Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab96 Semakin Cinta


__ADS_3

°°°


Perjalanan yang memakan waktu hingga 15 jam lamanya, membuat Sabil menghabiskan waktunya untuk tidur di dalam kamar yang ada. Mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan, kurang tidur dan pegal-pegal.


Andra pun setia menemani sang istri memeluknya hingga memastikan istrinya nyaman. Kali ini ia mengalah, membiarkan istrinya beristirahat, masih banyak waktu nanti ketika sampai tujuan.


Andra menyentuh pelan kulit pipi yang lembut dan halus milik istrinya. Sebenarnya tak tega membangunkan tidur nyenyak sang istri. Wajah polosnya saat tertidur sangat menenangkan untuk dilihat. Namun, pesawat sudah mendarat dari tadi dan belum ada tanda-tanda Sabil akan membuka matanya.


"Sayang bangunlah, kita sudah sampai."


Andra tak sabar lagi menunggu istrinya bangun, sedari tadi tubuh itu hanya menggeliat kecil.


"Hmmm..." Masih tetap memejamkan matanya. Ternyata tidur di pesawat senyaman itu sampai Sabil tak ingin membuka matanya.


"Apa kau tidak ingin bangun dan melihat seperti apa Swiss sayang?" Bujuk Andra di telinga Sabil.


"Aku masih mengantuk ayah... 5 menit lagi ya." Rupanya Sabil mengigau dikiranya kalau yang sedang membangunkannya itu adalah sang ayah.


"Jadi kau anggap aku ayahmu."


Bukan Andra namanya jika tak punya sebuah ide dalam pikirannya. Mendekatkan wajahnya dan melu-maat bibir mungil yang menggodanya dengan rancauannya.


Kenapa aku bermimpi berciuman dengan kak Andra, tapi mimpi ini terasa sangat nyata. Sabil masih memejamkan matanya tapi ia juga menikmati ciumannya.


"Apa kau masih berpikir jika ini ayahmu?" Kata Andra setelah menjauhkan bibirnya.


Sontak Sabil membuka matanya, ternyata ini bukan mimpi aku benar-benar berciuman dengan kak Andra barusan. Akh... aku malu kenapa aku masih sempat menikmatinya padahal aku masih tertidur. Masih melongo karena sedikit terkejut.


"Kalau kau tidak bangun juga, aku tidak yakin bisa menahannya lebih lama." Katanya sambil berkacak pinggang.


Mata Sabil membulat lalu ia segera bangun dan berlari menuju kamar mandi.


"Iya aku sudah bangun kak." Teriaknya dari dalam kamar mandi yang sudah ia tutup rapat dan tak lupa menguncinya, berjaga-jaga agar suaminya tak bisa masuk.


Andra terkekeh sendiri melihat reaksi Sabil. Hanya dengan mengancamnya seperti itu sudah membuatnya lari. Tapi lihat saja, nanti aku tidak akan membiarkan mu lari.


"Kenapa kau menguncinya sayang?" Andra menggoda lagi dengan mencoba membuka pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Itu... aku mau pipis kak." Jawabnya asal, padahal ia takut dengan sesuatu hal yang lain.


Lelaki itu cekikikan sendiri didepan pintu kamar mandi jadinya. Istriku sangat ketakutan sepertinya, apa aku terlihat seperti ingin memangsanya. Ia pun kembali duduk di bibir ranjang.


"Apa kita sudah sampai kak?" Sabil yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah karena habis mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar.


"Hampir satu jam yang lalu."


"Benarkah, kenapa kakak tidak membangunkan ku." Merasa tak enak karena terlalu nyenyak tertidur, mungkin karena kelelahan membuatnya tidur lebih nyenyak.


"Tidak apa-apa, kita tidak sedang terburu-buru." Ujar Andra.


Sabil mengelap wajahnya yang basah dan segera merapikan riasannya yang sedikit acak-acakan setelah tertidur.


"Apa kita akan langsung menemui mom dan dad kak?" Tanya Sabil yang sudah selesai merapikan penampilannya.


"Terserah kau sayang, aku menurut saja. Kalau kau masih lelah kita bisa ke Apartemen untuk istirahat terlihat dahulu."


