Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab93 Hujaman Kenikmatan


__ADS_3

°°°


Sabila sibuk mengemasi barangnya. Katanya nanti jam satu siang mereka akan terbang ke Swiss. Ya negara dimana mom dan dad Ray berada. Gadis itu sangat antusias mendengarnya, ia sudah sangat rindu dengan wanita yang kini menjadi ibu mertuanya.


Bagaimana jika bertemu dengan mom nanti ya, ahhh pasti akan sangat canggung dengan status baruku sekarang. Apa mom akan seperti ibu mertua di televisi. Hihihi...


Gadis itu cekikikan sendiri membayangkan gambaran ibu mertua di sinetron yang pernah ia tonton.


Untunglah dia sudah kenal dengan sosok ibu mertuanya dari sebelum menikah. Jadi bertemu dengan ibu mertua tidak semenakutkan itu.


Sabil sibuk memasukan beberapa baju hangat karena kabarnya di Swiss sedang musim dingin. Padahal Andra sudah bilang tak perlu membawa banyak barang nanti bisa di beli di sana. Tapi itu cukup boros menurut Sabil yang tidak tau seberapa banyak kekayaan yang dimiliki suaminya.


Tak hanya baju-baju yang Sabil bawa, dia juga menyiapkan beberapa makanan kesukaan sang mertua.


"Sayang, apa kau sudah selesai berkemas." Tanya Andra yang baru memasuki kamar mereka.


"Belum kak, sedikit lagi. Hehehe..." Sabil menyengir kuda.


"Kenapa tidak menyuruh para bibi saja."


Memeluk Sabil dari belakang dan menjatuhkan kepalanya di tengkuk sang istri. Menghirup harumnya aroma sampo yang di pakai Sabil.


"Kau pakai sampo apa, kenapa harum sekali."


"Ahh... bukan sampo mahal kak," jawab Sabil sambil menahan rasa geli karena Andra terus menelusupkan wajahnya.


"Tapi kenapa harum sekali... Hmmm..." Mengendus-endus kemana saja.


"Sudah kak, kalau begini aku tidak selesai-selesai mengemas semua ini."


Dan juga kau membuat aku merinding kak dengan ulah mu.


"Awww... kenapa kau menggigit ku kak."


"Aku gemas sayang." Ujar Andra tanpa rasa bersalah.


"Ihhh sana sana selesaikan pekerjaan kakak saja, jangan menggangguku."


Bisa-bisa berakhir di atas ranjang kalau kak Andra seperti itu terus. Semalam saja aku sampai kelelahan. Gerutu Sabil.


"Peffttt kau menggemaskan sekali kalau kesal seperti itu. Baiklah aku tak mengganggu lagi, jika kau butuh bantuan panggil bibi saja dan jangan kelelahan, ok."


Andra pun melepaskan pelukannya dan kembali berjalan keluar. Ia takut tak bisa menahan diri bila terus berdekatan dengan istrinya.


Sabil kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda akibat ulah sang suami.


Sentuhan sang suami yang selalu membuatnya melayang, tangannya seperti mengalirkan arus listrik yang membuat tubuhnya lemas seketika.


Lagi-lagi pipi sabil merona jika mengingat sesi penyatuan mereka. Tubuhnya begitu terbuai oleh sentuhan Andra.


Buru-buru Sabil menghilangkan pikiran itu dan kembali melipat baju-bajunya.


Di dalam ruang kerjanya Andra pun tak kalah sibuk. Kepergiannya kali ini mungkin tidak sebentar, selain menemui mommy nya ia juga akan membawa Sabil berbulan madu ke beberapa negara. Ingin mencoba membuat anak di berbagai tempat katanya.


"Hallo Ton. Kau sudah siapkan semuanya untuk penerbangan nanti. Aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun, karena ini pertama kalinya istriku menaiki pesawat. Carikan pilot yang benar-benar profesional dan siapkan dokter juga. Jangan lupa makanan yang tidak membuat mual."

__ADS_1


"Baik tuan muda saya akan memastikan sendiri semuanya sesuai apa yang tuan muda inginkan." Ujar Toni pada sambungan telepon.


"Baguslah dan terus awasi orang-orang di perusahaan selama aku pergi. Jangan biarkan tikus-tikus itu menggigit saat aku tak ada."


Ujar Andra lagi sembari tersenyum miring membayangkan senangnya orang-orang yang hanya mementingkan keuntungan pribadi bila Andra tak ada.


"Baik tuan."


