
°°°
Rani sudah berada di dalam, tak banyak yang mengikuti audisi ini, mungkin karena bukan perusahaan yang besar. Kebanyakan memang sebagian orang lebih memilih R'entertainment di sana sudah pasti namanya akan di kenal banyak orang.
Beberapa gadis yang usianya tidak jauh beda dengan Rani nampak berpenampilan rapi dan menarik. Audisi sudah di mulai, mereka masuk bergantian sesuai urutan nomor yang di tempel di baju. Ya saat masuk dan mendaftar mereka akan mendapatkan nomor antrian.
Rani semakin gugup sekaligus gelisah. Jantungnya memompa lebih cepat, ia terus berusaha menahan kegugupan nya. Sambil membaca dialog yang akan dia ucapkan nanti saat audisi.
Ia mendapat nomor antrian yang ke tujuh dan sekarang sudah sampai no lima yang masuk ke ruang audisi. Semakin guguplah Rani, andai tadi ia membawa sang kekasih masuk pasti akan ada yang menenangkannya.
"Antrian no tujuh silahkan masuk." Terdengar suara panggilan dari dalam ruangan.
Rani segera berdiri dan mengatur nafasnya lagi. Ayo Rani, kamu pasti bisa.
Seperti kata Rani tadi, Dion sekarang sudah duduk di kedai sebrang jalan. Sebenarnya ia ingin sekali masuk, tapi gadis itu tak membiarkannya menemani di dalam. Rani tidak mau orang orang di perusahaan itu tau kalau ia datang bersama CEO R'entertainment. Gadis itu benar benar menginginkan kesuksesan atas usahanya sendiri.
Satu cangkir kopi latte yang di pesannya sudah hampir habis. Rani belum juga mengabarinya.
Apa semua baik-baik saja di dalam sana.
Resahnya.
Pluk...
Satu tepukan mendarat di kedua pundak Dion.
"Maaf lama kak." Ujar Rani yang saat ini masih berdiri di samping kekasih nya itu.
Dion meraih tangan Rani lalu mengusap nya lembut, "Hmmm... Tidak apa apa. Apa sudah selesai? Bagaimana hasilnya?"
Rani tak langsung menjawab sengaja membuat Dion penasaran.
"Kenapa... Ada masalah?" Tanya Dion lagi.
__ADS_1
Rani hanya menggelengkan kepalanya kemudian memasang wajah sendu. Sontak membuat Dion mengepalkan tangannya, Siapa yang berani menolak gadisku.
"Kak..." Panggil Rani.
"Iya sayang, duduklah." Rani duduk di kursi yang berada di depan Dion saat ini. "Tidak apa-apa, kita bisa mencoba di tempat lain." Dion mencoba menenangkan kekasih nya untuk tidak bersedia.
Rani yang masih menunduk pun tak kuat lagi menahan tawanya. "Hahahaha... Apa kakak pikir aku akan gagal?"
Dion menyerngitkan heran.
"Aku diterima kak." Ujar Rani dengan menekankan kalimat nya.
"Benarkah..."
"Iya kak, aku di terima menjadi pemeran utama wanita."
"Jadi kau mengerjai ku tadi?" Tanya Dion dengan sedikit menyipitkan matanya.
"Hehehe... maaf ka." Rani mengatupkan kedua tangannya didepan wajah nya.
Rani hanya menyunggingkan senyumnya.
"Ayo..." Dion mengajak Rani pergi dari kedai kopi itu. Dan dengan senang hati Rani menyambut tangan sang kekasih. Mereka berjalan bergandengan tangan, saling melempar senyum. Sungguh pemandangan yang membuat iri.
"Kita cari makanan dulu, ini sudah lewat jam makan siang. Tenaga mu pasti terkuras habis tadi untuk audisi." Dion melihat wajah cantik kekasih nya yang tampak lelah. Dia tidak bisa berbuat banyak, menghargai setiap keputusannya. Membiarkan kekasihnya meraih mimpi dengan usaha nya sendiri. Tapi ia berjanji akan selalu ada jika Rani membutuhkannya.
"Iya kak, aku memang agak lapar."
"Hmmm..." Dion mengusap kepalanya Rani. "Ingin makan apa?"
"Aku ingin makan steak, spaghetti, kentang goreng, lalu sayap ayam tepung, terus..."
"Hai... kau itu mau jadi artis tapi mau makan makanan seperti itu." Dion menggelengkan kepalanya, mendengar Rani menyebutkan beberapa macam makanan yang ingin di makannya.
__ADS_1
"Hehehe... Aku janji ini yang terakhir kak. Please." Lagi-lagi gadis itu memasang wajah memohonnya.
Dion tak menanggapi, tadi Rani sudah mengerjainya. Kini giliran ia akan memberi sedikit hukuman.
"Kak, ya ya ya..."
"Syutingnya masih dua minggu lagi kak, masih lama."
Rani terus saja memohon, ia sungguh lapar saat ini dan ingin makan besar untuk terakhir kali sebelum besok mulai dengan dietnya.
Sudah lelah rupanya ia memohon. Namun tak kunjung mendapat respon.
Tanpa Rani sadari mobil yang di tumpangi nya kini telah berbelok di sebuah restoran. Matanya berbinar begitu menyadari.
"Kak Dion mengerjai ku." Ia memukul lengan kokoh sang kekasih.
Dion hanya tersenyum.
"Ihh kak Dion, kakak ngerjain aku, nyebelin banget sih..." Rani mengerucutkan bibirnya.
Cup
Tanpa aba-aba Dion mendaratkan bibirnya di bibir Rani. Gadis itu membulatkan matanya, sedikit kaget tapi tak membuatnya mendorong lelaki yang sedang menempelkan bibirnya itu.
Hanya menempel dan tidak ada pergerakan di sana. Keduanya sama-sama merasakan kehangatan yang tercipta.
Dion menarik kepalanya sedikit menjauh.
"Ini sedikit hukuman untukmu," ujar Dion sambil berbisik.
Rani langsung menjauh dan mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Pipinya sudah memerah, jantung nya pun tidak bisa di kondisikan.
°°°
__ADS_1
Xiexie