Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab23 Menuju Lulus


__ADS_3

°°°


Wajah tegang terlihat pada raut wajah kelas tiga sekolah menengah atas itu. Nilai ujian akan menentukan kemana mereka dapat melanjutkan studinya.


Ujian telah usai namun belum juga bisa membuat mereka tenang. Para siswa/i tentu sudah mempunyai kampus impian yang akan di tujunya. Maka nilai mereka harus memuaskan jika ingin di terima di kampus ternama.


Tapi wajah tegang sama sekali tak terlihat pada tiga siswa terkenal itu. Andra dan kawan-kawan, mereka tampak biasa saja. Alex yang biasa dengan nilai pas-pasan pun biasa saja. Karena impiannya ialah menjadi pembalap. Baginya menjadi pembalap tak perlu otak yang terlalu pintar. Asal ia rajin latihan saja pasti bisa menjadi pembalap hebat.


"Za, kamu jadi kuliah di Landon?" tanya Alex.


"Hmm... aku ingin jadi dokter bedah termuda."


"Apa kau tidak bosan, tidak ingin mencoba profesi lain? Ayah, ibu kakek dan pamanmu juga dokter."


"Karena mereka lah aku tertarik, banyak bagian dari tubuh manusia yang sangat menarik untuk di pelajari. Seperti... tubuhmu jauh lebih tinggi di pagi hari dari pada malam hari." Ujarnya dengan senyum mengejek.


Diantara mereka bertiga memang Alex lah yang bertubuh paling pendek. Namun tak mengurangi kadar ketampanan nya, buktinya ia masih banyak digilai para gadis.


"Si*laann... awas kau!!"


"Hahaha.." Reza semakin semangat menertawakan temannya itu.


Reza memang sudah tertarik pada dunia kedokteran sejak kecil. Meskipun ia kadang kesal orang tuanya hanya punya sedikit waktu untuk nya. Terkadang panggilan dari rumah sakit bisa sewaktu waktu terjadi. Bahkan dulu saat sedang merayakan ulang tahun nya ayahnya pergi begitu saja.


Tapi yang membuat Reza bangga adalah saat ayahnya berkata, Berhasil menyelamatkan pasien adalah pencapaian yang luar biasa dan senyum dari keluarga pasien adalah reward nya.


Alex tak terima mendapat ejekan dari temannya. "Lihatlah meski aku tak setinggi kalian, tapi diantara kita akulah yang paling banyak mempunyai mantan." Ujarnya, membanggakan diri sendiri.


"Hai... bahkan jika tuan muda kita mau hanya dengan mengedipkan matanya, maka para wanita akan datang dengan sendirinya. Tak perlu menggunakan rayuan gombal seperti mu." Tawa Reza semakin menggema, perutnya sampai terasa kaku dan matanya sampai berair.


Alex kalah telak sekarang. Awas kau berani menertawakan ku!


Mereka berjalan menyusuri lorong sekolahnya. Mengekor di belakang tuan tampan Andra yang berjalan di depan.


Kedua temannya di belakang masih sibuk saling mengejek. Andra tak menghiraukan mereka, ia terus saja melangkahkan kakinya.


"Kenapa kita lewat sini?"


Alex sudah setengah sadar sedari tadi ia hanya terus berjalan mengekor di belakang. Namun tak biasanya mereka akan berjalan ke arah sini.


Reza yang masih merasa kram di perutnya akibat puas tertawa pun ikut tersadar.


Ia menepuk bahu Andra. "Kau mau kemana An?"

__ADS_1


"Hanya ingin lewat jalan lain saja, mumpung kita masih berada di sekolah ini." Jawab Andra.


Itu hanya alasan, ia juga tidak tau mengapa kakinya sangat ingin berjalan ke arah itu.


"Shitt... Kalau ke sini aku bisa bertemu dengan gadis itu."


Alex hapal betul lorong itu, karena sering kali Shila mengajak Alex ke kelasnya.


"Siapa? pacar mu ?"


Bukannya menjawab Alex justru menoleh ke kiri dan kanannya. "Aman" gumamnya.


"Cari apa kamu." Reza heran melihat tingkah Alex.


"Aku duluan cari jalan yang aman."


Alex bergegas melangkahkan kakinya, baginya bertemu gadis menyebalkan yang saat ini berstatus sebagai pacarnya, itu amat melelahkan.


