
°°°
Sedangkan Andra yang sedang meeting bersama klien pentingnya sudah gelisah dari tadi. Sejak satu jam yang lalu sang istri tak membalas pesannya. Terakhir Sabil bilang ingin keluar sebentar untuk membeli kopi katanya. Tapi sampai sekarang istrinya itu belum ada kabar lagi.
Mau pergi duluan pun tidak bisa karena sekarang dia lah yang menjadi CEO. Daddy nya disana hanya sekedar menemani saja. Dia bingung antara tanggung jawab sebagai pemimpin atau sebagai suami. Alhasil Andra lebih banyak diam di sana, rasa khawatirnya sudah memenuhi pikirannya.
"Terimakasih tuan, saya senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Adiguna. Kalian ayah dan anak sungguh luar biasa." Sang klien menyanjung dad Ray dan Andra.
"Sama-sama tuan, kami yang berterimakasih karena tuan sudah percaya dengan perusahaan kami."
Akhirnya mereka berjabat tangan, sebelum akhirnya klien besar itu meninggalkan tempat itu terlebih dahulu. Andra buru-buru menelpon sang istri. Namun, nomor telepon Sabil tidak aktif sekarang. Ia mondar-mandir gelisah jadinya. Sekarang ia menelpon ponsel mommy nya, siapa tau Sabil sudah kembali ke kamar.
"Hallo mom, apa Sabila sudah kembali?" tanya Andra pada intinya.
"Belum nak, baru saja mom mau menelpon mu. Karena saat mom bangun Sabil sudah tidak ada disini. Apa dia pergi denganmu?"
Deg
Kemana Sabil, apa terjadi sesuatu? Kenapa ponselnya mati juga. Aku tidak boleh membuat mom Rahmi khawatir. Biar aku cari dulu saja.
"Ya sudah kalau begitu mom, mungkin dia kembali ke apartemen. Nanti aku akan menyusul." Andra terpaksa berbohong, kondisi sang mommy tidak memungkinkan jika sampai mendengar kabar buruk. Jantungnya yang lemah bisa membuat keadaannya semakin memburuk.
"Berjanjilah untuk menemukan dia nak, mommy khawatir, perasaan mom tidak enak. Jangan lupa kabari mommy jika sudah menemukan Sabil."
"Tenang saja mom, tidak perlu khawatir. Andra pasti menemukannya." Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu dengan istriku mom. Aku janji.
"Jaga diri mom baik-baik, kami sudah selesai meeting. Sebentar lagi Daddy akan kembali mom." Andra juga merasa ada yang tidak beres tapi ia tak mau menunjukkannya pada mom Rahmi.
"Baiklah nak, tolong temukan Sabila."
Andra merasakan apa yang mommy nya rasakan. Tapi ia berusaha bersikap tenang seperti tak terjadi apa-apa.
"Bagaimana nak?" tanya dad Ray yang baru kembali setelah mengantarkan kliennya sampai didepan restoran.
__ADS_1
"Masih tidak ada kabar dad dan sekarang ponselnya juga tidak aktif. Aku sudah menghubungi mommy dan mom bilang Sabil belum kembali dari tadi."
"Aku takut terjadi sesuatu pada istriku dad." Kerapuhan terlihat jelas di wajah Andra saat ini, tidak akan ada yang menyangka jika pria dingin dan kaku seperti Andra, bisa serapuh ini saat istrinya menghilang.
"Tenang nak, kau harus menghadapinya dengan kepala dingin. Agar bisa berpikir jernih untuk mencari keberadaan istrimu." Dad Ray berusaha menenangkan putranya.
"Ayo kita kembali dulu ke rumah sakit dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, sebelum Sabil menghilang." Perkataan dad Ray mampu menumbuhkan semangat untuk sang putra. Bagaimana ia tak berpikir seperti itu dari tadi. Andra pun segera mengangguk.
Mereka sampai di rumah sakit, dad Ray dan Andra langsung mencari petunjuk. Tapi sayang tak ada petunjuk yang berarti, semuanya normal dan tidak ada yang aneh.