"Ya sudah, nanti jemput kami saat semua sudah siap."


Kemudian Andra mematikan sambungan teleponnya.


Andra kembali berkutat pada komputernya, semakin hari orang-orang itu makin berani mengalirkan dana perusahaan pada rekening-rekening bodong. Mereka kira Andra tak tau, padahal Andra selalu mengawasi mereka. Kalau saatnya nanti ia sudah mengumpulkan bukti yang kuat, siapa saja yang terlibat dan kemana saja dana itu mengalir maka Andra tak akan memberi ampun.


Tok, tok, tok.


"Kak apa aku boleh masuk?" Tanya Sabil dari balik pintu.


Mendengar suara lembut istrinya tentu membuat Andra merubah mimik wajahnya. Yang tadinya nampak kejam dan tak berperasaan langsung berubah seketika.


"Masuklah sayang."


Sabil masuk dan berjalan menghampiri sang suami yang duduk di kursi kerjanya.


"Apa aku mengganggu?" Tanyanya.


"Kau memang mengganggu, tapi aku suka diganggu olehmu."


Ishh... manis sekali mulutnya itu.


"Aku ingin menemui ayah sebelum kita pergi kak, apa bisa?" Tanya Sabil sedikit ragu.


"Apa hanya itu, tidak ada yang lain."


"Yaa..."


"Aku kira kau mau meminta apa Sabila." Gemas menusuk-nusuk pipi Sabil.


"Jadi bisa tidak kak."


Kenapa si ekspresi wajah kak Andra ini selalu membuatku tidak bisa menebak.


"Hmmm..." Bukannya menjawab ia malah bermain-main di leher putih istrinya.


"Apa kak."


Sabil mengerutkan dahinya.


"Tentu sayang, aku kira kau mau minta aku membelikan mall untukmu."


"Bisakah?"


"Tentu, apa kau mau?"


"Ish tidak, untuk apa. Ya sudah aku akan kembali membereskan barang yang akan dibawa."

__ADS_1


Bisa gawat kalau berlama-lama di sini.


"Kau yang datang kemari lalu kau akan pergi begitu saja."


Bisik Andra tepat di telinga Sabil, tempat yang begitu sensitif untuk istrinya dan Andra tau itu.


"Lalu aku harus apa kak? Bukankah kak Andra masih banyak pekerjaan."


Wajahnya sudah memanas hanya karena bisikan yang Andra lakukan.


Kenapa dengan tubuhku yang tiba-tiba lemas.


"Lalu kau tidak mau bertanggung jawab."


Apa mata Sabil membulat saat merasakan kerasnya milik suaminya yang sedang ia duduki.


"Sepertinya kita perlu mencobanya disini."


Mengangkat tubuh istrinya dan mendudukan di meja kerjanya yang cukup luas.


"Kau mau apa kak."


Tatapan itu, apa kak Andra sedang menginginkannya.


"Tentu saja menikmati sarapan pagi ku." Tersenyum menyeringai lalu semakin mendekatkan wajahnya.


"Tidak kak, kita bisa terlambat dan ketinggalan pesawat nanti."


Itu tidak mungkin hanya cukup sebentar kan. Sabil menggigit bibir bawahnya merasakan nafas Andra yang semakin dekat dengan wajahnya.


"Pesawatnya bisa menunggu, tapi yang satu ini tidak."


Menuntun tangan Sabil ke celananya, sesuatu sudah terasa sangat sesak dan ingin segera dibebaskan.


"In...ini..."


Cup


Andra berhasil melu-maat bibir Sabil yang sedari tadi menggodanya, ya gerakan Sabil yang menggigit bibirnya sendiri justru semakin membuat Andra bergairah.


Sabil mencoba menahan dada Andra dengan kedua tangannya.


Ini di meja, apa bisa melakukan itu disini.


Tapi tangan Andra begitu lihai bahkan ia sudah berhasil menurunkan resleting dress yang istrinya pakai. Memberikan usapan pada punggungnya yang begitu halus.


Sabil tak kuasa menahan setiap sentuhan yang suaminya berikan, tubuhnya menurut dan menerima hujaman kenikmatan yang Andra berikan. Ini diluar keinginannya, tubuhnya kenapa begitu menggila saat lidah dan bibir Andra menyapu seluruh kulitnya.


°°°


Xiexie


Noted : Aku juga tutup mata kok nulisnya. Beneran deh. Jangan salahin author ya. Aku juga tidak tau nulis apaan dah.


Big love untuk kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2