Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab17 Panggilan Mommy


__ADS_3

°°°


"Astaga... apa gadis itu sudah tidak waras!" umpat Alex.


Ia memijit pelipisnya, ia begitu frustasi menghadapi sikap gadis itu tadi.


Bukankah dia mengejar-ngejar Andra selama ini, lalu kenapa dia meminta ku menjadi pacarnya hanya karena malam itu. Harusnya malam itu aku tiduri saja itu anak. Pekik Alex dalam hati yang masih mengingat kejadian tadi pagi.


Braakkk


Tanpa sadar ia menggebrak meja di depannya. Guru di depan langsung menoleh padanya, begitu pun para murid yang tadi sedang menyimak sang guru, karena memang sekarang jam pelajaran sedang berlangsung.


Alex yang sedari tadi pikiran nya entah kemana sampai tak menyadari itu. Bahkan saat ini yang sedang mengajar ialah salah satu guru killer di sekolah nya.


"Alex!!! kenapa kamu ribut," tegur pak Jojo dengan nada yang cukup tinggi.


"Maaf pak tadi ada lalat di meja saya," jawab Alex mengarang alasan.


"Kalau kamu tidak mau mendengar kan lebih baik keluar!"


"Maafkan saya pak," sial'n gara-gara gadis itu, kesal Alex dalam hati.


"Baiklah kita lanjutkan pelajaran nya," kemudian pak Jojo kembali melanjutkan tugasnya sebagai guru.


"Kenapa kamu?" bisik Reza dari meja belakang.


Alex tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.


Flashback


"Kamu harus jadi pacarku!" ujar Shila.


"Pacar??"


"Iya kita pacaran, kenapa? kamu tidak mau tanggung jawab?"


"Bukan itu, tapi aku sudah bilang tidak ada yang terjadi malam itu."


"Pokoknya mulai sekarang kita pacaran, titik" Shila segera pergi setelah mengucapkan itu.


"Hai... tunggu," Alex tak bisa berkata apa-apa lagi. Ingin mengejar tapi bel masuk kelas sudah berbunyi. "Sial'n..." Bugg.. ia menendang apa yang ada di depannya, untuk melampiaskan emosi nya.


Flashback off


Pukkk,


Reza menepuk pelan pundak sahabat nya.


"Kamu kenapa?" tanya Reza setelah jam pelajaran selesai, ia masih penasaran melihat sahabatnya yang uring-uringan sejak tadi.


"Gadis sial** itu minta pertanggungjawaban padaku tadi pagi," Alex berkata dengan frustasi.


"Siapa? Shila?"


Alex menganggukkan kepalanya.


"Tinggal kamu nikahin aja," ujar Reza dengan gampang.

__ADS_1


"Malam itu aja kita tidak melakukan apa-apa." elak Alex.


"Tak rugi juga kan dia cantik, sexy, kaya juga, bukannya kamu juga menyukai nya dari dulu," ujar Reza memberi saran.


"Dia hanya minta berpacaran, katanya untuk berjaga-jaga kalau ia hamil, aneh kan."


"Sudah nikmati saja, santapan lezat sudah di depan mata kenapa kau pusing," ujar Reza.


"Itulah sebabnya, aku tidak bisa menahan hasrat ku kalau dekat-dekat dengannya. Bagaimana jika ia hamil sungguhan?" Alex terlihat semakin frustasi dibuat nya.


"Hahaha... bukankah bagus," seloroh Reza.


"Ishh... " kesal Alex.


Andra hanya menyimak percakapan dua sahabatnya.


"Aku keluar dulu," Andra keluar dari kelasnya. apalagi tujuan nya jika bukan perpustakaan.


°°°


Di kelas lain.


"Rani aku ke perpus dulu," ujar Sabil.


"Iya.." jawab Rani, sedangkan ia tentu saja menunggu sang kekasih menghampirinya.


Duggg


Lagi-lagi Sabil menabrak kakak kelas tampannya.


"Awww..." Sabil memegangi keningnya, dada orang yang ditabraknya sungguh sangat keras pikirnya.


"Hah..." Sabil mengangkat kepalanya.


"Maaf... maaf kak, aku tak sengaja." Sabil membungkukkan badannya berulang kali untuk meminta maaf.


Kenapa selalu bertemu dengan cara seperti ini, ujar Sabil dalam hatinya.


"Tegakan badanmu, tidak usah meminta maaf terus," perintah Andra.


Sabil pun mengikuti perintahnya dengan patuh.


"Bagus, gadis manis..." Andra mengusap kepala Sabil sebentar sebelum ia pergi.


