Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab77 Ternyata Fans


__ADS_3

°°°


Pikiran Rani jauh lebih tenang setelah bertemu sahabat baiknya. Ia juga sudah meyakinkan dirinya sendiri dan sudah siap dengan segala akibatnya. Jika nanti ia mengunjungi Dion di perusahaannya sudah pasti akan ada gosip setelahnya.


"Aku rindu sekali padamu ayah Mul." Rani memeluk erat ayah dari sahabatnya itu.


"Benarkah, ayah kira kau tak pernah merindukan pria tua ini," ujar pak Mul seraya mengusap lembut punggung Rani.


"Maafkan putrimu ini ayah..."


"Sudah-sudah main drama nya, ayo kita makan siang dulu. Aku sudah membuat makanan kesukaan mu." Ujar Sabil yang tengah sibuk menata berbagai macam makanan yang ia buat.


Saat ini mereka sedang berada di rumah Sabil. Setelah melewati para karyawan pak Mul yang mengantri meminta foto dan tanda tangan sang artis cantik. Duduk dan menikmati makan siang bersama.


"Ohh iya, dimana nak Dion? Ayah juga sudah lama tak melihatnya." Tanya pak Mul setelah selesai menyantap makanannya.


"Kak Dion sedang sibuk akhir-akhir ini, aku akan mengajaknya kemari jika senggang," ujar Rani dengan mencoba tersenyum untuk menutupi kegelisahannya.


Pak Mul tidak bertanya lebih jauh lagi meski ia melihat sesuatu yang berbeda dari raut wajah Rani. Walaupun gadis itu tersenyum tapi tidak ada rona kebahagiaan disana.


"Aku mau membantu Sabil mencuci piring dulu yah." Rani bangkit dan menyusul Sabil yang berada di dapur.


Di dapur.


"Biar aku bantu cantik." Ujar Rani pada Sabil yang tengah sibuk mencuci piring bekas makan siang tadi, saat ia baru saja tiba di dapur.


"Stop! Tangan halus mu bisa rusak jika mencuci piring."


"Kenapa? Aku tidak masalah." Rani menyerngit heran.

__ADS_1


"Setiap bagian tubuhmu itu berharga Rani, nanti fans mu bisa protes jika melihat tangan idolanya kasar."


"What!!! Itu berlebihan Sabil, tanganku tidak akan kenapa-napa kalau hanya mencuci beberapa piring saja."


"Tapi aku tidak mengijinkannya karena aku juga termasuk fans berat mu."


Mau tak mau gadis itu mengalah, percuma berdebat hanya karena masalah piring saja. Dia tidak menyangka sikap Sabil yang seperti itu, ia jadi berpikir apa semua fans beratnya akan bersikap seperti Sabil. Ia jadi senyum-senyum sendiri memikirkannya.


Aku jadi seperti tuan putri, bagaimana jika mereka memperlakukanku seperti itu, seolah aku ini sebutir berlian yang sangat berharga.


Lebih baik aku menemani ayah Mul saja.


Lalu ia berjalan ke ruang keluarga rumah Sabil.


Pak Mul sudah duduk di sana rupanya. Rani pun segera menghampiri lelaki yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.


"Dimana Sabil?"


"Sabil hanya terlalu menyayangimu nak. Ia sangat bahagia saat melihatmu berada di layar televisi. Ia langsung berkata dengan bangga Ayah itu Rani, dia sangat cantik, aktingnya bagus sekali." Pak Mul menirukan gaya bicara putrinya.


"Hahaha... benarkah yah?"


"Dia bahkan berteriak dengan kencang saat di toko, padahal disana sedang ramai pengunjung. Lihat itu temanku, dia artis terkenal sekarang." Gelak tawa memenuhi ruangan itu.


Sedangkan Sabil dibelakang merasakan keanehan pada telinganya.


Kenapa tiba-tiba telingaku berdenging.


Sabil pun buru-buru menyusul ayah dan sahabatnya di ruang keluarga setelah ia menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


Pak Mul dan Rani masih asyik mengobrol, tawa keduanya membuat Sabil merasa senang. Rumahnya jadi ramai karena kedatangan sahabatnya.


"Apa yang begitu lucu sampai kalian tertawa." Kini Sabil telah mendudukkan dirinya di sebelah Rani.


"Aku rasa kau tidak perlu tau," ledek Rani.


"Haii... apa kau masih kesal karena aku tidak memperbolehkan mu mencuci piring."


"Hahaha... untuk apa aku kesal. Aku senang karena sahabatku sendiri ternyata fans beratku."


"Ayah... Kenapa ayah cerita." Protes Sabil pada sang ayah.


"Hahaha... Tidak apa-apa nak. Bukankah itu bagus, jadi Rani tau kalau kau selalu mendukungnya, dalam sebuah hubungan itu harus saling mendukung dan mengerti. Komunikasi juga tak kalah penting. Meskipun hanya hal sepele seperti menanyakan kabarnya."


Rani terhenyak mendengar ucapan pak Mul. Selama ini ia memang lebih pasif dalam menjalani hubungannya dengan Dion. Kekasihnya itu yang lebih banyak bertanya dan memberi perhatian.


Sabil menggenggam tangan Rani, yang saat ini sedang melamun setelah mendengar penuturan ayahnya.


"Perbaiki semuanya sebelum terlambat..." Ujar Sabil meyakinkan.


Hari semakin sore, Rani pun pamit untuk pulang ke rumah. Di jemput supirnya ia meninggalkan rumah Sabil. Sepanjang perjalanan ucapan Sabil dan pak Mul terus terngiang di telinganya.


Sebenarnya kenapa dengan kamu kak. Apa kamu bosan menghadapi sifat kekanak-kanakan ku. Apa aku terlalu merepotkan. Maafkan aku yang tak banyak tau tentang kakak, aku terlalu egois dan percaya diri. Aku merasa kak Dion sangat mencintaiku, sehingga membuatku bertindak semaunya.


°°°


Xiexie


Sudah tidak ada kata lagi yang bisa menggambarkan rasa terimakasih ku pada kalian.

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti bagi author remahan sepertiku.


Jangan bosan-bosan ya pencet like dan komennya.


__ADS_2