Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab66 Didalam Ruangan


__ADS_3

°°°


Sebenarnya ada yang Sabil ingin tanyakan, sesuatu yang sedari tadi membuatnya gelisah. Meski tadi ia sudah melihatnya sendiri bagaimana wanita yang mengaku calon nona muda itu diseret paksa untuk keluar dari perusahaan itu, tapi hatinya masih tidak tenang jika belum bertanya. Lalu ia memberanikan diri untuk bertanya pada assisten Toni.


"Wanita tadi itu..."


"Wanita tadi hanya mengaku-ngaku saja, tuan muda sama sekali tidak mengenalnya. Perusahaan ayahnya bekerja sama dengan tuan muda, jadi mereka mengira jika bisa menjalin hubungan yang lebih dengan pemilik perusahaan Adiguna." Toni menjelaskan dengan sangat detail, lelaki itu tau apa yang menyebabkan gadis itu gundah.


Ahh Sabil lega rasanya mendengar penjelasan assisten Toni. Namun, ia juga malu. Ternyata assisten Toni tau apa yang ada di pikirannya.


"Mmmm... Aku hanya penasaran saja," ujar Sabil, tak mungkin kan ia mengaku kalau dirinya cemburu.


Assisten Toni hanya tersenyum menanggapi nya.


Tok, tok, tok


"Permisi tuan muda, nona Sabil ingin menemui anda." Ujar Toni melapor, sebenarnya ia sudah menyuruh Sabil langsung masuk saja tapi gadis itu tidak mau dengan alasan takut mengganggu.


Andra yang mendengar langsung menghentikan pekerjaannya. Raut wajahnya berubah seketika, yang tadinya banyak kerutan di dahinya kini merekahkan senyumnya.


Toni sudah menduga seperti apa reaksi sang tuan muda.


"Biarkan dia masuk," ujar Andra.


"Silahkan nona." Toni membukakan pintu ruangan itu lebar, agar Sabil bisa masuk.


"Kak..." Sapa Sabil, dia jadi gugup lagi sekarang.


"Saya permisi tuan, nona." Toni pamit undur diri, tak mau mengganggu waktu tuan mudanya.


"Kenapa tidak bilang mau kemari, aku bisa menjemput mu," ujar Andra begitu lembut, dan ia berjalan menghampiri Sabila yang masih berdiri di dekat pintu.


"Ayo duduk..." Ujarnya lagi seraya menuntun Sabil ke arah sofa.


"Apa kak Andra sibuk? Apa aku mengganggu?" Sabil bertanya dengan menunduk.


Andra membelai lembut rambut Sabil.

__ADS_1


Kau memang mengganggu sangat menggangu bahkan saat kau tidak ada pun kau tetap mengganggu ku, tidak pernah membiarkan hatiku berhenti merindukan mu.


"Tidak... Hmmm..." Andra masih bermain-main dengan rambut panjang Sabil.


"A..ku kemari karena ayah menyuruhku membawakan makan siang untuk kak Andra. Tapi ini sudah dingin dan tidak enak dimakan." Sabil sedikit kecewa karena setelah lama menunggu tapi makanan yang ia bawa tidak bisa dimakan.


"Apa kau sudah lama disini, kenapa bisa dingin," ujar Andra menyelidik.


"Ahh tidak kak, tadi hanya ada sedikit kesalah pahaman saja. Maaf kak, lain kali aku akan membawakannya lagi." Hampir saja.


"Kakak lanjutkan pekerjaan saja, aku akan melihatnya dari sini. Hehehe..." Sabil mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku belum memakannya," ujar Andra.


"Apa kak?" Tanya Sabil yang tak mengerti.


Andra pun menunjuknya menggunakan bola matanya.


"Tapi ini sudah dingin kak," ujar Sabil.


"Tapi kak..."


"Sudah, cepat siapkan."


Sabil pun mulai menata satu persatu makanan yang ia bawa. Memang benar, meski sudah dingin saja harumnya masih sangat menggugah selera.


