
°°°
Sedangkan di kantor Andra sudah jengah dengan tingkah sahabatnya yang sedari pagi belum juga pergi.
Alex sengaja membalas dendam pada Andra. Ia dari tadi bertingkah yang membuat sahabatnya kesal. Sudah berapa banyak barang yang sahabatnya itu lemparkan karena ia terus mengganggu.
Kini giliran Alex yang tertawa puas dalam hati nya. Kamu juga harus merasa kesal An... Hahahaha
Alex bertingkah seolah ini rumahnya sendiri dan juga sesuka hati memerintah Toni.
Mungkin jika yang di sana pak Tantan, ia tak akan berani memerintah.
"Apa kau tidak ada pekerjaan lain! Kenapa masih disini?!!!" Bentak Andra yang kesabarannya mulai habis.
"Hari ini hanya itu pekerjaan ku. Ayah hanya menyuruhku datang kemari dan mendapatkan tanda tangan mu." Jawab Alex dengan santainya. Kakinya berada di meja dengan sepatu yang tidak di lepas, mulutnya tak berhenti mengunyah cemilan yang dibawakan pada Toni. Yah... sampah sudah berserakan di mana-mana, kantor Andra yang bersih dan rapi sudah tak berbentuk.
Andra memijit pelipisnya, melihat keadaan kantornya saat ini. Sudah tidak ada pilihan lain.
Ia menekan telfon yang terhubung dengan ruangan Toni.
"Segera suruh scurity datang kemari untuk menyeret keluar Tuan Alex!!" Andra sengaja mengeraskan suaranya.
Alex yang mendengar langsung berdiri ikut berbicara. "Tidak Ton, Andra hanya bercanda."
Tutt... ia langsung memutus panggilan itu.
"Cepat kau bereskan kalau tidak mau di seret keluar!" Andra menatap tajam temannya.
"Hehehe.. iya iya.. aku akan bereskan. Kau itu galak sekali, bagaimana adik kelas bisa suka."
Andra semakin menatapnya tajam.
"Hehehe... aku bercanda." Alex segera menjauh takut terkena amukan. Lalu ia mengambil tempat sampah dan mulai membersihkan. Memunguti satu persatu sampah yang ia buat sendiri.
Lelah juga ternyata membereskan kekacauan yang Alex buat sendiri, sampai bajunya sudah basah oleh keringat. Ia berhenti sebentar, merebahkan tubuhnya di sofa sampai tidak sadar matanya terpejam. Baru sebentar ia sudah terlelap ke alam mimpi nya.
Andra yang sedari tadi tidak melihat Alex pun menghampirinya.
"Dia malah tertidur disini," gerutu Andra.
Lalu Andra melihat setiap sudut ruangan nya, rupanya keadaan kantor nya sudah kembali rapi.
__ADS_1
"Karena sudah bersih jadi aku akan membiarkan mu tidur." Ujarnya sambil menepuk pelan punggung Alex yang tertidur dengan posisi tengkurap.
Andra kembali berjalan menuju meja kerjanya, melanjutkan kesibukannya.
Alex menggeliat, namun karena tempat ia tidur terlalu sempit jadilah terjatuh kelantai.
Bugg
"Aww..." pekiknya memegang pinggang yang terasa nyeri.
"Sofa siaalaan!" Ia marah sendiri dan menendang sofa itu.
"Jangan merusak sofaku." Ujar Andra.
"Kau! Tidak lihat temanmu kesakitan seperti ini." Jawab Alex melebih lebihkan rasa sakitnya.
"Lebih berharga sofa ku."
"Siaalaan kamu An!" Alex bangkit tapi ternyata rasa nyeri di pinggang nya semakin terasa.
"Aw...awww.... Andra tolong. Kenapa pinggangku ini." Ia tak berbohong kali ini, rasanya seperti mau patah tubuhnya, lalu perlahan kembali duduk dan langsung menyenderkan punggungnya.
Alex terus merintih kesakitan sampai Andra risih mendengarnya, ia pun segera menyuruh Toni ke ruangan nya untuk mengurus Alex.
"Permisi, tuan muda memanggil saya?" Ujar Toni begitu masuk.
"Cepat kau bantu dia," ujar Andra mengacungkan jari telunjuknya pada temannya yang terkapar di sofa.
"Cepat panggil dokter ton, pinggangku sakit!! Awww...." Teriak Alex.
"Kenapa dengan tuan Alex?" Tanya Toni.
"Aww... tidak usah banyak bertanya cepatlah panggilkan dokter!!!" Wajah Alex meringis menahan sakit.
Toni mendekati Alex, "Sepertinya itu hanya terkilir tuan. Aku bisa mengatasinya," ujarnya yakin.
"Aww... Apa-apaan kau itu." Teriak Alex menepis tangan Toni yang menyentuh pinggang nya.
Andra hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya.
"Tenang tuan... percaya padaku." Toni tidak berhenti mencoba menyentuh Alex.
__ADS_1
"Tidak jangan coba-coba mendekat!!" Alex berusaha menjauh agar tidak terjangkau oleh Toni. Walau rasa sakit di pinggangnya, ia bahkan bergerak merangkak sambil terus marah-marah.
"Biar aku mencobanya tuan. Anda berhenti dulu." Terjadilah kejar kejaran antara keduanya.
"Tidaakkk!!! Andra... cepat suruh assisten mu ini menjauh. Aku tidak ingin pinggangku patah karenanya." Teriaknya pada Andra.
Andra memijit pelipisnya lagi. Bukannya selesai keributannya malah semakin bertambah.
"Cukup!!!!" Teriak Andra.
Seketika Alex dan Toni yang sedang kejar kejaran pun berhenti. Alex masih di posisi nya merangkak dan Toni sudah berdiri dan bersikap sopan.
Alex tersenyum puas, ia berpikir pasti temannya akan membelanya dan memarahi assisten kurang ajar itu.
"Ton, cepat kau bantu Alex kembali ke sofa." Perintah Andra.
"Cepat! Dasar assisten siaalaan!" Hardiknya pada Toni. Toni pun mengangkat tubuh Alex perlahan menuju sofa, memposisikan tubuhnya tengkurap. Lalu tanpa aba-aba Toni melanjutkan aksinya. Kaki kanannya menekan pinggang dan tangannya mengangkat pinggang itu dari samping.
Kretekkk, kretekkk
"Aaawwwwww!!!!" Teriak Alex sekencangnya.
"Kau gilaaa!!! Apa kau mau membunuhku hahh!!!" Mulutnya tak berhenti mengumpat.
Kemudian Toni kembali berdiri.
"Coba anda bangun tuan." Ucapnya sopan meski sudah berulangkali Alex mengumpat nya.
"Apa kau tidak lihat aku kesakitan! Aku tidak bisa bangun sekarang...Hiks, hiks, hiks. Andra assisten mu gilaaa..." Tidak hanya berteriak kini Alex meraung-raung tak karuan.
"Sudahlah... hentikan. Cepat bangun." Andra langsung saja menarik temannya itu agar berdiri.
"Awww.... Tunggu... Kau sama saja An. Kalian tidak punya perasaan!"
"Hentikan ocehanmu!! Lihat apa kau masih sakit. Tidak kan??" Tanya Andra.
Alex baru sadar, ia sudah bisa berdiri tegak. Lalu ia menggerak-gerakkan pinggangnya, merasa tak sakit lagi kini ia pun mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya.
"Tidak sakit," ujarnya terasa tersenyum dan masih menggerakkan tubuhnya.
°°°
__ADS_1
Xiexie