Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab121 Otw Launching


__ADS_3

°°°


Berita yang seharusnya dipenuhi tentang pernikahan aktris cantik Rani dan pengusaha kaya Dion, malah dipenuhi oleh foto-foto tuan muda Adiguna. Kemarin ia dibuat kewalahan oleh istrinya, untuk pertama kalinya sang istri merengek meminta ini itu pada Andra.


Wartawan yang seharusnya banyak mengabadikan momen pernikahan pun malah teralihkan oleh apa yang dilakukan tuan muda.


Kemarin Sabil merengek meminta Andra mengambilkan berbagai macam makanan yang ada di pesta pernikahan sahabatnya. Bisa saja kan Andra menyuruh anak buahnya mengambilkan atau menyuruh orang-orang menyingkir tapi calon baby mereka rupanya sedang ingin mengerjai papahnya. Andra harus mengantri saat Sabil menginginkan sesuatu.


"Kak aku mau itu tapi kak Andra yang ambil ya... dedeknya yang minta."


Seperti itulah Sabil kemarin, seperti tidak merasa kenyang ia terus membuat Andra kesana-kemari. Dan jangan lupa Sabil juga minta suaminya itu menoleh padanya saat sedang mengantri, untuk sekedar melambaikan tangan dan tersenyum.


Semua orang yang berada di pesta pun tercengang melihat pemandangan itu. Dengan mudah sang istri memerintah suaminya yang terkenal dingin dan kejam. Mereka yakin jika tuan muda Adiguna itu sangat mencintai istrinya. Beruntung sekali bisa dicintai dengan cara yang begitu spesial.


Andra tidak masalah kemarin saat ia disuruh-suruh istrinya. Ia juga dengan senang hati memenuhi keinginan calon baby nya. Tapi saat ini ia kesal karena menjadi bahan tertawaan mom Rahmi dan dad Ray. Mereka dari tadi tertawa puas melihat berita-berita di berbagai media, yang menampilkan putra mereka sedang menuruti semua permintaan istrinya.


"Mom, Dad. Kalian berhentilah menertawakan putra kalian sendiri." Kesalnya, jadi ingin menghapus semua berita itu secepatnya.


"Mommy puas sekali melihat berita ini. Iya kan Dad, kau lihat putramu dikerjai calon anaknya sendiri." Tak bisa berhenti tertawa.


Sabil pun jadi merasa tidak enak pada suaminya.


"Maaf kak, apa aku merepotkan?" Melihat kekesalan sang suami, Sabil jadi merasa jika ia sangat merepotkan kemarin.


"Tidak sayang, mana mungkin. Aku senang bisa mengabulkan keinginan calon anakku." Andra hampir lupa, istrinya itu sedang hamil, moodnya pasti tidak menentu dan sekarang sepertinya Sabil juga jadi perasa.


"Iya sayang, benar kata Andra. Sudah sewajarnya sebagai seorang suami memenuhi apapun keinginan istrinya yang sedang menyidam." Mom Rahmi yang tau jika wanita hamil itu mudah merasa sedih langsung memberikan pengertian padanya.


"Benarkah kak, kakak tidak marah kan?"


"Tentu saja sayang, kalian adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Tidak ada kata merepotkan," ujar Andra, lalu ia mencium kening sang istri.


Sabil yang awalnya hampir saja menangis karena takut dianggap merepotkan, kini ia tersipu karena Andra menciumnya di depan mom dan dad Ray. Ia pun memilih menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


Mom Rahmi sangat bersyukur memiliki menantu seperti Sabila. Rumah mereka kini begitu hangat, putranya yang dulu lebih banyak diam dan cuek kini pun mulai perhatian pada keluarga. Dalam hati mom Rahmi berjanji pada mendiang pak Mul dan Bu Arum, akan selalu menjaga putrinya, memastikan sabila bahagia dan menyayanginya seperti putrinya sendiri.


,,,


4 bulan kemudian.


Perut Sabil sudah semakin besar tinggal menghitung hari kalau kata dokter, anak mereka akan segera hadir ke dunia ini. Kandungan istrinya yang sudah tua pun membuat Andra tidak tenang jika meninggalkannya. Seperti hari ini, Andra sudah melihat gelagat aneh sang istri yang terus memegangi perut dan pinggangnya.


"Sayang, apa kau tidak apa-apa. Aku tidak usah berangkat kerja aja ya hari ini, biar aku temani."

__ADS_1


"Tidak perlu kak, kak Andra kan ada rapat penting hari ini."


"Tapi aku tidak tenang meninggalkan mu sayang." Andra masih merasa jika hari ini ia tidak ingin berangkat bekerja.