Mereka akhirnya menghabiskan makanan itu sampai tak tersisa. Masakan pak Mul memang juara. Ehh ia mereka, karena Andra pun turut mengajak Sabil untuk makan walaupun gadis itu bilang sudah makan.


"Aku kenyang sekali. Masakan ayah tak pernah mengecewakan," ujar Andra sambil mengusap perutnya.


"Aku bahkan lebih kenyang kak. Padahal aku sudah makan tadi sebelum kesini tetapi dipaksa makan lagi." Sabil mencebik kesal dibuatnya. Saat Sabil menolak tadi Andra tetap saja menyuapkan makanan kedalam mulut Sabil.


Andra hanya tersenyum melihat Sabil kesal.


Sabil membereskan kembali tempat makanan yang sudah kosong itu. Andra pun masih duduk bersandar di sofa.


"Aku pulang duluan kak," ujar Sabil.

__ADS_1


Sontak Andra bangkit mendengar ucapan Sabil.


"Kau tunggu disini sebentar, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dan kita pulang bersama," ujarnya, lalu bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya. Sabil pun menurut, ia tak punya alasan untuk menolak.


Beberapa saat kemudian.


Sabil merasa bosan karena tidak ada yang bisa ia lakukan di ruangan itu. Ia juga tidak membawa ponselnya, setidaknya jika ada ponsel ia bisa memainkannya. Sudah beberapa majalah di atas meja yang ia baca, membolak-balik halaman berulangkali.


Sesekali Sabil juga melihat Andra yang sedang bekerja. Ketampanan nya bertambah saat sedang serius. Ia senang sekali bisa memandangi lelaki itu, setidaknya bisa menjadi bekal beberapa hari ke depan.


"Kalau kau terus melihatku seperti itu, aku tidak akan konsen dengan pekerjaan ku Sabila..." Ujar Andra tiba-tiba dan pandangan matanya masih pada layar monitor. Ucapan Andra sontak membuat Sabil terkejut sekaligus gugup, pikirnya lelaki itu tak menyadari kalau ia memandangi nya.


Sabil pun memalingkan wajahnya yang sudah memerah menahan malu. Lalu pandangannya tertuju pada rak buku yang ada di sana. Ia sedikit tertarik untuk membaca buku, lalu berdiri dan mencari buku yang menarik untuk dibaca.


Kebanyakan buku yang ada di ruangan itu tentang bisnis dan ekonomi, tapi Sabil tetap membacanya. Bahkan sedikit menarik bagi Sabil yang memang hobi membaca.


Satu buku sudah habis Sabil baca tapi Andra belum juga selesai dengan pekerjaannya. Lalu ia kembali meletakkan buku itu pada rak dan berniat mencari buku yang lain. Namun ada satu dereta buku yang membuat mata Sabil tertarik, tepatnya buku novel.


Ada novel juga disini, tapi tinggi sekali. Sepertinya aku tidak bisa meraihnya. Biar aku coba dulu.


Sabil sampai berjinjit-jinjit untuk mengambil buku itu, tapi tangannya tak sampai juga.


Huuufff... Ia sampai menghela nafasnya.


Tak kehabisan akal gadis itu melompat agar bisa mengambil buku yang ingin dibaca. Sedikit lagi padahal ia bisa sampai, tapi ia menyerah. Saat berbalik tak disangka Andra ternyata sudah berdiri di belakangnya dengan posisi yang amat dekat.


"Apa kau tidak bisa meminta tolong," ujar Andra sedikit kesal.


Sabil menggigit bibir bawahnya, Ini terlalu dekat aku tidak bisa bernafas.


Posisi mereka yang hampir bersentuhan membuat Sabil tak nyaman. Ingin mendorong tubuh lelaki itu tapi ia tak berani.


°°°


Xiexie


Terimakasih atas dukungan kalian.

__ADS_1


__ADS_2