
°°°
Andra menghamburkan setumpuk dokumen itu, amarah, kesal dan emosi menguasai hatinya. Ia berjanji akan membuat wanita itu menerima akibat yang lebih buruk dari ini.
Beberapa orang tampak gemetar saat melihat tuan muda Adiguna marah. Kini giliran mereka menjawab setiap pertanyaan yang akan Andra tanyakan.
"Bagaimana kalian bisa tidak tau jika wanita itu memalsukan semua dokumen ini. Mommy ku bisa saja sembuh dari dulu tapi ia harus menanggung rasa sakitnya selama ini karena keteledoran kalian!!"
Tidak ada yang berani menjawab, mereka akui jika apa yang mereka lakukan memang salah terlalu mempercayai wanita yang berstatus perawat itu. Selama ini mereka kira wanita itu adalah orang kepercayaan dari tuan Adiguna, maka dari itu mereka selalu menuruti semua perintah suster Jane.
Saat suster itu meminta dia yang akan menyerahkan semua dokumen pasien yang akan mendonorkan jantung, mereka dengan gampangnya percaya. Bahkan obat dan semua keperluan Nyonya Rahmi, suster Jane sendirilah yang menyiapkannya.
Tanpa rasa curiga, semua perawat dan dokter percaya pada wanita itu. Mereka juga melihat sendiri kedekatannya dengan nyonya Rahmi. Suster Jane juga sempat berkoar-koar jika dirinya akan menjadi menantu keluarga Adiguna. Tentu mereka percaya karena selama ini Andra tak pernah mempublikasikan pasangannya.
Keringat dingin mulai mengucur di dahi mereka. Pasrah jika tuan Adiguna akan menutup rumah sakit ini. Bahkan petinggi dan direktur rumah sakit itupun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa kalian tau bagaimana rasanya hidup bertahun-tahun di rumah sakit, mommy ku bahkan harus menggunakan bantuan alat-alat kedokteran untuk menopang hidupnya."
Andra memutar tempat duduknya, membelakangi mereka semua. Para pengawal tampak berdiri di sisi-sisi ruangan itu. Andra tidak bisa menghukum mereka semua karena memang mereka tidak terlibat dalam kejahatan yang suster Jane buat. Tetapi Andra kecewa pada kinerja para dokter yang katanya terbaik dan berpengalaman. Seharusnya mereka mengawasi pasiennya. Tidak beralih tangan seenaknya.
"Jika hari ini kalian tidak bisa menemukan pendonor yang cocok untuk mommy, aku tidak bisa menjamin Daddy ku akan bisa mentolerir kesalahan kalian." Ujarnya tanpa berbalik.
Mereka jelas merasa lebih takut, kemarahan putranya saja seperti ini. Bagaimana menghadapi kemarahan tuan besar Adiguna yang bisa lebih dari ini. Mereka sama-sama menelan ludahnya sendiri, mendadak kerongkongan terasa mengering. Mendapatkan pendonor dengan cepat bukanlah hal yang mudah. Mau mencari pendonor yang ada di dokumen pun tak mungkin, mereka sudah pasti sudah ada dalam liang lahat.
Tuan dan nyonya Adiguna tidak menerima pendonor yang masih hidup dan sehat. Mereka bukan tuhan yang bisa mengambil nyawa orang seenaknya. Hanya orang yang mungkin hampir meninggal tapi jantungnya masih bagus.
"Kalian bisa pergi sekarang."
Mereka bubar, dengan cepat mereka mencari informasi ke rumah sakit lain. Ada juga yang pergi ke beberapa yayasan dan kantor polisi, siapa tau ada yang baru kecelakaan. Mungkin jika mencari di pasar gelap, akan ada banyak perdagangan organ tubuh manusia dan bisa dengan mudah mendapatkan jantung manusia.
Tapi itu sangat bertentangan dengan kode etik kedokteran dan itu sama saja kita mendukung kegiatan yang diharamkan oleh agama manapun.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Andra berjalan menghampiri istri dan daddy nya. Sabil yang melihat suaminya langsung berlari kearahnya dan memeluk erat tubuhnya. Dad Ray pun berdiri dari duduknya.
"Kak Andra baik-baik saja kan?" tanya Sabil yang begitu mencemaskan keadaan suaminya.
"Tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku, aku bisa menjaga diri dengan baik. Kau lihat semuanya baik-baik saja." Berusaha tersenyum, tak ingin membuat Sabil bersedih.