"Di rumah banyak orang kak. Tidak perlu khawatir." Sebenarnya Sabil sudah merasa ada yang salah dengan perutnya, kadang melilit tapi kemudian hilang. Pikirnya ini mungkin hanya kontraksi palsu seperti apa kata dokter, sebagian ibu hamil mengalaminya.


Andra kembali merengkuh sang istri masuk dalam dekapannya. Perasaannya benar-benar tak karuan hari ini, rasanya tidak ingin pergi ke kantor dan bermalas-malasan dengan istrinya.


"Sudah siang kak, nanti terlambat sampai ke kantor," ujar Sabil. Namun, ia merapatkan juga pelukannya, rasanya dalam pelukan sang suami rasa nyeri di perut bagian bawahnya terasa lebih baik. Bolehkah Sabil mengartikan jika bayi dalam perutnya hanya ingin dimanja papahnya saja.


Dimeja makan, dad Ray dan mom Rahmi yang kini sudah tidak menggunakan kursi roda lagi telah menunggu. Mereka bertanya-tanya saat melihat putranya muncul seorang diri.


"Dimana Sabil nak?"


"Tadi Sabil tertidur lagi mom. Tadi malam tidurnya sedikit terganggu karena terus bolak-balik ke kamar mandi dan aku lihat dia juga terus memegangi pinggangnya. Ini seperti ciri-ciri wanita hamil yang akan melahirkan, aku pernah membacanya di buku tentang kehamilan mom."


Mom Rahmi tampaknya setuju dengan putranya, ia juga pernah hamil dan tau persis bagaimana saat akan melahirkan.


"Tenang saja nak, ada mom dan dad di rumah. Kami akan menjaga Sabil, jika nanti tanda-tanda yang kamu katakan tadi semakin sering Sabil alami maka kemungkinan memang cucu mama akan segera lahir. Tapi jika nanti Sabil bangun tidak ada rasa seperti itu lagi maka itu hanya kontraksi palsu nak."


"Benar kata Mom mu, kami akan siap siaga menjaga Sabila. Sayang sekali rapat hari ini Daddy tidak bisa mewakili karena investor yang satu ini cukup banyak maunya."


Dengan berat hati Andra berangkat bekerja, padahal ia sudah berjanji akan menjadi suami siaga. Proyek yang sedang berjalan saat ini adalah Mega proyek yang telah memakan dana cukup besar. Jika sampai gagal ditengah jalan maka perusahaan akan rugi besar, mungkin tidak bisa menutupi kerugian.


Setidaknya Andra sedikit lega saat mom dan dad nya berjanji akan menjadi calon Oma dan opa yang siaga. Semoga calon anaknya sabar menunggu papahnya pulang.


,,,


Bertepatan dengan itu mom Rahmi masuk ke kamar menantunya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja. Apa ada yang sakit," tanya mom Rahmi saat mendapati Sabil meringis menahan sakit.


"Mom, perutku sakit."


"Aww...."


"Apa kau mau melahirkan nak?" panik.


"Tidak tau mom tapi ini sakit sekali... Awww..."


Sabil terus merintih memegangi perutnya.


"Bagaimana ini, apa yang harus mom lakukan." Mom Rahmi mondar-mandir tidak jelas, bukannya meminta bantuan ia malah ikutan panik. Padahal ia sudah pernah melahirkan tapi saat panik seperti itu memang terkadang kita juga akan bingung sendiri mau melakukan apa dulu.

__ADS_1


"Mom...mom..." Sabil sudah tidak tahan, rasa melilitnya semakin hebat ditambah melihat mom Rahmi yang mondar-mandir di depannya.


"Mom..." Teriak Sabil sedikit keras.


"Ehh iya nak, kenapa?"


"Bisa tolong bawa aku ke rumah sakit."


"Aaa... iya rumah sakit bagaimana mom bisa lupa. Ayo..."


Untunglah kamar mereka sudah pindah ke lantai bawah, jadi tidak sulit bagi mom Rahmi menuntun Sabil keluar kamar.


"Daddy... Dad..."


"Bibi... bi..."


Mom Rahmi membuat heboh seisi rumah dengan teriakannya.


"Ada apa sayang."


"Iya nyonya."


Dad Ray dan bi Nah buru-buru mendekat.


"Dad cepat panggil supir, Sabil mau melahirkan."


"Bi Nah, tolong siapkan keperluan Sabil."


Ke dua orang itu malah bengong mendengarnya membuat mom Rahmi menepuk jidatnya.


"Dad, bi Nah. Kalian dengar kan apa yang aku katakan tadi."


Padahal Sabil sudah tidak tahan ia ingin sekali berteriak saat rasa nyeri semakin kuat dan kini semakin sering.


°°°


Xiexie


Salam sayang dari Sabila dan Andra.


baca novel author yang baru juga ya.


Judulnya Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)

__ADS_1


nama penanya THREE ONO


Inget ya di akun Three ono bukan di disini.


__ADS_2