Sabil menggeleng, ia tak ingin menunda lagi dan tadi tidurnya sudah sangat cukup mengembalikan tenaganya.


"Baiklah ayo..." Andra bangkit dan memakaikan mantel tebal pada tubuh sang istri.


Kemudian Andra juga memakai mantelnya. Barulah setelah itu ia menuntun sang istri untuk berjalan keluar dari pesawat itu.


Sebuah senyuman terbit di wajah cantik Sabil. Kedatangannya di negara ini disambut dengan salju pertamanya.


"Kak, apa ini salju?" Dengan menatap takjub pada hamparan selimut salju di mana-mana. Hampir semua tempat dalam pandangan Sabil terselimuti oleh salju. Lalu ia mengulurkan tangannya, merasakan salju-salju menyentuh kulitnya.


"Apa kau menyukainya?" Sabil mengangguk dengan wajah yang masih menatap salju-salju yang kini menempel di telapak tangannya.


"Ayo... kau bisa sakit karena belum terbiasa. Besok aku akan mengajakmu bermain sepuasnya dengan salju-salju itu."


Andra meraih tangan Sabil lalu meniupnya dan menggosok-gosokkan pada tangannya agar menjadi hangat kembali. Sabil melihatnya dengan berdebar, diperlakukan begitu penuh kasih sayang oleh sang suami membuat rasa cintanya bertambah banyak.


"Apa sudah lebih hangat sekarang?" Tanyanya.


Sabil pun mengangguk. Bukan hanya tanganku yang hangat, hatiku pun ikut menghangat suamiku. Tersenyum pada sang suami.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang?" Lagi-lagi Sabil mengangguk dan menurut. Andra terus mengandeng tangan istrinya, memasukan kedalam saku mantelnya agar lebih hangat. Sedangkan Sabil berjalan sambil memandangi wajah suaminya, semakin dibuat jatuh cinta lagi dan lagi.


Sebuah mobil mewah telah menunggu mereka, tentu itu adalah suruhan dad Ray. Tak lupa ia juga menyiapkan apartemen mewah untuk putra dan menantunya. Mereka baru saja menikah pasti memerlukan waktu dan tempat yang nyaman untuk tinggal. Sekaligus berharap akan mendapatkan kabar bahagia secepatnya.


"Dad, apa kau sudah menyuruh seseorang untuk menjemputku?" Tanya Andra pada sang Daddy di sambungan telepon.


"Sudah nak, orang suruhan Daddy pasti sudah menunggu diluar bandara,"


"Siapa yang dad suruh, apa nanti mereka mengenaliku."


"Tenang saja nak, dad sudah memberitahukan mereka wajah putra dan menantuku. Mereka pasti mengenali mu nanti."


"Dad apa itu Andra? Dia sudah sampai?" terdengar ada suara mom Rahmi juga.


"Kau dengar, mommy mu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan menantunya. Dia begitu antusias menyambut kalian."


"Iya dad, aku tahu kami akan segera sampai." Andra pun mematikan panggilannya.


"Bagaimana kak?" tanya Sabil.


"Daddy sudah menyuruh orang untuk menjemput kita, jadi tak perlu mencari taksi."


Merekapun bergegas berjalan keluar. Benar saja beberapa pria berpakaian serba hitam menyambutnya.


"Selamat datang tuan, kami disuruh tuan Adiguna untuk menjemput tuan muda dan nona muda." Ujar salah satu dari mereka yang bertubuh paling pendek dan berkepala botak.


"Hmm... Daddy sudah memberitahu ku. Tolong ambilkan barang-barang kami yang masih didalam." Perintah Andra sama berwibawa nya dengan sang Daddy, membuat para pengawal itu sedikit terkejut.


"Ayo sayang." Nadanya berubah lagi bila berbicara pada sang istri.


Sabil menurut saja, walaupun ia agak sedikit takut tadi melihat besarnya badan para pengawal itu. Tapi rasa takutnya hilang ketika melihat para pengawal itu memaku saat Andra berbicara.


Kak Andra hebat bisa mengendalikan orang-orang bertubuh besar dan kekar seperti mereka. Kagum Sabil pada sang suami.


°°°


Xiexie

__ADS_1


Big love untuk kalian semua.


__ADS_2