Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab45 Mommy Pulang


__ADS_3

°°°


Gadis manis berparas cantik dan selalu tak segan menolong orang lain. Sederhana dan baik hati, Sabila.


Ia sedang duduk di taman dekat tempat tinggalnya. Sebuah buku berada di atas tangan nya. Sudah tak terhitung banyaknya buku yang ia pernah baca. Seperti tidak pernah bosan ia membuka lembaran demi lembaran kertas yang bertumpuk itu. Meski dunia sudah di suguhkan dengan jutaan bacaan dan informasi melalui internet, tapi tak membuat Sabil berpaling dari buku.


Sambil menikmati sore yang cerah, yang menampilkan cahaya yang sangat indah. Sesekali ia melihat ke depan, banyak anak-anak juga yang sedang bermain di sana, sebagian ada yang di temani orang tuanya dan ada juga yang bersama wanita berseragam, mungkin itu pengasuhnya. Wajah ceria anak-anak yang bercanda ria dengan orang tuanya sedikit membuat Sabil iri.


Sebuah senyuman terbit di wajah cantiknya. Rasa sedih dan rindu sudah pasti selalu ada di hatinya, tapi tak membuatnya berlarut dalam kepedihan. Ia selalu berusaha menjalani kehidupan ini dengan baik, dengan menjadi anak yang berbakti dan membanggakan ayahnya yang masih ada di dunia ini.


"Ternyata kau di sini."


"Kak Andra... Kapan kau datang?" Sabil sedikit terkejut, tiba-tiba Andra sudah ada di samping nya.


"Sejak tadi, saat kau melamun sendiri."


"Hehehe... maaf kak, aku tidak melihatnya."


"Apa yang kau lihat?" Tanya Andra, ia ingin tahu apa yang membuat gadis itu sampai tak menyadari kedatangannya.


"Itu kak, mereka bahagia sekali." Tunjuk Sabil pada keluarga kecil yang sedang bermain di taman.


Andra seperti tercubit hatinya, karena nya dulu gadis cantik itu kehilangan kasih sayang seorang ibu. Andai waktu bisa di putar kembali, ia akan selalu di samping Sabil saat itu, menemani nya melewati hari-hari yang pasti berat, bagi seorang anak kecil yang masih membutuhkan kehadiran ibunya.


Bukannya malah mengurusi perasaannya sendiri. Maaf.... sekarang aku akan selalu menemani mu.


Andra menggenggam tangan Sabil, mengusap lembut. "Ibumu pasti bangga padamu, kau tumbuh dengan baik dan menjadi gadis yang cantik. Dan selalu membuat ayahmu bangga."


Sabil menoleh, "Terimakasih kak."


"Ayo ikut aku." Ajak Andra.


"Kemana kak?"


"Ikut saja, nanti juga kau akan tau."

__ADS_1


Sabil pasrah saat tangan Andra menggandeng nya pergi. Entahlah ia tak pernah merasa khawatir atau takut saat berada di dekat Andra. Yang ia rasa justru nyaman dan aman, padahal lelaki itu bukan siapa-siapa untuk nya.


"Kak, ini bukankah jalan yang mau ke rumah kakak?" Sabil melihat sekeliling, tentu ia hapal betul jalanan itu karena saat mom Rahmi belum pergi ia sering datang ke sana.


Andra tak menjawab, ia hanya tersenyum.


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah utama keluarga Adiguna. Masih sama seperti saat terakhir Sabil mengunjungi nya.


"Ayo... turunlah." Ujar Andra yang saat ini sudah membukakan pintu mobil untuk Sabil.


"Kenapa kita kemari kak?"


"Nanti kau akan tau setelah masuk ke dalam."


Langkah Sabil sedikit melambat, Ayo Sabil, Kak Andra tidak mungkin berbuat macam-macam toh disini banyak orang.


"Kenapa begitu pelan..." Andra menyadari gadis itu tertinggal jauh di belakang.


"Iya kak."


Pintu besar itu terbuka, tampak seorang wanita yang duduk di kursi roda dan seorang lelaki di belakangnya.


Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang karena bisa melihat mom Rahmi lagi tapi hatinya teriris melihat wanita itu lemah dan pucat tak berdaya, bahkan harus menggunakan bantuan kursi roda untuk bergerak.


Tanpa terasa air mata keduanya sama-sama tumpah dalam pelukan kerinduan.


"Kau semakin cantik nak," ujar mom Rahmi setelah melonggarkan pelukannya.


Sabil tersenyum berusaha menyembunyikan rasa kasihan nya.


"Mommy, apa kabar? Sabil rindu Mom."


"Mom baik-baik saja nak, aku juga masih mampu jalan sendiri tapi Daddy mu terlalu khawatir." Mom Rahmi pun tersenyum, ia bahagia bisa bertemu gadis cantik itu lagi.


"Ayo duduk dulu..." Ujar Andra menyuruh Sabil duduk.

__ADS_1


Sabil menurut, Dad Ray pun mendorong kursi roda sang istri mendekat ke sofa.


"Apa mommy sudah lama pulang?"


"Baru tadi malam kami sampai. Mom sangat merindukan mu jadi cepat-cepat pulang, khawatir tak ada waktu lagi untuk menemui mu." Kini wajah mom Rahmi berubah sendu, seperti sudah pasrah dengan keadaan.


Sabila mendekat, meraih kedua tangan Mom Rahmi lalu tersenyum.


"Mom, aku yakin mom bisa melewati ini semua. Mom harus semangat demi orang-orang yang menyayangi mom."


"Terimakasih nak."


"Jadi mom tidak merindukan ku?" Tanya Andra mengalihkan perhatian, lelaki itu pura-pura merajuk pada sang mommy.


"Tentu mom merindukan semuanya."


Sore itu mereka habiskan dengan canda tawa melepas rindu. Sampai Daddy Ray mengajak Andra ke ruang kerjanya. Kini hanya tersisa mom Rahmi dan Sabil.


"Bolehkan aku memasak untuk Mommy? aku ingin mom mencicipi masakan ku setelah aku belajar pada ayah."


"Tentu nak, lakukan apa yang ingin kau lakukan."


"Terimakasih Mom. Apa mom mau beristirahat di kamar sambil menunggu masakan nya matang. Aku akan mengantarkan mom."


"Baiklah, terimakasih nak."


Sabil memotong sayuran dan bahan lainnya yang ia butuhkan. Para pelayan tak ada yang berani bergerak jika tidak di minta.


"Bi bisa tolong bantu aku membersihkan ini. Aku akan melakukan yang lain." Pintanya pada salah satu pelayan yang berdiri di belakangnya.


"Tentu nona," jawab salah satu dari mereka.


Gadis itu tampak sudah lihai dibandingkan dengan terakhir kali ia menginjakkan kakinya di dapur itu.


Sup ikan, udang krispy, dan tumis kangkung sudah tersaji di meja makan. Hanya itu yang terpikirkan oleh Sabil tadi, mungkin lain kali ia akan membuat lebih banyak menu. Saat ia menjadi menantu di rumah itu mungkin.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2