Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab75 Sahabat Lama


__ADS_3

°°°


Akhirnya Sabil bisa lepas juga dari semua karyawan yang penasaran dengan cerita di balik cincin yang ia pakai.


Semua karyawan ayahnya memang dekat dengan Sabil, karena gadis itu menganggap mereka semua saudara. Jadi jika mereka tidak akan sungkan dengan putri atasannya itu.


Sabil duduk di kursi tempat biasanya para karyawan beristirahat. Memandangi cincin di jari manisnya. Ia senyum senyum sendiri bila ingat dengan apa yang terjadi tadi malam.


Ting


Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bibirnya semakin terangkat saat melihat nama si pengirim pesan.


^^^~ Kak Andra^^^


^^^Pagi sayang...^^^


Apa sayang? Sejak kapan Andra mengganti panggilan. Tapi entah kenapa Sabil suka dengan panggilan barunya.


~ Kak Andra


Pagi juga kak. Kak Andra sudah sarapan?


^^^~ Kak Andra^^^


^^^Sudah sayang, aku baru tiba di kantor.^^^


~ Kak Andra


Selamat bekerja kak...


^^^~ Kak Andra^^^


^^^Terimakasih calon istriku. Kamu juga jangan lupa sarapan.^^^


Ahhh apa aku gilaaa... dapat pesan dari kak Andra aja hati aku berdebar. Apa tadi Sayang, calon istriku? Kenapa aku suka sekali mendengarnya.


Amel yang melihat tingkah Sabil dari kejauhan pun ikut tertawa bersama para karyawan lainnya. Gadis itu memeluk ponsel nya, seolah-olah sedang memeluk orang yang asli.


,,,


Di sisi lain di sebuah lokasi syuting tampak gadis cantik yang sedang dirias wajahnya. Mood gadis itu sudah berantakan beberapa hari ini. Bahkan saat sedang melakukan adegan ia beberapa kali mengulang karena tak fokus dan ekspresinya yang tidak sesuai.

__ADS_1


"Cut!!" Teriak sang sutradara yang sudah lelah dari tadi terus mengulang adegan yang sama.


"Ayo Rani... kau itu kenapa tidak biasanya seperti ini, apa kau kurang sehat." Tanya sutradara tadi sedikit bersabar, karena marah-marah tak menyelesaikan masalah. Justru bisa membuat mood seseorang orang semakin buruk.


Rani menggeleng, ia juga bingung kenapa beberapa hari ini seperti ada yang kurang dalam hidupnya.


"Apa aku boleh minta libur beberapa hari tuan sean?" Tanya Rani.


"Baiklah, kau bisa libur dulu beberapa hari. Kembalilah jika sudah merasa lebih baik," ujar tuan sean sang sutradara. Ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya hasilnya tidak akan bagus.


"Benarkah? Terimakasih tuan, saya berjanji setelah ini aku akan syuting dengan benar." Rani sungguh beruntung pasalnya tuan sean terkenal sebagai sutradara yang kejam tak mau tau pada artisnya.


"Yaaa kau harus pastikan tidak akan seperti ini lagi setelah kembali." Ujar tuan sean.


"Saya berjanji tuan. Terimakasih... terimakasih banyak..." Rani berulangkali membungkukkan tubuhnya untuk berterimakasih.


Setelah itu Rani langsung pergi meninggalkan lokasi syuting yang berada di luar kota.


Rani Maharani, artis terkenal yang baru saja naik daun karena aktingnya yang memukau. Ia juga kerap menjadi bintang iklan beberapa produk kosmetik dan barang lainnya.


Saat ini ia sudah berhasil masuk di bawah naungan perusahaan R Entertainment berkat usaha nya sendiri. Tidak ada campur tangan Dion sama sekali, itu murni usaha kerasnya.


Dan yaaa Dion, lelaki yang selama ini mendukung apapun yang dilakukan Rani. Dimanakah dia? Sudah beberapa hari ini Dion tidak datang menemuinya, bahkan mengirim pesan saja jarang. Padahal mereka saat ini sudah satu perusahaan, tapi malah jarang bertemu.


