
°°°
"Mom ini kue yang aku suka, mom masih ingat," ucap Andra matanya berbinar, setelah menerima kue yang di beli Mommy nya.
Itu adalah kue kesukaan nya waktu kecil.
"Setiap hari Mommy mu membelinya An," jawab Dad Ray.
"Benarkah, kenapa Mom?" tanya Andra tak percaya.
"Karena Mommy merindukan mu nak."
"Aku juga merindukan Mom," akhirnya ia kembali memeluk Mommy nya.
Mommy Rahmi terlihat begitu tidak rela melihat putranya meninggalkan rumah itu lagi,
"Besok aku akan kembali Mom," Andra mencoba memberi pengertian pada Mommy nya.
"Baiklah, berhati-hatilah di jalan,"
"Dahh Mom, dahh Dad," Andra berpamitan, lalu segera melajukan mobilnya ke apartemen yang selama ini ia tinggali.
•••
Andra telah sampai di gedung tempat tinggalnya, Apartemen mewah dengan penjagaan yang ketat.
Sampai di lantai tempat tinggalnya, yang hanya ada dua ruang apartemen di setiap lantainya.
Ia menempelkan ibu jarinya untuk membuka pintu.
Ceklek,
Dahinya berkerut heran, ia seperti mendengar suara dari dalam sana.
Andra terus masuk kedalam dan benar saja dua sahabat nya sudah ada di dalam. Duduk di sofa ruang tamu, dengan beberapa botol minuman yang sebagian sudah kosong berada di atas meja.
"Kau dari mana saja An?" tanya Reza yang melihat kedatangannya. Sedangkan yang satu jangan di tanya, dia sudah dalam keadaan mabuk. Mungkin ia yang menyebabkan beberapa botol minuman itu kosong.
"Dari rumah utama. Kalian kenapa disini, dan kenapa kau membiarkannya mabuk, besok bukan hari libur," tanyaku yang kini sudah duduk di sofa yang sama. Mereka memang biasa keluar masuk ke apartemennya, karena memang Andra percaya pada sahabatnya itu. Dan lagi tak ada yang perlu ia sembunyikan disini.
"Entahlah mungkin ada masalah dengan salah satu wanitanya," jawab Reza sambil mengangkat kedua bahunya.
"Gara-gara wanita galak itu, sekarang aku tidak bisa bersenang-senang lagi ha.. ha.." teriak Alex setengah sadar. Ia masih terus meminum minuman haram itu.
Andra dan Reza saling pandang, "Aku tak tau," ucap Reza yang mengerti arti tatapan Andra.
"Kalian bereskan setelah ini, aku sudah mengantuk,"
"Heeeii kau juga harus membantuku mengurusnya An,"
"Kau saja," jawab Andra yang terus berjalan ke pintu kamarnya. "Ingat kalian harus membereskan semuanya, jangan sampai aku bangun masih berantakan." ujarnya lagi sebelum menghilang di balik pintu.
"Shiiittt Andra si*lan, cepatlah sampai kapan kau akan minum," umpat Reza kesal.
"Ha..ha..ha.." Hanya tawa yang tak jelas dari seorang yang mabuk.
__ADS_1
•••
Pagi harinya,
"Ayahh, Sabil berangkat dulu," pamitnya pada sang ayah, lalu mencium punggung tangannya.
"Bye Moli,"
Meeoong,
Tak lupa ia pun berpamitan pada kucing kesayangannya.
"Hati-hati dijalan," ayah sedikit berteriak karena Sabil sudah melajukan sepedanya.
Parkiran sekolah,
Sabil telah sampai kemudian memarkirkan sepedanya,
"Sabila," teriak Rani dari arah belakangnya.
Sabil menoleh dan tersenyum melihat sahabatnya.
"Kau tidak bersama kak Dion?"
"Tidak!"
"Kalian bertengkar? atau terjadi sesuatu di pesta waktu itu?" Sabil mencoba menebak apa yang terjadi dengan mereka, karena pasalnya Rani dan Dion selalu terlihat bersama.
"Tidak, ayo masuk."
,,,
Dua pemuda berlari kencang karena hampir terlambat itu. Reza mencoba mengatur nafasnya yang tersengal setelah sampai di depan kelasnya, cukup melelahkan rupanya berlari dari parkiran.
"Ha..ha...ha, ayo masuk, sebentar lagi guru datang." Tawa Andra tanpa rasa bersalah.
