
°°°
Sabil menjatuhkan dirinya ke kasur, tidak ada yang bisa menebak apa yang di pikiran gadis itu.
Bunga-bunga seakan bermekaran di musim semi, tidak ada yang lebih indah dari jatuh cinta.
Sabil berguling-guling di atar kasur nya yang cukup empuk itu. Mengacak rambutnya dan menggerak-gerakkan kakinya.
Apa aku sudah gila, kenapa dadaku terus bergemuruh. Senyuman terus terukir di wajahnya.
Tok, tok, tok
"Sabil... apa ayah boleh masuk?" Tanya pak Mul di depan pintu.
"Iya ayah, masuklah." Jawab Sabil, ia segera bangun dan duduk di tepi ranjang dan merapikan rambutnya yang sempat berantakan akibat ulah nya sendiri.
klek.
"Nak.. kata nak Amel tadi kau tidak enak badan. Benarkah itu?"
Pak Mul langsung mencari Sabil saat Amel bilang bahwa anak gadisnya seperti sedang sakit.
"Tidak ayah, mungkin Sabil hanya kecapean. Maaf karena aku pulang terlalu sore."
"Ohh tidak apa, tadi nak Andra sudah menjelaskan nya di telfon saat kalian sedang di kantor nya." Ujar pak Mul seraya mengusap lembut kepala Sabil.
"Ohh... begitu syukurlah kalau ayah sudah tau."
"Sekarang kau bersihkan badanmu, dan makan malam sebentar lagi. Ayah akan ke depan dulu membantu yang lain."
__ADS_1
"Bukankah Sabil sudah bilang, ayah jangan terlalu lelah. Ayah hanya tinggal memantau saja." Sabil mengerucutkan bibirnya, pura-pura merajuk karena sang ayah tidak mau mendengarkannya.
"Ayah hanya membantu sedikit, kasihan bila mereka sedang kewalahan."
"Apa perlu kita menambah karyawan?" Ujar Sabil mencoba memberi saran.
"Nanti ayah akan pikirkan. Bergegaslah untuk mandi."
Pak Mul berjalan keluar kamar.
Sedangkan Sabil hanya bisa menghela nafas, fisik ayahnya sudah tak sekuat dulu. Ia khawatir sang ayah akan sakit karena terlalu lelah.
,,,
Andra juga sudah sampai di apartemen nya.
Ya setelah kedua orangtuanya pergi keluar negeri, ia memilih kembali tinggal di apartemen. Selain dekat dengan kampus nya, ia juga merasa apartemen tak sebesar rumah jika di tinggali sendiri.
Andra akan mengawasi gerak-gerik orang dalam perusahaan yang sudah ditandainya. Ia ingin melihat sejauh mana orang-orang itu bertindak, sampai saat ini kerugian perusahaan memang tidak besar. Namun Andra khawatir, mereka akan memanfaatkan tidak adanya sang Daddy di sini. Tentu Andra harus waspada, banyak pekerja yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan. Ia tak mau membuat mereka kecewa.
Andra perlu air dingin untuk mendinginkan pikiran nya. Melihat para manusia yang dengan tega mengkhianati Daddy nya. Padahal Daddy nya amat baik pada mereka, ya mereka memang masih punya hubungan saudara dengan Dad nya.
"Kalian berani bermain-main jangan menyesal nantinya!!" Geram Andra.
Ia memang tidak bisa bergerak sekarang, menunggu Dad nya menyerahkan jabatan CEO padanya. Lalu kenapa tidak bilang saja pada dad Ray? Andra tak mau membuat pikiran Daddy nya bertambah, biarlah ini menjadi urusannya. Dan biar sang Daddy fokus pada kesehatan Mom Rahmi.
Andra menutup laptopnya dengan sedikit kasar.
Lalu pergi ke dapur untuk mencari lemari pendingin, ia mengambil minuman bersoda dingin. Ditegaknya minuman itu tapi belum cukup mendinginkan kepalanya.
__ADS_1
Ia bersandar di sisi meja dapur dengan pakaian yang masih sama dan minuman yang masih di tangannya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya, wajah tampan yang banyak di gilai kaum hawa. Apa lagi jika bukan memikirkan Sabila. Ia tidak menyangka akan mencuri ciuman gadis yang tengah tertidur. Padahal jika mau banyak gadis yang rela melemparkan tubuhnya pada Andra.
"Wajahnya sangat manis bila tertidur..." gumamnya.
Rupanya hanya membayangkan wajah gadis itu saja, ia sudah bisa meredam emosi nya.
Sang fajar sudah mulai menyapa.
Andra sudah bangun dan sedang menyantap sarapan nya. Sarapan yang ia buat sendiri karena memang dia tidak menggunakan jasa pembantu di apartemennya. Mereka hanya datang seminggu sekali untuk membersihkan apartemen itu.
Pagi ini ia ada kelas pagi, jadilah setelah sarapan ia segera menuju kampus.
Ia memarkirkan mobilnya setelah memasuki halaman kampus. Para mahasiswi yang menyadari Andra datang langsung histeris. Ada yang sibuk membenahi diri agar terlihat lebih cantik, berharap sang tuan muda mau meliriknya.
Lihat itu Andra sudah datang.
Kapan dia akan melihat ku.
Iya dia sangat dingin pada para gadis di kampus ini.
Bahkan pada gadis tercantik di kampus ini saja ia tidak tertarik.
Bisik-bisik para mahasiswi melihat Sang tuan muda.
Ya ada satu gadis cantik dengan tubuh bak gitar spanyol yang amat tergila-gila pada Andra.
Jihan anak pak menteri. Ia bahkan sampai menggunakan kekuasaan sang ayah untuk membujuk sang tuan muda. Tapi bukan Andra namanya bila ia bisa terpengaruh pada gadis semacam Jihan, yang kegadisannya saja perlu di pertanyakan.
°°°
__ADS_1
xiexie