Beginilah jadinya, ia galau sendiri jadinya.


"Kita mau kemana nona?" Tanya sang supir pada Rani.


"Ke toko kuenya Sabil saja pak," jawab Rani, yaa ia butuh seseorang untuk menceritakan masalahnya sekaligus ingin bertemu sahabatnya yang sudah jarang bisa bertemu saat ini.


Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan toko kue ayahnya Sabil. Sudah banyak yang berubah dari tempat itu sejak terakhir ia berkunjung. Tidak lupa ia memakai masker, kacamata dan topi untuk menyamarkan identitasnya.


"Apa tidak apa-apa nona?" Tanya sopir pribadinya yang melihat tempat itu begitu ramai. Takutnya ada yang mengenali nona nya.


"Tidak apa-apa pak. Aku ditinggal saja, nanti akan saya hubungi jika sudah selesai." Sebelum turun ia bercermin dulu memastikan tidak ada yang mengenalinya nanti. Lalu ia segera turun, tak sabar bertemu sahabatnya.


Rani memasuki toko kue pak Mul, ia melihat ke penjuru ruangan mencari sosok gadis cantik di sana. Tapi ia tak menemukan sahabatnya ada di sana. Lalu ia duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia. Satu pelayan menghampirinya untuk menawari menu.


"Permisi nona, apa ada yang ingin anda pesan?" Tanya pelayan itu dengan ramah.


"Bisa tolong panggilkan Sabila..." ujar Rani.

__ADS_1


"Maaf apa saya boleh tau dengan siapa ini, biar nanti saya sampaikan." Yaa pelayan itu tentu tidak akan membiarkan orang asing menemui putri atasannya itu, bagaimana jika itu orang jahat.


"Aku akan memesan semua yang paling enak disini. Tolong panggilkan ya, bilang saja kalau teman lamanya ingin bertemu," ujar Rani memohon.


"Baiklah, tunggu sebentar nona." Pelayan itu pergi tapi tidak langsung mencari Sabil tapi berbicara pada Amel terlebih dahulu. Amel yang mendengar pun langsung menghampiri gadis yang menutupi wajahnya itu.


"Permisi nona... Apa anda teman nona Sabil?" Tanya Amel tak kalah ramah.


"Kak Amel..."


Amel terkejut ternyata gadis itu mengenalnya, ia sedikit memperhatikan lagi.


"Ini Ku Rani..." ujarnya, sambil sedikit membuka kacamatanya.


"Rani... itu kau," ujar Amel antusias, pasalnya ia sangat mengidolakan sahabat Sabil yang satu ini.


"Husss.... Jangan keras-keras kak," bisik Rani yang tak ingin ada yang mengetahui jika dirinya ada disana. Akan repot jadinya kalau orang-orang tau, bisa-bisa bukannya menemui Sabil malah dia sibuk mengurusi penggemarnya yang meminta foto dan tanda tangan.


"Ohh iya maaf. Ayo... aku antarkan pada Sabil," ujar Amel yang tak bisa menahan rasa senangnya.


"Panggilkan Sabil kesini saja, aku ingin memberinya kejutan."


"Baiklah tunggu sebentar yaa..." Buru-buru Amel ke belakang untuk mencari Sabila. Ternyata gadis itu ada di belakang, membantu membuat adonan kue.


"Sabil, ada pelanggan yang ingin bertemu denganmu," ujar Amel.


"Siapa kak?" Tanya Sabil seraya mencuci tangannya yang kotor terkena adonan.


"Kakak tidak tau, katanya dia mau protes soal rasa kue-kue disini..."


Sabil melepaskan celemek yang ia pakai agar bajunya tidak kotor. Lalu segera ke depan menghampiri orang yang di maksud Amel.


"Permisi nona..." ujar Sabil.


°°°


Xiexie


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian readers ku tersayang....


Ajak juga teman, pacar, saudara,dan tetangga kalian untuk mampir di novelku yaaa....

__ADS_1


Aku tidak minta vote yang adanya seminggu sekali, cukup like dan komen nya saja.


Terimakasih...


__ADS_2