Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab97 Merasa aneh


__ADS_3

°°°



Banyak orang bilang Swiss di ciptakan saat tuhan sedang bahagia. Keindahan danau, pegunungan es dan kotanya sangat memanjakan mata. Meski Swiss di kelilingi oleh pegunungan es abadi tak menjadikannya negara itu berselimut salju terus menerus. Hanya di musim dingin di bulan Desember-Maret kalian akan menemukan salju dimana-mana, di halaman rumah, jalanan dan di rerumputan.


Pada musim lainnya salju hanya ada di pegunungan, kita harus ke daerah yang lebih tinggi jika ingin menikmati salju-salju abadi.


Sabil tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan dari kaca jendela mobil. Dingin yang menyergap hingga ke tulang tidak dirasakannya.


Ini indah, sangat indah. Bahkan kota nya begitu indah meski salju menyelimuti tak membuat keindahan kota ini tertutup.


Pemandangan kota dengan rumah dan apartemen dan bangunan kuno sangat memanjakan mata. Ditambah deretan pegunungan dan danau yang mengelilingi.


Sedangkan Andra ia sibuk menghangatkan kekasihnya. Mungkin ini juga pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di negara dengan keindahan alam dan kotanya itu, karena orang tuanya memutuskan pindah ke negara itu sebulan yang lalu.


Penyakit yang diderita mom Rahmi memang belum cukup membaik, bahkan sampai saat ini belum juga mendapatkan pengganti jantung yang sesuai. Tapi dad Ray mengabulkan permintaan sang istri yang ingin berpindah ke negara itu. Selain karena terlalu bosan dengan rumah sakit negara Swiss juga bisa memanjangkan mata dengan hamparan keindahan yang Tuhan ciptakan.


Katanya dulu mereka berbulan madu di sana, melewati manisnya pernikahan sebelum berbagai hal buruk menimpa rumah tangga mereka. Dan kini rumah tangga mereka sudah berjalan semakin baik, dad Ray dengan setia selalu di samping istrinya. Bahkan ikut menginap dan tinggal di rumah sakit, tempat istrinya dirawat. Hingga mom Rahmi menginginkan mengulang saat indah bulan madu dulu, meski mungkin ia tak bisa menikmatinya tapi dengan singgah di negara itu saja ia sudah bisa merasakannya.


Mom Rahmi saat ini tak bisa jauh dari alat-alat kedokteran untuk menopang hidupnya. Miris bukan, Tuhan benar-benar menghukumnya dengan cobaan yang tiada henti. Disaat sang putra telah memaafkan kesalahannya di masa lalu, kini ia malah hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Kesenangan sesaat yang telah menyesatkannya, menanamkan luka di hati putranya dan menyakiti suaminya. Bahkan kesenangan duniawi yang ia kejar telah menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil yang tak tau apa-apa.


Penyesalan memang selalu datang terlambat, agar hambanya bertaubat. Tidak ada manusia tanpa noda dosa tapi percayalah Tuhan selalu memberikan kita kesempatan untuk menebusnya. Tinggal kita yang menyadari itu ataupun tidak.


Andra dan Sabil sudah sampai di rumah sakit tempat mom Rahmi dirawat. Sabil membawa beberapa makanan yang ia bawa ke rumah sakit. Sedangkan barang-barang mereka telah diantarkan ke tempat tinggalnya selama di sana.


Terlihat Sabil mulai resah, bahkan keringat dingin sudah membasahi dahinya. Bukan, ia bukan sedang takut untuk bertemu dengan ibu dan ayah mertuanya. Tetapi hatinya belum siap melihat mom Rahmi terbaring lemah.

__ADS_1


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Tanya Andra yang merasakan tangan Sabil semakin dingin dalam genggamannya.


Sabil tersenyum dan menggeleng. Tidak menjawab apa-apa.


Aku takut kak, takut tak bisa menahan air mataku saat melihat mommy.


"Apa kau takut bertemu ibu mertuamu, tenang saja dia tidak galak seperti di drama-drama yang suka menindas menantunya." Andra tertawa karena ucapannya sendiri membayangkan ibu mertua yang kejam.


