Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab63 Rindu itu Berat


__ADS_3

°°°


Akhirnya meeting pagi ini berjalan lancar tanpa kendala. Andra dan assisten nya pun bernafas lega. Awalnya mereka sedikit khawatir karena sedang tak ada pak Tantan, mereka takut investor tak puas dengan hasil yang mereka bawa. Tapi ketakutan mereka tak berdasar, di luar dugaan ternyata sang investor sangat puas dengan laporan yang ada.


"Ton, aku akan memberimu bonus bulan ini," ujar Andra pada assisten nya.


"Terimakasih tuan muda." Tak sia-sia Toni bergadang semalaman.


Mereka sudah berada di kantor Andra setelah tadi selesai meeting. Ada sedikit pekerjaan yang mereka bahas.


"Oh iya Ton. Bagaimana menurut mu jika ada wanita yang mengatakan rindu padamu?" Ujar Andra tiba-tiba. Toni yang di tanya seperti itu pun menyerngit heran, pasalnya ia juga tak pengalaman jika menyangkut wanita.


"Menurut saya tuan muda harus segera menemuinya," jawab Toni seadanya.


Andra tampak memikirkan saran assisten nya itu.


"Benar juga. Aku sudah lama tak menemuinya." Gumam Andra.


"Ya tuan," tanya Toni, ia kira tuannya sedang berbicara padanya.


"Apa saja jadwalku hari ini?" Toni segera membacakan apa saja jadwal tuan mudanya hari ini.


"Hmmm... Jadi tidak ada yang terlalu penting kan. Kalau begitu cepat bawa semua berkas yang harus aku tanda tangani, aku akan menyelesaikannya secepatnya." Andra bersemangat karena memikirkan akan bertemu Sabila sore ini.


Toni pun pamit undur diri dan kembali ke ruangannya. Lalu tak lama ia kembali lagi dengan membawa apa yang tadi di minta tuan mudanya.


Tok, tok, tok


"Ini tuan semua yang anda minta." Toni meletakkan setumpuk pekerjaan di meja Andra.


"Sebanyak ini?" Tanya Andra tak percaya.


"Iya tuan."


"Baiklah, kau bisa kembali." Raut wajahnya berubah seketika. Banyaknya kerutan di dahinya menandakan tuan mudanya sedang dalam mood yang tidak baik. Toni pun segera keluar dari ruangan itu.


"Tunggu Ton!" Cegah Andra.


"Ada lagi tuan?" Toni merasa ada yang tak beres.

__ADS_1


"Kau tidak lupa kan bunganya hari ini."


Mampuusss... benar dugaan Toni.


"Maaf tuan saya lupa karena terlalu sibuk tadi." Jawab Toni, ia sedikit takut dengan respon yang akan di dapatnya.


"Kau!! Kenapa bisa sampai lupa. Kau kan bisa menyuruh orang atau menyuruh toko bunganya untuk rutin mengirimkan bunga." Mood Andra semakin buruk.


"Maaf tuan..." Toni benar-benar tak kepikiran sampai kesitu, padahal biasanya ia bisa diandalkan.


"Sudahlah, kau keluar!" Kesal Andra.


"Sekali lagi saya minta maaf tuan. Mulai besok saya janji tidak akan melupakannya."


Toni segera keluar sebelum tuan mudanya semakin marah.


Hahh...


Andra menghela nafasnya berkali-kali melihat pekerjaan yang sebanyak itu ditambah kelalaian assisten nya itu. Lalu berpikir bagaimana caranya ia bisa pulang cepat sedangkan ia tak bisa asal membubuhkan tandatangan. Ia harus membaca dan mempelajari satu persatu berkasnya.


Hari sudah semakin siang tapi Andra belum separuh nya menyelesaikan pekerjaan. Sudah pasti ia pulang malam lagi hari ini. Harus sabar ia menahan rindu.


,,,


"Kamu kenapa Sabil?" Tanya Amel seperti biasa ia sudah sangat paham dengan raut wajah Sabil.


"Tidak apa-apa kak," jawab Sabil, tapi raut wajahnya tak sesuai dengan perkataan nya.


Sepertinya Amel tau apa yang membuat Sabil murung. Bunga di vas yang biasanya segar hari ini terlihat layu, itu berarti Sabil belum mengganti nya atau belum dapat penggantinya.


Amel punya ide, ia berniat menceritakannya pada ayah Sabil. Ia pun masuk ke dalam dan mencari keberadaan pak Mul.


"Ayah Mul..." Ujar Amel, ya ia memang sudah menganggap pak Mul seperti ayahnya sendiri.


"Ada apa nak Amel?" Tanya pak Mul.


"Sepertinya anak gadismu sedang tidak baik-baik saja saat ini." Lalu Amel pun segera menceritakan semuanya pada pak Mul.


"Aku mengerti sekarang. Terimakasih nak Amel." Ujar pak Mul.

__ADS_1


"Sama-sama ayah, Sabil sudah aku anggap seperti adikku sendiri, aku pasti akan membantu apapun yang ia butuhkan." Amel memang lebih senang jika melihat Sabil tersenyum.


Pak Mul mulai mencerna apa yang ia dengar dan memikirkan apa yang harus ia lakukan.


Akhirnya ia pun menyusun rencana dan menyuruh Amel membantu nya.


"Baik ayah, aku akan segera menyiapkannya." Ujar Amel, kemudian ia segera pergi dan menyiapkan apa yang pak Mul minta.


Di luar Sabil yang sedang memberi makan kucing-kucing nya yang sekarang tak cuma satu ekor, tapi beberapa ekor. Karena Moli rupanya sudah mempunyai anak, entah siapa seekor lelaki yang tidak bertanggungjawab itu.


"Makanlah yang banyak Moli, kau harus menyusui anak-anak mu." Ujar Sabil pada kucing kesayangannya. Tak lupa Sabil bermain-main dengan anak Moli yang menggemaskan. Tapi tiba-tiba ayahnya menghampiri.


"Nak, apa kau sibuk?" Tanya pak Mul dari arah belakang punggung Sabil.


Sabil pun langsung berdiri dan berbalik ke arah ayahnya.


"Tidak yah... Ada apa?" Ujar Sabil.


"Ayah mau meminta tolong," ujar pak Mul seraya menyerahkan sebuah rantang susun pada Sabil.


"Apa ini ayah?" Sabil menaikan alisnya.


"Antarkan ini pada nak Andra. Ini sudah jam makan siang."


"Tapi..."


"Kau antarkan saja, sudah lama nak Andra tak kemari. Ayah sedikit khawatir, sekalian tanyakan kabarnya untuk ayah." Pak Mul langsung pergi tanpa menunggu jawaban Sabil.


"Yah ini..." Ucapan Sabil terputus saat melihat ayahnya yang sudah menghilang.


Bagaimana ini, aku malu ayah, ujarnya dalam hati.


Ya Sabil ingat tadi malam ia tak sadar mengatakan kalau ia merindukan lelaki itu. Meskipun itu adalah kenyataan, tapi ia terlalu malu mengakuinya. Apalagi jika harus bertemu setelah apa yang ia ucapkan tanpa sadar. Harus bagaimana ia nanti, apa pura-pura tidak ingat saja.


°°°


Xiexie


Rindu memang berat

__ADS_1


Tapi tak seberat beban hidup author.


Hehehe... canda rindu.


__ADS_2