
°°°
Ceklek...
Pintu ruangan itu kembali terbuka. Dad Ray rupanya, yang datang tanpa mengetuk.
"Sayang..." Panggil nya lembut pada sang istri. Sebelum ia melihat putranya dan Sabil di sana.
"Dad..." Andra yang menjawab.
"Kau sudah datang, ada Sabila juga ternyata. Apa kabar nak?"
"Baik om, ehh Da..Dad." Jawab Sabil, sebenarnya lidahnya belum terbiasa dengan panggilan itu. Meski ia begitu dekat dengan mom Rahmi, tapi dengan Dad Ray ia merasa sungkan.
"Sayang apa kau lapar?" Tanya Dad Ray dengan lembut pada sang istri.
"Belum, barusan makan kue yang Sabil bawakan."
Daddy Ray menghampiri istrinya, mengusap lembut pipinya, menatap nya dengan sendu. Meski senyuman terukir di wajahnya, tapi Sabil melihat ada yang berbeda dari tatapan mata dad Ray. Tatapan mata nya di penuhi kesedihan yang mendalam.
"Sayang... " Wajah Mom Rahmi memerah. Diraihnya tangan suaminya yang sedang mengusap pipinya.
"Kau kenapa Dad wajahmu terlihat lelah. Aku pasti sangat menyusahkan mu."
Kini wajah Mom Rahmi berubah sendu, sebenarnya ia tau suaminya itu saat ini sedang tidak baik-baik saja. Penyakitnya yang tak kunjung membaik, pasti suaminya sudah tau.
Dad Ray tersenyum, meraih tangan istrinya kemudian mengecup nya berkali-kali.
"Mana mungkin kau menyusahkan, kau adalah istri ku, belahan jiwa ku. Saat kau sakit, aku akan merasa lebih sakit."
Kini tangan mom Rahmi terulur meraih wajah suaminya, mengusap rahangnya yang keras.
"Lihatlah Dad, aku sudah sembuh, sudah sehat. Dan aku ingin segera pulang. Di sini sangat membosankan." Ujarnya dengan nada yang di buat manja, dan menempelkan kepalanya pada lengan suaminya.
"Mom, Dad, stop ok!. Kalian tak melihat ada orang lain di sini. Lanjutkan nanti setelah kami pulang." Gerutu Andra.
__ADS_1
Sabil pun jadi merasa tak enak, karena kehadiran nya menggangu sepasang suami istri itu. Namun ia sama sekali tak terganggu, ia senang melihat sepasang suami istri yang menunjukkan kasih sayangnya.
"Maafkan Mommy, cantik. Tadi Mom terbawa suasana. Hihihi... " Ia terkekeh sendiri.
"Tak apa mom."
"Dad, ayo keluar ada yang mau Andra sampaikan."
Andra mengajak Daddy nya keluar ruangan. Ya ia sudah merasa ada yang tak beres dengan Daddy nya, semenjak masuk ia sudah menebak semuanya tak baik-baik saja.
Ayah dan anak itu sekarang berdiri di koridor yang nampak sepi itu. Memang lantai itu sengaja di kosongkan, hanya khusus untuk merawat Mom Rahmi.
"Dad, ada apa?" Tanya Andra tanpa basa-basi.
"Penyakit Mommy mu..." Dad Ray menghela nafasnya, sebelum melanjutkan ucapannya itu.
"Jantung Mommy mu semakin lemah, bisa kambuh sewaktu-waktu. Bahkan bisa tak tertolong jika sampai terlambat. Tak ada jalan lain selain melakukan pencangkokan. Tapi tak mudah mendapatkan pendonor yang cocok." Hembusan nafasnya terasa berat.
"Mommy bukan wanita yang lemah, ia pasti kuat sampai Daddy menemukan pendonor yang cocok untuknya."
"Daddy harap juga begitu." Ujarnya seraya menepuk pelan pundak putranya.
"Sudah malam, sebaiknya kau antarkan Sabil kembali."
"Baiklah aku tak akan mengganggu mom dan dad lagi." Andra beranjak, meninggalkan sang Daddy sendiri.
"Dasar anak nakal."
,,,
Sementara di dalam ruangan, Sabil dengan telaten menemani Mommy Rahmi.
Menyuapinya saat makan, dan membantu membersihkan tubuhnya tadi.
Biasanya Mom Rahmi bisa melakukannya semuanya sendiri, tapi tadi Sabil yang bersikeras ingin membantu.
__ADS_1
Mereka berbincang hangat, Sabil terus menceritakan apa saja yang pernah ia lalui.
"Jadi mang Ucup tukang kebun sekolah suka sama bi Sari si ibu kantin. Hahahaha... mereka pasangan yang pas kalau jadi. Yang satu tukang gosip dan yang satu tukang kepo." Suara tawa mereka menggema. Entahlah Sabil dapat cerita itu semua dari mana. Yang pasti ia tak suka bergosip, iya hanya suka membaca.
Lalu dapat dari mana semua itu. Asal kalian tahu, telinga Sabil terlahir dengan begitu tajam akan pendengaran. Ia bisa mendengar hal-hal yang sedang orang lain bicarakan, saat ia sedang lewat dan berjalan. Jika orang lain akan mendengar nya dengan samar-samar. Maka bagi Sabil itu cukup jelas di telinganya.
Andra masuk begitu saja tanpa mengetuk. Dua orang di dalam bahkan tak sadar akan kedatangannya, mereka begitu asyik mengobrol dan tertawa.
"Mom..."
"An, dimana Daddy mu?" Tanya Mom Rahmi sambil menghapus air mata yang keluar di sudut matanya, akibat terlalu banyak tertawa.
"Masih di luar."
"Ayo, hari sudah petang. Aku akan mengantarmu pulang." Ujar Andra menatap Sabil.
Sabil menganggukkan kepalanya.
"Mom, aku akan mengantarkan Sabil kembali. Besok aku akan kembali melihat mu." Ujar Andra kepada sang Mommy.
"Iya, berhati-hatilah di jalan. Dan Sabil terimakasih kau sudah menyempatkan waktu mu untuk menemani Mommy. Mom sangat senang sekali kau ada di sini."
"Sama-sama Mom, Sabil pulang dulu."
Mereka kembali berpelukan sebentar, sebelum Sabil benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Mom harus cepat sehat kembali, ok." Ujarnya lagi memberi semangat.
"Tentu," jawab mom Rahmi.
"Kami pergi sekarang Mom." Andra mengecup kening sang mommy sekilas.
Senyum mengembang di bibir Mom Rahmi, ia amat bersyukur tentang putranya yang telah kembali.
°°°
__ADS_1
Xiexie