Hanya menanggapi dengan seulas senyum, Sabil memilih diam mendengar gurauan sang suami. Ya Andra terus mencairkan suasana, meski tau apa yang sebenarnya istrinya rasakan ia tak ingin membahasnya. Ia juga sama tak tega melihat sang mommy yang tak kunjung sembuh.


Tak terasa mereka telah sampai didepan kamar rawat inap mom Rahmi. Langkah mereka semakin melambat dan berat. Sebelumnya Dad Ray sudah mewanti-wanti agar mereka tak menunjukkan wajah mengiba pada sang mommy.


Berhenti sejenak dan saling pandang. Terdengar suara gelak tawa dari dalam sana. Tak hanya suara mommy dan Daddy sepertinya ada suara seorang perempuan juga.


"Kau siap?" Tanya Andra sekali lagi pada sang istri dan Sabil mengangguk.


Andra membukakan pintu ruangan itu, tawa yang tadi menggema langsung terhenti ketika Andra dan Sabil masuk.


Ketiga orang yang ada di ruangan itu menoleh.


"Sayang, kalian sudah sampai?" Mom Rahmi menyambut antusias melihat kedatangan putranya yang tampan dan menantunya barunya.


Andra dan Sabil pun mendekati ranjang mom Rahmi dan mencium tangannya bergantian. Tak lupa mereka juga menyapa sang ayah.


"Kapan kalian sampai, kalian pasti lelah kan. Kenapa tidak istirahat dulu saja di apartemen." Mom Rahmi berbicara tanpa jeda.


"Tidak mom, kami ingin segera menemui Mommy." Andra menyela rentetan ucapan mommy nya.


Sabil sendiri, ia masih berdiri canggung untuk mengeluarkan suaranya. Ia pun sedikit tak nyaman dengan tatapan wanita yang berseragam perawat itu karena sedari tadi tatapan matanya begitu menelisik.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan dan nyonya." Wanita itu memasang senyum manisnya dan membungkuk hormat.


"Ohh iya mommy hampir lupa, suster Jane kenalkan ini putra ku yang sering ku ceritakan dan ini putri cantikku yang sekarang sudah resmi menjadi menantu ku." Mom Rahmi berkata dengan mata berbinar menatap Sabila dan Sabil merasakan itu.


Berbeda dengan suster itu yang terlihat berbeda raut wajahnya di mata Sabil. Entahlah Sabil merasa ada perasaan aneh saat matanya bersitatap dengan wanita itu.


Suster Jane terlihat tersenyum begitu merekah pada Andra dan dengan cepat mengulurkan tangannya. Apa hanya aku yang merasakannya. Pikir Sabil tapi ia buru-buru membuang segala prasangka buruknya pada wanita yang sudah merawat mertuanya dengan baik.


Andra menerima uluran tangan suster Jane dan hanya tersenyum tipis untuk menghormati nya.


Lalu wanita itu beralih pada Sabil melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Andra. Namun, terasa berbeda dimatanya.


Dengan seulas senyum pun Sabil menerima uluran tangan itu. Tapi kenapa tatapan mata wanita itu sangat berbeda saat melihat Sabil. Entahlah.


"Saya permisi tuan, nyonya." Membungkuk pada mom Rahmi dan dad Ray, kemudian pada Andra dan Sabil sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan itu. Senyum penuh misteri dan tatapan mata tajam terbit di wajahnya saat sudah membelakangi yang lain.


"Sayang kemarilah, Mommy rindu sekali padamu." Ujar mom Rahmi pada Sabil agar lebih mendekat. Sabil pun menurut dan memberikan pelukan pada mommy mertuanya.


"Aku juga merindukan mommy." Sabil hampir tak bisa menahan air matanya saat merasakan tubuh mom Rahmi yang semakin kurus, sangat terasa saat ia memeluknya.


Ya Tuhan kapan kau akan mengangkat semua yang diderita mommy, ujarnya dalam hati.


Sedangkan di balik pintu, wanita yang tadi baru keluar dari ruangan mom Rahmi berubah lagi mimik wajahnya. Menyiratkan sesuatu yang aneh.


Semoga itu hanya perasaan Sabila saja.


°°°


Xiexie

__ADS_1


Selalu aku kasih big love untuk kalian semua.


😍😍😍😍


__ADS_2