
°°°
Perpisahan terjadi begitu lama, untung saja Tuan dan Nyonya Adiguna itu pergi menggunakan pesawat pribadi. Jika menggunakan pesawat umum mungkin sudah tertinggal jauh dari tadi.
Setelah memastikan pesawat yang Daddy dan Mommy lepas landas, Andra dan Sabil beserta pak Tantan pun pergi meninggalkan bandara.
Pak Tantan pergi sendiri langsung menuju perusahaan, sedangkan Andra tentu mengantar tuan putri nya lebih dulu.
Sabil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, matanya menatap keluar jendela. Andra pun fokus menyetir. Matahari mulai mencapai puncaknya, terik sinar nya mampu menembus dinginnya AC mobil. Ya mungkin pendingin nya rusak atau matahari nya yang terlalu panas, pasti karena parahnya pemanasan global di bumi ini.
"Kau mau makan dulu?" Tanya Andra.
Sabil terkesiap, ia tadi sedang menikmati pemandangan jalanan ibukota. Mungkin itu membosankan bagi sebagian orang, tidak bagi Sabil. Ia tak pernah bosan memandang sesuatu, seperti membaca buku walaupun sudah pernah ia baca tapi tetap saja di baca ulang. Apa kalian tau? Bagi Sabil setiap kita mengulang apa yang kita lihat pasti akan ada sudut pandang yang berbeda-beda.
"Boleh aku juga sudah lapar." Kalau tentang makanan Sabil tidak menolak, mungkin di awal ia akan canggung tapi jika sudah mengenal gadis itu tak akan segan.
Tak butuh waktu lama, Andra sudah membelokan mobilnya di parkiran sebuah restoran western kali ini. Bisa Sabil simpulkan, kalau lelaki itu bukan tipe yang pemilih dalam makanan. Sudah sering mereka makan di luar, dan ada berbagai macam jenis restoran yang pernah di kunjungi.
"Kita makan di sini," ujar Andra, bukan pertanyaan atau penawaran tapi lebih ke sebuah perintah.
Sabil mengangguk, ia tak masalah makan dimana saja asal perutnya bisa terisi.
Mereka sudah berada di dalam, di sana cukup sepi jadi lumayan lah Sabil tidak jadi pusat perhatian. Ya biasanya jika makan di tempat yang ramai, gadis itu tidak bisa menikmati makanan nya tatapan mata para gadis membuatnya risih.
"Satu spaghetti bolognese dan satu fish and chips, lalu dua porsi steak daging yang satu matang dan setengah matang." Ujar Andra pada pelayan yang menghampiri mereka.
"Atau kau ingin yang lain?" Tanyanya pada Sabil.
__ADS_1
"Tidak itu saja," jawab Sabil sambil menggeleng.
"Itu saja mbak," Ujar Andra lagi pada si pelayan, tanpa menoleh tentunya. Sombong bisa di bilang begitu. Andra memang seperti itu, ia tidak akan tersenyum pada sembarang orang.
"Baik, silahkan di tunggu tuan, nona." Untunglah pelayan itu sudah di gaji, mereka tetap bersikap sopan walaupun pembeli nya sombong atau apapun yang penting makanan yang mereka sudah makan itu jangan lupa di bayar, itu sudah cukup agar gaji mereka bisa tepat waktu atau kalau bisa bisa dapat bonus, maunya...
Tak butuh waktu lama, masakan pesanan Andra dan Sabil sudah di sajikan di meja. Mungkin itu kelebihan makan di restoran berbintang, pelayan nya begitu sopan dan cekatan.
Steak dengan daging yang di masak setengah matang berada di depan Andra, sedang Sabil tentu memilih yang matang sempurna. Gadis itu tidak terbiasa memakan makanan dengan tingkat kematangan tidak sempurna.
"Ayo makan," ujar Andra.
Tentu Sabil sudah tau, makanan ada untuk di makan. Ia pun mengangguk dan mulai menyantap hidangan di depannya.
"Andra..." Tiba-tiba ada suara perempuan memanggil Andra. Sudah biasa memang pemuda itu di gilai kaum hawa, tapi biasanya mereka hanya sekedar mengagumi dari jauh tidak ada yang berani bergerak mendekat.
Sabila menoleh, ia melihat seorang perempuan yang kini berdiri hadapan mereka. Menatap Andra penuh damba. Cantik... menurut Sabil, pakaiannya yang modis dan terlihat berbranded dari atas sampai bawah, menunjukkan kalau gadis itu anak orang kaya.
Malah Sabil yang sedari tadi memperhatikannya. Apa kak Andra kenal. Pikirnya, sampai tak melanjutkan makannya.
Gadis itu belum menyerah juga, kali ini ia sudah duduk di kursi sebelah kanan Andra. Karena memang meja yang Sabil dan Andra tempati itu ada empat kursinya, yang dua tidak berguna memang karena mereka hanya berdua. Tapi kursi di samping Sabil itu cukup berguna untuk menaruh tas yang Sabil bawa.
Andra masih diam dan melanjutkan makannya. Tidak terganggu sedikitpun oleh kehadiran gadis itu. Tapi kemudian kepalanya terangkat dan menatap Sabil, dahinya berkerut.
"Kenapa kau belum menghabiskan makanan mu?" Tanyanya pada Sabil, yang justru sedang melamun sendiri.
"Ehh... iya kak." Lalu Sabil melanjutkan makannya, walau dengan perasaan yang tidak enak. Akhirnya Sabil hanya mengacak-acak makanan yang tak berdosa itu.
__ADS_1
"An, apa boleh aku bergabung disini?" Gadis tadi bersuara lagi.
Tangg....
Andra meletakkan garpu dan pisau di tangannya secara kasar.
"Apa kau tidak sadar kedatangan mu kesini sudah mengganggu kenyamanan kami !!!"
Bentak Andra.
"Pelayan...!!!" Panggil Andra sekarang.
Lalu satu pelayan mendekat sambil ketakutan melihat kemarahan sang tuan muda.
"Iy..iya tuan." Jawab pelayan itu dengan suara yang tergagap.
"Dimana manager kalian, bagaimana bisa kalian membiarkan kenyamanan tamu terganggu seperti ini!!!!" Ujar Andra dengan aura seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Pelayan itu hanya diam di tempat, tak tau harus berbuat apa. Dia hanya pelayan bagaimana bisa ia mengusir orang yang datang ke tempat itu.
Pak manager yang mendengar keributan pun mendekat, "Ada apa ini?" Tanyanya pada si karyawan yang sudah gemetaran itu.
"Kenapa restoran ini pelayanan nya begitu buruk, hah!!! Membiarkan tamunya tidak nyaman. Apa mau sekarang juga aku menutup restoran ini!!!" Bentak Andra penuh penekanan.
"Siapa anda berani mengancam sa...saya..." Ujar sang manajer yang baru menyadari sedang berhadapan dengan siapa.
Sabila masih melongo di tempat, baru kali ini ia melihat sisi yang lain dari seorang Andra. Lelaki yang biasanya begitu manis terhadapnya.
__ADS_1
°°°
Xiexie