
°°°
Disinilah Andra sekarang di sebuah restoran mewah. Menyiapkan makan malam romantis untuknya dan Sabila.
Semuanya sudah siap, ia juga sudah menyiapkan cincin yang bertahtakan berlian. Yang sudah dari lama ia pesan. Kini ia akan menemui pak Mul untuk membicarakan tentang rencana pernikahan.
Dalam perjalanan, Andra beberapa kali membuka kotak cincin yang ia simpan di saku jasnya. Membayangkan jari manis Sabila memakai cincin darinya. Sebentar lagi gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta itu akan menjadi pendamping hidupnya.
Tak henti-hentinya Andra mengumbar senyuman, bahkan bersenandung kecil saat mengendarai mobilnya. Namun, tiba-tiba senyumnya memudar saat mengingat kalau ia belum tau seperti apa perasaan Sabil padanya. Jika dilihat dari kejadian di kantor waktu itu, bisa dianggap kalau gadis itu juga mempunyai perasaan yang sama. Tapi Andra sedikit khawatir, bagaimana jika Sabil menolak lamarannya yang mendadak ini.
Semoga saja pikiranku salah. Yaa pasti Sabil juga mencintaiku...
Sampailah Andra di depan sebuah rumah yang tak terlalu besar namun tampak begitu nyaman saat dilihat. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Bagaimanapun ia akan berbicara pada calon ayah mertuanya.
Andra turun dari mobilnya dan berjalan memasuki halaman rumah Sabil. Tampak sepi, mungkin gadis itu sedang tidak di rumah. Saat siang Sabil memang lebih banyak menghabiskan waktunya di toko kue ayahnya yang hanya terpisah oleh tembok kokoh yang cukup tinggi.
Tok, tok, tok
Andra mengetuk pintu rumah itu.
Tapi tidak ada sahutan dari dalam, sampai ketukan yang ke tiga kalinya barulah pintu itu terbuka.
"Siang ayah..." Sapa Andra, tak lupa ia juga mencium punggung tangan pak Mul.
"Nak Andra. Maaf ayah tidak mendengarnya tadi, apa kau sudah lama?" Ujar pak Mul.
"Tidak apa yah, aku juga belum lama baru beberapa menit yang lalu."
"Ayo masuk nak, duduklah..." Lalu Andra duduk di kursi sofa ruang tamu.
"Apa kau mencari Sabila, dia pasti di toko. Biar ayah panggilkan..."
" Aku ingin berbicara pada ayah." Ujar Andra tanpa basa-basi.
Pak Mul yang hendak berbalik dan pergi mencari putrinya pun ikut mendudukkan dirinya di sofa.
"Ada apa nak, katakan saja..."
"Ayah aku mencintai Sabila putrimu," ujar Andra, ia belum melanjutkan niatnya sampai melihat bagaimana reaksi pak Mul.
Pak Mul tersenyum, "Aku tau nak, tanpa kau memberitahu ayah bisa melihatnya. Bagaimana kau memperlakukan putri ayah."
Andra malu jadinya, rupanya selama ini pak Mul tau bagaimana perasaannya.
__ADS_1
"Jadi apa yang membuatmu datang kemari, kalau hanya itu kau bisa mengatakannya langsung pada Sabil," ujar pak Mul.
"Aku ingin melamarnya malam ini dan secepatnya menikahi putrimu ayah..." ujar Andra, ia pun menceritakan semua rencana yang sudah ia susun.
"Kau yakin." Pak Mul tampak mencari kebohongan di mata Andra. Namun beliau tak menemukanhnya.
Tak lupa Andra juga menceritakan tentang mommy nya, permintaan sang mommy yang memintanya datang bersama Sabila.
"Ayah mengerti, kalian bisa mendaftar pernikahan dulu untuk mendapatkan sertifikat pernikahan."
"Benarkah... Apa ayah tak masalah?" tanya Andra dengan mata berbinar.
" Tentu, kalian saling mencintai, jadi untuk apa di tunda," ujar pak Mul.
"Tapi aku ingin membicarakannya dulu dengan Sabila, bolehkah malam ini aku mengajaknya makan malam."
"Tentu, kalian yang akan menjalaninya jadi kalian harus membicarakannya dulu." Pak Mul memang selalu berpikir bijaksana.