"Ehhh..." Sabil tentu saja tidak percaya, bahkan debaran jantung nya sudah tak bisa lagi ia kendalikan.


Andra sendiri tak mengerti kenapa ia melakukan hal itu pada Sabil.


Wajahnya semakin manis bila ketakutan seperti tadi, seperti kucing kecil yang minta dilindungi.


Gumamnya dalam hati.


Sabil menengok kiri kanan nya, ia takut jika ada yaang melihat interaksi nya dengan idola sekolah ini. Bisa-bisa hidup Sabil tak tenang, gadis di sekolah ini pasti akan menguliti nya hidup-hidup.


"Hiihhh membayangkan saja menakutkan," gumam Sabil yang merinding sendiri.


" Tapi kenapa aku merasa nyaman diperlakukan seperti tadi," lanjutnya.

__ADS_1


"Sudahlah lebih baik aku lanjutkan ke perpus nya."


Sabil telah memilih beberapa buku yang akan di bacanya, seperti biasa ia akan memilih tempat duduk yang tidak terlalu banyak orang.


Ya di tempat yang biasa Sabil duduki, memang lebih sepi dibanding dengan bagian lain.


Karena di bagian yang lain tentu ada sang idola sekolah, kakak kelasnya. Jadi kebanyakan para siswi ke perpustakaan, hanya ingin melihat dengan dekat sang idola saat belajar. Mereka hanya menjadikan buku-buku yang di pegang nya sebuah alasan.


Sabil tak mau ambil pusing, baginya ia justru senang ada bagian yang lebih tenang untuknya membaca.


Tiba-tiba ia terpikir kejadian barusan, tanpa sadar ia mengusap kepalanya yang tadi di sentuh kakak kelasnya.


Sabil menggelengkan kepalanya kemudian, fokus kembali pada buku di depannya.


Gerak gerik Sabil tentu tak luput dari pandangan Andra. Ia tersenyum melihatnya.


Membuat gadis-gadis di sekitar nya salah tingkah di buatnya, mereka pikir sang idola memandangi mereka.


°°°


Sekarang Andra punya kebiasaan baru, mengikuti Sabil saat pulang sekolah. Memastikan sang gadis selamat sampai tujuan.


Saat sampai depan toko kue ayahnya, Sabil merasa aneh seperti ada yang mengikuti nya di jalan tadi. Ia pun melihat sekeliling, tapi tidak ada yang mencurigakan pikir nya.


Sabil bergegas masuk di dalam, ternyata pelanggan wanita yang sering datang sudah di dalam.


"Siang nyonya," sapa Sabil.


"Hai... cantik kau sudah pulang?"


Sabil tersenyum manis, " Apa nyonya sudah lama disini? sudah mendapat pesanannya?"


"Ayahmu sedang membuatnya, ayo duduk temani saya mengobrol," ajak wanita itu.


Dengan senang hati Sabil menerima ajakan sang pelanggan.


Mereka tampak menikmati obrolan di siang hari itu. Sesekali wanita itu tersenyum, bahkan tertawa, Sabil sangat pandai menjadi mood booster seseorang.


Sedangkan di luar, Andra masih belum beranjak dari tempatnya.


"Itu seperti mobil Mommy."


Dad Ray memang pernah bilang jika Mom Rahmi sering berkunjung ke toko itu.


Tidak lama kemudian ia melihat sang Mommy muncul dari balik pintu toko kue itu.


Terlihat Sabil mengantar Mom Rahmi sampai depan pintu, ia begitu ramah. Bahkan sesekali terlihat mom Rahmi memeluk Sabil.


Andra tak menyangka Mommy nya begitu dekat dengan Sabil. Ia pun tersenyum melihat Mommy nya sebahagia itu bersama Sabil.


"Mom pulang dulu ya, kau harus berjanji pada Mom kalau kau akan main ke rumahnya,"


"Baiklah nyo... eh Mom," Sabil tersenyum kikuk, sejujurnya ia enggan memanggil wanita itu dengan sebutan Mom. Tapi apa boleh buat, wanita itu sendiri yang meminta. Katanya ia sangat suka anak perempuan, jadi menyuruh Sabil memanggilnya Mom.


Alasan yang sedikit tak logis menurut Sabil. Tapi Sabil tetap mengikuti nya, apa salahnya wanita itu juga begitu baik dan lumayan dekat dengan nya. Dan ia juga bisa melihat sosok seorang ibu yang begitu tulus dalam dirinya.


Mobil yang tumpangi Mommy Rahmi sudah melesat jauh, kini Andra pun mulai menyalakan mesin mobilnya...

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2