
°°°
Permintaan sang Mommy masih terngiang-ngiang di telinga Andra.
"Mom juga merindukan Sabila..."
Bagaimana mengabulkan permintaan Mommy nya, mengajak Sabil menemui mommy begitu?
Bukannya Andra tidak mau tapi ia takut tidak diijinkan oleh ayah Mul. Ayah mana yang akan membiarkan anak gadis kesayangannya pergi jauh berdua dengan seorang pria. Apalagi pak Mul sangat menyayangi Sabil, putrinya bagai sebutir berlian yang amat ia jaga.
Andra memijit pelipisnya, memikirkan itu lebih sulit dibanding mengerjakan beberapa proyek.
Tok, tok, tok
"Sudah waktunya kita berangkat tuan," ujar Toni.
"Hmmm... kita berangkat sekarang."
Mereka berangkat ke tempat untuk meeting dengan pemilik perusahaan Y, yang akan bekerjasama dalam Mega proyek yang akan Andra kerjakan.
Dalam perjalanan, raut wajah Andra terlihat makin gusar. Sesekali Toni melihat atasannya itu dari kaca spion, ia bahkan sampai khawatir kalau atasannya itu akan menemui CEO perusahaan Y dengan raut wajah seperti itu.
Perusahaan Y yang terkenal sulit di ajak bekerjasama tidak beda jauh dengan perusahaan Adiguna.
"Mom menyuruhku datang bersama Sabila. Bagaimana menurutmu Ton?" Tanya Andra, siapa tau assistennya mempunyai solusi untuk permasalahan yang sedang ia hadapi.
"Anda bisa mencoba berbicara dengan nona Sabil dan mengajaknya pergi mengunjungi Nyonya," ujar Toni, lagi-lagi ia hanya menjawab sebisanya karena ia belum pernah menghadapi permasalahan yang menyangkut makhluk Tuhan yang susah dimengerti itu.
"Tidak segampang itu Ton. Ayahnya tidak akan mengijinkan Sabil pergi berdua denganku, meski mom sendiri yang meminta." Andra semakin pusing.
Toni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kalau hanya masalah seperti itu kenapa di buat susah, tuan muda ini...
"Apa yang harus aku lakukan Ton, agar ayah Mul mengijinkanku membawa anak gadis kesayangannya," ujar Andra.
"Anda nikahi saja nona Sabil secepatnya tuan." ceplos Toni.
__ADS_1
"Menikah..." Andra diam memikirkan ide yang terlintas dari assistennya.
Aku memang ingin menikahinya, tapi kau ingin memberikan pernikahan impian untuknya bukan dengan tergesa-gesa. Huhhh...
"Selamat siang tuan Gunawan..." Ujar Andra saat ia baru sampai di sebuah ruang privat restoran mewah.
"Selamat siang tuan Andra.." Mereka berjabat tangan saling memperkenalkan diri, karena ini pertama kalinya mereka bertemu.
"Saya tidak menyangka CEO Adiguna masih sangat muda dan sangat tampan. Sudah sering saya mendengar tentang anda di kalangan para pebisnis." Puji pak Gunawan.
"Anda bisa saja, saya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan anda yang sangat hebat bisa terus mempertahankan posisi perusahaan anda dalam dunia bisnis ini." Andra pun ikut menyanjung.
"Hahaha... apa kau sedang mengejekku anak muda. Sudah lama aku menjalankan bisnis tapi tidak bisa berada di posisi paling atas sepertimu." Perusahaan Y memang tak pernah di no urut satu tapi itu hebat menurut Andra. Karena mereka tidak pernah sekalipun turun dan tidak ada yang bisa menggeser posisi keduanya.
"Saya masih harus banyak belajar tuan Gunawan." Ujar Andra merendah.
"Kau seperti ayahmu... Oh iya sampai lupa, ayo duduk."
Andra dan Toni pun duduk berhadapan dengan Gunawan dan assistennya.
"Apa kau tahu kenapa aku mengajakmu bertemu di jam ini bukannya jam makan siang?" Tanya pak Gunawan.
"Anda ada janji lain tuan."
Pak Gunawan menggeleng, "Tepatnya janji dengan istriku, hari ini adalah hari anniversary kami yang ke 25. Aku selalu memberikan perayaan untuknya, karena dulu saat menikah aku belum kaya seperti sekarang hanya pernikahan sederhana yang bisa aku berikan. Tapi istriku tetap menerima dan selalu setia mendampingiku hingga seperti sekarang." Ujar pak Gunawan bersemangat
"Maaf saya tidak tau hati ini hari anniversary pernikahan kalian. Jadi kami tidak membawa hadiah." Andra merasa tidak enak karena kurang mencari tahu.
"Hahaha... Tidak apa-apa anak muda," ujar pak Gunawan dengan santai.
"Istri anda pasti wanita yang luar biasa," puji Andra.
"Hahaha... kau benar, dia wanita yang paling sabar yang pernah aku temui. Wanita adalah makhluk yang perasa dan sulit dimengerti, jadi kita sebagai harus lebih mengerti dan memperhatikannya. Dan yan paling penting, wanita selalu suka dengan ungkapan cinta. Menjadikan dia merasa menjadi wanita yang paling di cintai." Pak Gunawan begitu antusias menceritakan sang istri, terlihat beliau amat mencintai pasangannya.
Andra terdiam, ya sepertinya ada yang ia lewatkan.
__ADS_1
"Ada apa nak Andra?" Tanya pak Gunawan yang menyadari perubahan raut wajah Andra.
"Tidak ada Tuan..." Tapi raut wajah Andra terlihat lesu.
"Apa kau sudah mempunyai pacar?"
"Tidak tapi saya mencintai seseorang dan ingin menikahinya segera," ujar Andra, entah kenapa ia nyaman mengutarakan kegundahannya pada pria paruh baya di depannya.
"Lalu tunggu apa lagi, hal baik harus segera di laksanakan."
"Tapi saya ingin menjadikannya putri saat kami menikah nanti, menyelenggarakan pesta yang besar seperti impian kebanyakan perempuan. Tapi karena suatu hal aku ingin segera menikahinya."
Sebuah tepukan mendarat di bahu Andra.
"Bukan pesta yang menjamin kebahagiaan dalam berumah tangga, tapi bagaimana menjalaninya dan saling mengerti pasangan kita. Jika kau ingin menikahinya, bicarakan. Bila dia mencintaimu pasti dia akan mengerti."
"Dan jangan lupa, wanita sangat suka saat mendengar lelaki mengatakan cinta. Itu yang selalu aku ingatkan pada para pasangan yang aku temui." Ujar pak Gunawan sebelum ia pergi dari ruangan itu, meninggalkan Andra yang masih mencerna ucapannya.
Andra terdiam sebentar, ia terus memikirkan jalan keluar yang terbaik. Lalu sebuah ide terlintas di benaknya.
"Ton ayo pergi..." Toni yang masih setia menunggu tuan mudanya pun mengiyakan perintah atasannya itu.
Mereka kembali ke kantor karena memang masih siang hari.
Sesampainya di kantor, Andra malah menyuruh assisten nya turun sendiri.
"Aku ada urusan penting, kau handle pekerjaanku dan tunda jika ada rapat," ujar Andra, ia mengambil kunci mobilnya dari tangan Toni.
"Baik tuan muda..." Toni mengiyakan permintaan tuannya.
°°°
Xiexie
Terimakasih atas dukungan kalian.
__ADS_1
Semoga karya ku bisa membekas di hati kalian.