Sabil kembali masuk kedalam pelukan Andra, walaupun tersenyum Andra tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Tak perlu berpura-pura kuat di depanku kak. Aku adalah istrimu, kau harus berbagi kesedihan juga dengan ku." Andra pun membalas pelukan itu, pelukan yang mampu meredam emosinya dan kini pelukan itu juga mampu memberikan ketenangan disaat hati dan pikirannya sedang kacau.
"Ayo kita temui Daddy," ajak Sabil.
"Bagaimana keadaan mommy didalam sana Dad?"
"Dokter sedang berusaha, kita doakan yang terbaik untuknya." Dad Ray pun sama ia berusaha tegar padahal disini mungkin dialah yang paling merasa sedih.
"Maafkan aku Dad, salahku karena dulu membiarkan wanita itu merawat mommy padahal aku tau dia bukan wanita baik-baik. Salahku yang tak menjaga mommy selama ini, salahku yang dulu keras kepala tak mau memaafkan mommy sampai dia sakit-sakitan."
"Bukan salahmu nak, semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Daddy mengerti, kita hanya kurang waspada saja. Daddy pun salah, padahal setiap hari selalu bersama mommy tapi tak pernah menyadari itu."
Dad Ray dan Sabil sudah tau apa yang terjadi sebelum Andra datang, karena pengawal yang ditugaskan melindungi Andra melapor padanya. Sekarang bukan saatnya marah, lebih baik gunakan waktunya untuk berdoa karena hanya Tuhan yang mampu memberikan keajaiban.
,,,
Didalam ruang ICU puluhan dokter ahli sedang berusaha menyelamatkan nyawa nyonya Adiguna. Banyak alat menempel ditubuh wanita yang terbaring tak berdaya itu.
Mereka meneteskan peluh keringat dingin, seperti sedang ujian hidup dan mati. Yang mereka tangani bukan sembarang orang, istri dari tuan Adiguna. Banyak rumor mengatakan jika tuan Adiguna kejam dan tak kenal ampun, belum lagi ada putranya yang tak kalah menyeramkan.
Para dokter juga berjuang mati-matian untuk membuat Nyonya Rahmi bertahan hidup. Mereka bukan Tuhan yang mampu memperpanjang usia manusia tapi mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik.
Dokter-dokter itu didatangkan dari berbagai rumah sakit terkenal. Kemampuan dan keahliannya tak perlu diragukan lagi tapi tetap saja takdir manusia ada ditangan Tuhan mereka. Dokter dan petugas medis lainnya hanya perantara saja.
__ADS_1
Ketegangan mereka rasakan saat layar monitor menampilkan jantung nyonya Rahmi yang semakin melemah. Panik dan takut menjadi satu. Mereka sudah biasa menghadapi situasi ini, dimana pasien yang hampir meninggal mereka tangani.
Namun, ini berbeda. Memasang jarum infus dan alat pernapasan saja mereka harus sangat berhati-hati. Peringatan dari suami pasien yang saat ini mereka tangani selalu terngiang di telinga.
"Kalian harus berjanji, jangan menyakiti istriku. Sekalipun ia sedang tidak sadar tapi aku tidak mau istriku kesakitan dalam alam bawah sadarnya."
Ini gilaaa, peringatan macam apa itu. Mana ada dokter yang ingin menyakiti pasiennya. Menyuntikkan jarum atau memasukkan selang pernapasan apakah juga termasuk menyakiti. Tetapi mereka hanya berani bersuara dalam hati atau mereka sudah tidak ingin kembali ke negaranya lagi.
Mereka hanya tidak tau betapa besarnya rasa cinta dad Ray terhadap sang istri. Mungkin jika itu lelaki kaya yang lain, mereka akan meninggalkan istrinya yang sakit-sakitan dan mencari wanita lain. Berbeda dengan tuan Adiguna yang berjuang bersama sang istri melawan penyakitnya.
"Lihatlah, jarinya bergerak."
Terharu, mata semua orang yang ada di ruangan itu berkaca-kaca. Mereka seperti mendapatkan secercah cahaya dalam kegelapan. Rasanya saat pertama kali melakukan operasi juga tak sebahagia ini.
"Cepat katakan pada tuan Adiguna." Perintah salah satu dokter.
°°°
Xiexie
#Kawalsampaiakhir
Makasih ya yang masih setia ngikutin cerita ini. Makasih juga yang udah mau kasih vote kalian yang harganya tak ternilai bagi penulis pemula seperti saya.
Salam sayang dari Sabila dan Andra.
Jangan lupa baca juga novel baruku ya guys.
Judulnya : Bersabar Dalam Luka (Perjodohan)
Cari Nama penanya : Three ono
__ADS_1
Xiexie