Andra hampir putus asa, mengkhawatirkan keadaan istrinya. Sabil bahkan tak mengenal siapapun disini dan tidak mengenal daerah ini. Bagaimana jika dia tersesat atau bertemu orang jahat. Berbagai pikiran buruk menghantam dirinya.
Kemana kamu sayang, kenapa tiba-tiba menghilang. Apa yang terjadi padamu.
Andra menunduk karena tidak ingin ada orang yang melihat kelemahannya. Dad Ray pun tak kalah panik, dia sudah menelpon orang-orang suruhannya untuk ikut membantu. Jika sampai malam tidak juga ditemukan maka dad Ray akan memakai jasa detektif.
"Permisi tuan-tuan..." Seorang pria berseragam cleaning servis memberanikan diri untuk bersuara dan mendekat.
"Boleh saya tau seperti apa wajah nona muda yang sedang kalian cari, saya hanya ingin memastikan jika orang yang saya lihat adalah orang yang sama dengan nona," kata pria itu.
"Ohh sebentar pak." Dad mengotak-atik ponselnya untuk mencari foto Sabil.
"Ini pak, apa anda melihatnya?" kata dad Ray seraya menunjukkan foto menantunya.
"Iya benar tadi saya melihatnya keluar dari lift dan kelihatannya dia seperti menangis. Lalu dia naik mobil warna hitam dan pergi meninggalkan rumah sakit." Pria itu berkata dengan yakin.
Seketika Andra mengangkat kepalanya saat mendengar itu semua.
"Terimakasih pak." Ujar dad Ray.
"Nak sepertinya kita harus mengecek cctv sekali lagi. Sepertinya ada yang kita lewatkan." Andra setuju dengan apa yang dad Ray katakan, ia pun segera membuka laptopnya dan mulai meretas cctv yang ada di rumah sakit itu.
Bukan hal yang sulit bagi Andra untuk membobol keamanan rumah sakit itu, dengan mudah ia sudah bisa membuka rekaman cctv.
__ADS_1
"Lihatlah Dad. Tidak ada yang mencurigakan dari awal Sabil keluar dari ruangan mom dan sampai masuk ke lift."
Mereka menyimak baik-baik rekaman yang menampilkan Sabil sebelum menghilang.
"Aneh, lalu kenapa cleaning servis tadi bilang melihat Sabil menangis." Dad Ray mencoba berpikir, mencari sesuatu yang mengganjal. Ia tau saat ini putranya sedang kalap, tak mungkin Andra bisa berpikir jernih.
"Coba kau perjelas saat Sabil keluar dari lift di lantai bawah," ujar dad Ray.
Andra pun mengikuti arahan daddy-nya, jarinya dengan cepat menari-nari di atas keyboard.
"Itu Dad."
"Benar, kau lihat Sabil menangis. Aneh kan? Bukankah semuanya baik-baik saja, atau kalian bertengkar?" Dad Ray memastikan apa penyebab Sabil menangis.
"Semuanya baik-baik saja Dad, tidak ada pertengkaran apapun. Dad juga lihat sendiri kan tadi saat kita akan pergi meeting, kami tak bertengkar." Andra sudah frustasi, mengusap wajahnya kasar bahkan mengacak rambutnya sendiri. Sampai saat inipun nomor Sabil belum aktif juga.
"Tenangkan dirimu nak. Kita lihat sekali lagi, Dad yakin kita akan menemukan petunjuk. Dad juga sudah menyuruh orang untuk melacak keberadaan Sabil." Dad Ray terus menenangkan sang putra yang sudah hampir putus asa.
Dad Ray dan Andra mulai meneliti lagi rekaman cctv itu. Tiba-tiba raut wajah mereka berdua sama-sama berubah serius saat menemukan sesuatu. Titik terang penyebab kenapa Sabil menangis kini mulai terlihat.
"Dad apa kau memikirkan hal yang sama dengan ku." Tanya Andra pada sang Daddy.
Dad Ray mengangguk, kemudian mereka saling pandang dan tersenyum.
°°°
Xiexie
#kawal sampai akhir
Yuk yang masih menunggu kelanjutan nya jangan lupa like dan komennya.
Suster Jane enaknya diapain ya???
__ADS_1