat. Andra menghempaskan Jihan sampai gadis itu terlempar ke belakang. Meja di depannya pun tak luput dari kemarahan nya. Sampai Sabil pun terlonjak kaget.
"Apa yang kalian lihat!!! Kalian tidak percaya kalau tempat ini bisa tutup sekarang juga!" Ujar Andra pada pak manager.
"Dan kau...! Ujarnya lagi seraya menunjuk gadis yang tadi terjungkal ke belakang. "Ingat ini baik-baik, perbuatanmu sudah mengganggu dan membuat wanitaku merasa tidak nyaman. Jika kau mengulanginya lagi, jangan salahkan jika ayahmu tak bisa lagi menikmati jabatannya!"
"Bahkan aku lebih cantik dan lebih baik dari gadis itu!" Teriak Jihan tidak terima, kau sudah membuat ku malu, aku juga akan membuat gadis itu ikut merasakan nya.
Semakin murkalah Andra. Tangannya sudah terangkat keatas, siap mendarat di pipi gadis tak tau malu itu. Bagaimana mungkin membandingkan Sabila dengan dirinya.
"Kak..." Panggilan lembut Sabil membuat kesadaran Andra kembali.
Andra menoleh lalu tersenyum, tidak mau gadisnya sampai merasa takut melihat kemarahan nya.
Andra kembali duduk lalu melirik tajam pada pak manager, agar dia segera membereskan nya.
__ADS_1
Manager dan anak buahnya menyeret Jihan keluar dari tempat itu. Tapi bukan Jihan namanya bila menyerah.
"Lepaskan, kalian tidak tau ayah saya seorang menteri. Kalian berani menyentuh putrinya." ancam Jihan.
"Maaf nona, kami lebih takut pada tuan Andra." Jawab sang bawahan dan satpam yang sedang berusaha mengeluarkan Jihan.
"Awas kalian semua...!!!" teriak Jihan dari luar restoran, lalu ia segera masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya. "Jalan pak, kita ke kantor ayah." Ia berharap kali ini ayahnya bisa membantu, karena sudah di permalukan seperti tadi.
,,,
"Maaf..." Ucap Andra, saat ini mereka sudah berada di dalam mobil meninggalkan tempat yang sempat gaduh tadi.
"Haaa.. kenapa kak?" Sejujurnya gadis itu tidak tau kenapa pria di sebelahnya meminta maaf.
Andra menepikan mobilnya, di bawah pohon besar agar lebih sejuk. Ia menghadap ke samping, membuat tatapan mata mereka bertemu karena Sabil sedang menatapnya tadi.
"Tidak kak, hanya sedikit kaget saja."
Oh.. jadi ini yang membuat kak Andra meminta maaf. Pikirnya.
Tangan Andra terangkat, mengusap lembut kepala Sabil. Lalu membawa gadis itu masuk dalam pelukannya. Nyaman, keberadaan Sabila memang selalu membuatnya menjadi lebih baik, hanya memandang nya saja Andra mampu meredam emosi nya.
"Apa kau tau, aku tidak akan membiarkan ada orang yang mengganggu mu. Bahkan kau jadi tak melanjutkan makan mu tadi."
Sabil hanya diam, ia semakin terkejut oleh Andra yang tiba-tiba memeluk nya. Wajahnya yang menempel pada dada bidang lelaki itu, dapat dengan jelas mencium aroma maskulin yang menyeruak ke hidung nya. Bahkan kini Sabil dapat mendengar detak jantung Andra.
Kenapa rasanya nyaman sekali, harumnya, suara detak jantungnya, dan dada yang keras ini kenapa begitu nyaman. uhhhh....
Tanpa sadar Sabil malah menyelusupkan wajahnya, dan membalas pelukan Andra. Dia rupanya menyukai kegiatan itu sekarang. Ia sampai tak mendengar apa yang lelaki itu katakan.
__ADS_1
"Apa kau dengar Sabila?" Tanya Andra, pasalnya ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari gadis di pelukan nya.
"Ehh... iya kak." Jawab Sabil, kemudian ia melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh. Wajahnya merona malu, ia malah begitu menikmati pelukan itu.
"Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Andra yang melihat wajah Sabil begitu memerah, lalu ia menempelkan punggung tangannya pada dahi gadis itu.
"Tidak kak, aku tidak apa-apa." Kini Sabil semakin malu, ia pun memalingkan wajahnya tak berani lagi menatap Andra.
Jari telunjuk Andra bergerak mengangkat dagu Sabil, ia tak percaya begitu saja. Di perhatikan nya pipi Sabil yang bagai tomat segar itu.
Sabil pun tak percaya, ia sedang berusaha memalingkan wajahnya malah sekarang di buat berhadapan lagi.
"Kak..." Rengek Sabil, sembari berusaha menyingkirkan jari jemari Andra. "Aku tidak apa-apa."
Andra mengerutkan keningnya, kemudian sudut bibirnya terangkat. "Apa kau sedang merasa malu..." ujarnya menggoda Sabil.
"Kak..." Sabil di buat kesal. Lelaki itu malah menggodanya. Kini ia memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil.
"Kamu menggemaskan sekali Sabila..." Ujar Andra dengan sedikit terkekeh. "Hai... coba lihatlah kemari."
"Tidak mau kak."
"Ayo Sabila, berbaliklah!" Ujar Andra lagi. Ia ingin sekali menggigit gemas gadis di depannya itu.
Sabil tidak mau menuruti perintah Andra. Ia masih saja berpaling, ingin rasanya ia menghilang saat ini juga.
°°°
Xiexie
__ADS_1