Sedangkan di toko kue ayahnya Sabil baru saja mendapat kabar bahwa mobil Andra terparkir di depan rumahnya. Ia pun buru-buru pulang ke rumah.
"Kak Andra..." Ujar Sabil saat melewati pintu rumahnya yang terbuka.
"Nak... duduklah temani nak Andra," ujar pak Mul, lalu ia masuk kedalam.
"Belum...hmmm..." jawab Andra dengan mengulas senyum untuk gadis kecilnya.
"Biar aku ambilkan minum untuk kak Andra." Sebenarnya itu hanya alasan untuk menghindari kecanggungan. Bukannya tadi ia begitu antusias saat tau lelaki itu ada di rumahnya tapi kenapa sekarang malah mau menghindar.
Baru saja Sabil mengangkat tubuhnya tapi Andra sudah menahannya.
"Kau mau kemana, duduk saja." Ujarnya seraya menarik pelan tangan Sabil agar duduk kembali. Bahkan tubuh mereka sekarang sedikit berdekatan. Membuat Sabil dag dig dug saja.
Ini di rumah dan ada ayah yang bisa sewaktu-waktu datang. Kak Andra tidak mungkin berbuat aneh-aneh kan?
Pikiran gadis itu sudah melayang entah kemana. Apa lagi saat ini tangan Andra seperti enggan melepaskan tangan halus Sabil.
"Aku ingin mengajakmu makan malam di luar malam ini... Berdandanlah yang cantik. Nanti akan ada orang yang mengantarkan gaun kemari." Ucapan Andra mampu menghipnotis Sabil, yang membuat gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Gadis pintar," ujarnya lagi, seraya mencubit gemas hidung mungil Sabil.
"Mmm... Apa yang kakak bicarakan dengan ayah barusan?" Tanya Sabil yang penasaran, pasalnya raut wajah Andra dan ayahnya terlihat serius saat ia baru sampai.
"Tidak ada hanya membicarakan mu." Ujar Andra tersenyum jahil.
__ADS_1
"Ihhh... kak Andra," rengek Sabil yang melihat senyum jahil lelaki itu.
"Peffttt ... Aku serius, kami membicarakan mu. Tanyakan saja pada ayahmu."
"Untuk apa membicarakan ku," ujar Sabil mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba Andra meraih pinggang Sabil hingga jarak diantara mereka terkikis. Kemudian ia berbisik di telinganya.
"Untuk melamar mu."
Sabil terkejut, bukan hanya karena apa yang dikatakan Andra tadi tapi juga karena jarak mereka yang terlalu dekat. Khawatir ayahnya akan melihat, Sabil pun mendorong pelan dada Andra agar sedikit menjauh.
Tapi bukan Andra namanya jika ia melepaskan Sabil begitu saja, ia semakin mendekatkan tubuhnya. Membuat tubuh Sabil mundur kebelakang.
"Kak... jangan seperti ini, ada ayah," ujar Sabil.
"Jadi kalau tidak ada ayah boleh lebih dekat begitu..." Senyum penuh arti terbit di wajah tampannya.
"Bukan seperti itu..."
"Hahaha... pipimu gampang sekali memerah," ujar Andra meledek.
"Kak..." Sabil mendorong tubuh Andra dengan sedikit kuat, dan berhasil membuatnya terbebas dari lelaki itu.
"Kakak menyebalkan sekali," gerutu Sabil.
Kekesalan Sabil justru membuat Andra semakin senang, karena wajah gadis itu terlihat menggemaskan.
"Nak Andra, ini yang kau butuhkan semuanya ada di dalam sini," ujar pak Mul, seraya menyerahkan amplop coklat ukuran besar.
"Terimakasih ayah, kalau begitu aku akan pergi sekarang," kata Andra setelah ia menerima apa yang di berikan pak Mul.
Andra pun pamit, bukannya tidak ingin berlama dengan gadis yang sudah memenuhi hatinya itu. Tetapi banyak hal yang harus ia urus.
Restu ayah Sabil sudah ia kantongi, kini bagaimana nasibnya hanya tergantung jawaban yang akan gadis itu berikan.
°°°
Xiexie
Tak pernah bosan author berterimakasih pada readers semua yang sudah memberikan dukungan dan mau meninggalkan jejaknya.
Semoga karya author bisa membekas di hati kalian....
__ADS_1