"Dasar aneh." Cibir Reza.


Kemudian ia mensejajarkan langkahnya dengan Andra.


"Andra, Reza.."


Mereka menoleh mencari sumber suara.


"Kenapa kalian hanya berdua? Dimana Alex?"


Rupanya itu Shila, pantas saja Alex buru buru pergi. Reza dan Andra sama sama tau bagaimana awal mula hubungan mereka terjadi.


"Kami sedang tidak ingin bersama..." Jawab Reza asal.


Gadis itu mencebik kesal rupanya. Ia sudah bisa menebak pasti kekasihnya sengaja menghindarinya.


Shila menghentak-hentakkan kakinya, berjalan begitu saja setelah mendapat jawaban yang tak memuaskan.


"Mereka memang cocok." Ujar Reza menatap tingkah Shila tadi.


Sedang Andra masih diam, tentu saja ia tak akan menanggapi sesuatu yang tak begitu penting menurutnya. Kembali ia melangkahkan kakinya, di ikuti Reza kemudian.


Sampailah ia di depan kelas gadis manisnya. Ia sengaja memelankan ritme jalannya. Berharap gadis itu ada di kelasnya. Entahlah ia sangat ingin melihat wajah gadis itu sekarang. Karena tak seperti biasanya gadis itu tak berada di perpustakaan.


Sedari tadi Sabil tertahan di kelas. Ia sibuk menenangkan gadis yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Bohong jika Rani tak merasa takut bila berjauhan dengan Dion sang kekasih. Pasalnya ia merasa para gadis kampus itu terlihat lebih menggoda. Padahal ia sudah sangat menyiapkan hatinya, dan mencoba berpikir positif. Seperti apa yang kemarin mereka bahas di taman belakang rumah nya.


"Sabil bagaimana jika kak Dion berubah, bagaimana jika banyak gadis nekat di kampus nya kelak." Kata kata itu sudah berulangkali ia ucapkan pada Sabila.


"Kak Dion bukan lelaki yang akan gampang jatuh cinta pada seseorang. Kau saja mengenalnya dari kecil kan?"


Sabil mengeluarkan pemikiran positif nya.


Rani tampak lebih tenang sekarang.


Tanpa Sabil sadari, sejak tadi ada sepasang mata elang yang memperlihatkan nya.


Bibirnya terangkat, akhirnya wajah polos nan manis Sabil mengobati rindu tuan muda.


"Apa yang kau lihat? sampai membuatmu tersenyum."


Reza yang sedari tadi memperhatikan wajah temannya. Kemudian ia mengikuti arah pandang bola mata Andra.


"Apa aku tidak salah, barusan kau memperhatikan seorang gadis."


Reza memperhatikan siapa gadis yang di lihat sahabatnya.


"Itu Sabila, gadis yang selalu bersama Rani dan Dion. Memang gadis itu cukup manis dan menggemaskan, aku bahkan sempat tertarik padanya."


Seketika ucapannya mendapat tatapan tajam dari Andra.


"Hahaha... tenang saja itu dulu sebelum kau tertarik. Jika sekarang tuan muda tertarik pada seorang gadis mana mungkin aku mau berebut dengan mu. Aku seharusnya bersyukur, status jomblo abadi mu nampaknya tak lama lagi."


Andra tak menanggapinya, ia berlalu meninggalkan Reza yang masih memamerkan deretan giginya.


"Hai... mau kemana lagi. Kau tak ingin masuk dan menghampirinya." Teriakkan Reza membuat para siswa/i menoleh, termasuk Sabil dan Rani.


Tentu saja para gadis langsung heboh, tak biasanya mereka melihat pemandangan yang menyejukkan mata.


"Kak Reza dan kan Andra, tumben mereka melewati kelas kita." Ujar Rani.


Sabil pun melihat, dan pandangan matanya menatap lelaki yang sedang berjalan dengan gagahnya di antara riuhnya kerumunan gadis gadis.


Dan tak sengaja Andra menoleh, mata mereka bertemu. Seperti mendapat sengatan aneh pada dada Sabil. Jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Tatapan itu menusuk dalam hingga debaran di dadanya kian cepat dan semakin cepat.


Sabil mengalikan pandangannya. Ia tak ingin Rani mendengar suara detak jantung nya yang berdebar hebat. Untung saja suara riuh masih menggema.


°°°

__ADS_1


Xiexie


__ADS_2