Ya Andra dan kawan-kawan memang anak orang berada, namun tak membuat mereka lantas mengabaikan pendidikannya.
"An, kenapa kamu tidak membangunkan kami," Tanya Reza yang kini sudah duduk di sebelah Andra.
"Aku tak tega membangunkan kalian," jawabnya datar.
"Alasan macam apa itu, mana mungkin kau merasa kasihan yang ada kamu sengaja biar kita capek gini lari lari," cibir Reza kesal dengan alasan yang di buat-buat oleh sahabatnya.
Kekesalan Reza menguap seketika, karena guru memasuki kelas dan memulai pelajaran hari ini.
•••
Bel istirahat berbunyi, guru pun meninggalkan kelas.
"Huh aku laper banget tadi pagi sampai enggak sempat sarapan, ayo ke kantin," ajak Alex tak sabaran.
"Gara gara kamu kan, besok besok mana mau aku ngurusin kamu kalau mabuk." Jawab Reza cukup sengit.
Andra bangkit dari duduknya tanpa mempedulikan sahabatnya yang masih beradu argument.
__ADS_1
"Eh An, kamu kemana? enggak ikut ke kantin?"
"Kalian saja."
Andra berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah menuju perpustakaan, salah satu tempat yang wajib ia kunjungi di jam istirahat.
Seperti biasa, para siswi akan menatapnya kagum. Mereka sampai hapal jalan mana saja yang akan idola nya lalui. Di jam istirahat pasti mereka sudah sibuk berada di jalan mana saja yang Andra lewati. Ada yang tebar pesona, ada yang pura pura menabrak, ada yang hanya menganga di buatnya.
Mereka sangat mengagumi seorang Andra, bukan hanya karena wajah nya yang tampan atau tubuhnya yang menggoda iman tapi karena kepintaran, tabiat dan perilaku nya.
Meski Andra terlahir dari keluarga yang kaya dan berkuasa, tak membuat nya menjadi anak manja dan nakal. Bahkan ia amat sangat mandiri, dan tak pernah menggunakan kekuasaan nya untuk semaunya dan tak mempermainkan wanita.
Andra memang kejam tapi pada apa yang berani mengusiknya atau mengganggu kenyamanannya.
Ia duduk disalah satu kursi yang tersedia di perpustakaan sekolahnya setelah memilih buku yang mau dibacanya.
Namun netra matanya tak sengaja menangkap kucing manis di ujung sana. Sekarang ia sadar selama ini mereka sering bertemu di ruangan itu. Tapi karena dulu Andra memang tak pernah memperdulikan sekitar, jadilah ia tak pernah menyadari ada kucing yang amat manis di sana.
Sudut bibirnya sedikit terangkat, entah kenapa wajah gadis itu sudah melekat di pikirannya.
"Kucing manis kita bertemu lagi," tanpa ia sadari panggilnya kini berubah terhadap nya.
Andra melanjutkan membaca buku di depannya, sambil sesekali matanya menatap ke ujung sana.
,,,
Sabil menutup buku yang telah di bacanya, kemudian berniat mengembalikan ketempat semula dan mengambil buku yang lainnya.
Ia mencari buku yang akan di bacanya,
"Buku itu kenapa tinggi sekali," keluh Sabil yang merasa tak bisa menggapai buku yang diinginkannya.
Ia terus berjinjit, berusaha mengambilnya, "Ayo sedikit lagi," ujarnya menyemangati diri sendiri.
Sedikit lagi tangannya meraih buku itu, tapi tiba-tiba tangan seseorang lebih dulu meraih nya. Sabil berbalik.
Deg...
Wajah mereka sangat dekat bahkan hembusan nafasnya terasa panas di wajah Sabil.
Segera Sabil menunduk, mencoba menormalkan debaran jantung nya yang serasa akan melompat jika saja bisa.
"Ini kau saja yang membacanya," ujar orang itu mengulurkan buku yang tadi di ambilnya.
Sabil mengangkat kepalanya, "Ahh iya terimaka..."
Ya Tuhan apa ia barusan tersenyum, tampan sekali. Sabil terkesima
"Kenapa kau tak mau?" orang itu heran mengapa gadis itu malah diam. Tidak tau saja jika senyumannya itu hampir membuat sesuatu berwarna merah pekat di hidung Sabil mengalir.
Minta jejaknya readers.
Xiexie
__ADS_1