
°°°
Rani tak menoleh sedikitpun, hatinya terlanjur sakit mendengar suara aneh tadi.
Dion tak tinggal diam, ia menarik tangan Rani sampai gadis itu menabrak dada bidangnya.
"Lepas kak!" Berontak Rani yang tak ingin mendengar alasan apapun.
Ternyata itu Dion yang mencegah Rani pergi, lelaki itu segera berlari keluar saat mendengar suara yang sangat ia kenal di depan pintu.
"Kau menangis..." Bukannya melepaskan tapi Dion malah membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Lepaskan kak, aku ingin pulang..." ujar Rani seraya memukul-mukul dada bidang lelaki itu.
"Baiklah. Ayo pulang bersama. Tidak lewat sini, kita naik lift."
Tanpa menunggu jawaban Dion menggandeng tangan Rani menuju lift.
Rani menolak ia berusaha melepaskan tangannya tapi kekuatannya tak sebanding dengan Dion.
"Biarkan aku pulang sendiri kak. Kak Dion tidak perlu mengantarku, urus saja wanita itu," ujar Rani dengan suara bergetar tapi Dion tak perduli ia tak melepaskan genggaman tangannya.
Sampai di dalam lift pun Rani masih berontak.
"Aku sudah bilang ingin pulang sendiri tak perlu diantar. Kenapa kakak memaksa." Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Hatinya begitu kecewa dengan apa yang ia dengar. Ia menyesali semua sikapnya yang tak peduli pada Dion, sehingga lelaki itu mencari wanita lain.
Tangisan Rani begitu memilukan, hati Dion pun begitu sakit melihatnya. Lalu ia menyeka air mata yang membasahi pipi sang kekasih, menangkup wajah sembab itu kemudian mencium bibir Rani.
Tentu saja Rani semakin marah, setelah lelaki itu bersenang-senang dengan wanita lain lalu sekarang menciumnya. Kembali ia memukul dada bidang Dion agar melepaskan ciumannya.
"Kakak jahat... hiks hiks..."
"Kau menangis dan cemburu tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Kau tidak ingin tau?"
"Apa lagi kak, semuanya sudah jelas. Kita putus saja."
Cup
Dion kembali menciumnya.
"Sekali lagi kau bilang putus, aku akan terus menciumi mu."
__ADS_1
"Apa mau kak Dion. Kalau kakak sudah tidak mencintaiku untuk apa mempertahankan hubungan ini."
Cup
"Lihatlah..." Dion menyodorkan ponsel nya yang menayangkan sebuah rekaman cctv yang ada di ruangannya.
Rani enggan menoleh.
"Lihatlah atau aku cium lagi."
Dengan terpaksa Rani melihat rekaman itu.
Di dalam rekaman itu menampilkan sosok seorang wanita yang Rani cukup kenal, mereka pernah syuting film yang sama. Wanita itu memakai baju yang sangat sexxyy dan membiarkan belahan dadanya terekspos agar bisa dilihat Dion tentunya.
Wanita itu berjalan mendekati Dion lalu seperti sedang merayu lelaki itu.
Dengan tidak tau malu wanita yang nampak seperti jal*ng itu memanggil Dion dengan sebutan sayang seperti yang Rani dengar tadi, tapi kemudian Dion menepis tangan wanita itu dengan kasar. Itulah yang membuat wanita itu mendeeessaah tapi karena kesakitan bukan karena nikmat.
Rani melihat dengan seksama setiap adegan di cctv itu. Wanita itu kembali mendekati Dion tapi kali ini lelaki itu mendorong tubuh sexxyy itu sampai terjatuh di lantai. Lagi-lagi wanita itu mengeluarkan suara desaahaaannn kesakitan.
"Kau lihat sendiri apa yang terjadi tadi," ujar Dion setelah rekaman itu berakhir.
"Tapi kenapa wanita itu bisa masuk keruangan kak Dion. Bahkan selama ini banyak sekali gosip tentang kakak yang suka bergonta-ganti aktris yang keluar masuk ruangan CEO."
"Apa kau mau melihat rekaman cctv nya satu persatu? Aku bisa menunjukkannya kepadamu kalau mau."
"Tidak kak, itu pasti hanya gosip."
"Jadi kau masih punya rasa percaya juga padaku."
"Bukan begitu kak. Tapi siapa yang bisa berpikir jernih bila mendengar suara seperti itu."
"Oh yaa... suara seperti apa," Dion menggigit telinga Rani.
"Kak..."
"Aku ingin tau suara seperti apa yang bisa membuat salah paham." Dion tersenyum menyeringai.
Kembali lelaki itu mencium bibir ranum milik Rani, bahkan kini ia melu-maat dan menye-sapnya. Ciuman itu semakin dalam dan liar, membuat Rani kewalahan mengikutinya. Sekian lama tidak bertemu, membuat kerinduan di hati Dion kian menggebu.
Kini bibir lelaki itu sudah beralih ke leher, menyusuri dengan lidahnya dan sesekali memberikan hisap-an kecil disana.
__ADS_1
Rani yang baru pertama kali merasakan itu menegang, darahnya seakan mendidih. Rasanya aneh membuat tubuhnya melemas, kalau tangan Dion tak menahan pinggangnya pasti tubuhnya sudah terhuyung ke belakang.
"Ahhhh...." Satu desaahaaannn lolos dari mulut Rani saat Dion menyesap lehernya sedikit kuat.
"Apa suara seperti itu yang kamu dengar," tanya Dion dengan suara seraknya di telinga Rani.
Sontak membuat Rani malu dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tetapi Dion tak membiarkannya bertahan lama, ia lalu menarik tangan Rani keatas kepalanya.
"Jangan ditutupi, aku ingin mendengarnya. Itu terdengar sangat merdu." Seketika wajah Rani merona.
Dion kembali mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan di setiap sisi wajah Rani yang masih sembab.
"Kau datang kemari lalu pergi begitu saja tanpa menemuiku, apa kau tidak tau kalau aku begitu merindukanmu. Kau harus dihukum," ujar Dion lalu ia kembali mengecup bibir yang sudah sedikit bengkak itu.
"Kak sudah. Nanti ada yang melihat jika pintu lift ini terbuka," ujar Rani yang kehabisan nafas karena ciuman Dion yang mengganas.
"Tidak akan ada yang berani membukanya." Dion memencet tombol kembali naik lantai atas. Gadis itu melongo, melihat apa yang Dion lakukan.
"Kenapa kita naik lagi kak?" tanya Rani sedikit protes.
"Karena aku belum menghukum mu."
Dion berkata dengan entengnya kemudian kembali melancarkan aksinya. Desaahaaannn demi ****** lolos saat lelaki itu kembali menyusuri lehernya.
Lelaki itu tak membiarkan Rani lepas sedikitpun dari kegiatan yang sedikit panas itu. Sedikit panas karena hanya sampai leher saja yaa.
Untunglah saat pintu lift terbuka Dion sudah menyudahi aksinya.
Wajah Rani begitu merona menahan malu.
°°°
Xiexie
Terimakasih sudah mendukung karyaku. Karena mood author tergantung readers nya.
Kalau kalian selalu mendukung sudah pasti author akan semakin bersemangat untuk update. 😁😁😁
Sehat selalu untuk kita semua.
__ADS_1