
°°°
Sabil terlonjak kaget ketika melihat perempuan yang sedang duduk itu menoleh. Dia hapal betul siapa itu. Meski perempuan itu menggunakan kacamata hitam dan masker, Sabil tetap mengenalinya.
"Ayo ikut..." Buru-buru Sabil membawa perempuan itu ke ruangan khusus agar leluasa untuk mengobrol.
"Padahal aku ingin memberimu kejutan tapi kau sudah mengenaliku duluan," Rani mencebik kesal setelah sampai di ruangan itu. Lalu melepaskan kacamata dan maskernya.
"Bagaimana aku tidak mengenali sahabatku sendiri," ujar Sabil tersenyum, lalu ia berjalan mendekat setelah menutup pintu.
Mereka saling berpelukan, melepas rindu.
"Sudah lama sekali rasanya kita tidak bertemu," ujar Rani.
"Aku terharu karena artis cantik yang terkenal dan jadwalnya padat mau mampir ke tempatku." Dijawab dengan ledekan oleh Sabil.
"Apa kau sedang menyindirku..." ujar Rani menyipitkan matanya.
"Hehehe... ayo duduk dulu." Mereka pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Namun, Rani menajamkan matanya ketika melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Sabil.
"Apa kau tidak akan menceritakan kebahagiaanmu." Ujar Rani seraya menatap jari Sabil.
Sabil tau apa yang dimaksud oleh temannya itu, ia pun hanya tersenyum.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, tapi ini terlalu mendadak kemarin, aku juga tidak menyangka..." ujar Sabil penuh rona kebahagiaan.
"Aku ikut bahagia mendengarnya. Hebat kak Andra bergerak cepat... hehehe..." Ujar Rani ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan sahabatnya. Namun, ia juga sedikit iri dirinya yang sudah lama menjalin hubungan dengan Dion tapi sampai saat ini belum juga ada kejelasan.
__ADS_1
"Hai kenapa wajahmu terlihat sedih." Sabil menyadari perubahan raut wajah Rani.
"Tidak..." Rani berusaha tersenyum.
"Aku tau kau kesini pasti karena ada sesuatu, ayo ceritakan padaku..." Sabil menggenggam tangan sahabatnya menyakinkan.
Rani menatap Sabil sendu, tidak tau dari mana mau bercerita. Sudah lama ia tidak datang menemui sahabatnya itu tapi sekarang ia datang hanya karena butuh teman cerita saja.
"Kenapa melamun... ayo ceritakan, kau masih menganggap ku sahabat kan???"
Rani tersenyum miris, padahal ia sudah lama tidak menyapa sahabatnya itu tapi Sabil tetap saja baik hati.
"Maafkan aku karena jarang berkunjung..."
"Hai... kenapa malah meminta maaf, bukankah diantara kita tidak perlu saling meminta maaf dan berterima kasih. Kau begitu sibuk dan aku mengerti, aku juga senang bisa melihatmu di televisi itu berarti kamu sehat dan baik-baik saja." Entahlah hati Sabil terbuat dari apa.
"Sabil kenapa kau begitu baik..." Rani menghambur ke pelukan sahabatnya.
"Hehehe... tidak."
"Aku bingung Sabil, kak Dion banyak berubah sekarang. Dia jarang menghubungiku dan jarang menemui ku." Raut wajah sedih mulai nampak saat Rani mulai menceritakan tentang sang kekasih.
Sabil mendengarkan keluh kesah sahabatnya, tanpa memotong apa yang Rani katakan.
"Banyak yang bilang kak Dion berpacaran dengan A dan B, tapi aku tak percaya. Aku yakin kak Dion bukan lelaki seperti itu. Tapi belakangan ini dia juga susah dihubungi, aku jadi sedikit ragu. Sekarang aku menyesal karena telah menyembunyikan hubungan kami dari publik, aku rindu kak Dion..."
Rani menumpahkan segala rasa yang mengganjal di hatinya. Selama ini di dunia entertainment, ia tidak banyak mempunyai teman. Hanya beberapa saja yang dekat, itu saja tak sedekat hubungannya dengan Sabil. Kebaikan orang-orang di dunia entertainment baginya banyak yang hanya topeng belaka. Tidak mungkin ia bercerita masalah pribadinya pada teman sesama artis, banyak dari mereka yang justru menjadikan itu untuk menjatuhkan artis lainnya.
"Apa yang harus aku lakukan..."
__ADS_1
" Apa kau percaya pada kak Dion?" Tanya Sabil.
"Aku percaya awalnya, tapi saat ini aku ragu." Jawab Rani.
Sabil mengelus punggung sahabatnya, memberi ketenangan. Menjalani hubungan yang disembunyikan memang tidak mudah, banyak rintangan dan godaan didalamnya karena orang-orang tidak tau mereka sudah mempunyai pasangan.
"Temui lah kak Dion dan bicarakan baik-baik. Aku rasa kalian hanya kurang komunikasi dan jangan sungkan mengungkapkan perasaan kalian. Terbuka pada pasangan akan membuat kalian saling mengerti satu sama lain." Ujar Sabil.
Rani mencerna apa yang Sabil katakan. Ada benarnya memang, selama ini mungkin Rani terlalu egois karena selalu memaksa Dion untuk mengerti dirinya. Dion sudah banyak mengalah padanya.
Apa kak Dion tidak tahan denganku dan sekarang dia akan meninggalkanku. Aarrgghhh... tidak kak Dion tidak mungkin seperti itu. Pikiran buruk berkecamuk dalam batin Rani.
"Tidak-tidak..." ujar Rani seraya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kau berpikiran buruk," tanya Sabil penuh selidik.
"Hehehe... tidak. Tapi bagaimana aku menemuinya, sedangkan dia saja tak membalas pesanku." Rani menunduk sedih.
"Aku rasa sudah cukup lama kalian menyembunyikan hubungan ini. Datanglah ke kantornya. Kak Dion pasti tak akan keberatan."
Sabil mencoba memberi saran.
°°°
Xiexie
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian readers ku tersayang....
Ajak juga teman, pacar, saudara,dan tetangga kalian untuk mampir di novelku yaaa....
__ADS_1
Aku tidak minta vote yang adanya seminggu sekali, cukup like dan komen nya saja.
Terimakasih...