Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab48 Jadi CEO 2


__ADS_3

°°°


Suasana di ruang meeting masih mencekam. Tak ada lagi yang berani bersuara, aura yang Dad Ray keluarkan mampu membuat musuh langsung menunduk.


"Baik, jika tidak ada lagi yang keberatan maka mulai hari ini saya putuskan pemimpin sekaligus CEO Adiguna Grup adalah Andra Alfatih Adiguna." Jelas Dad Ray.


Semuanya bungkam, terlihat pasrah meski raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan nya.


Andra masih duduk dengan tenang, belum waktunya ia bertindak. Sampai Daddy Ray menyuruh nya berdiri dan memberi beberapa patah kata sebagai awal perkenalan diri sebagai CEO baru.


"Selamat pagi semua. Terimakasih atas kepercayaan yang anda semua berikan, saya pastikan tidak akan mengecewakan kalian semua. Semoga kedepannya kita bisa bekerjasama dengan baik untuk membuat perusahaan ini lebih maju." Tak ada senyum dan sambutan dari mereka, hanya diam dan meremehkan.


"Dan kedepannya saya akan memeriksa langsung laporan keuangan setiap minggunya. Demi kelangsungan perusahaan, mulai sekarang kita harus menekan pengeluaran. Meniadakan hal-hal yang tidak dibutuhkan dan melaporkan semua anggaran proyek apapun."


Bagai di hantam sebuah batu besar, ucapan Andra benar-benar membuat gusar musuh dalam selimut. Terlihat jelas wajah-wajah yang tenang dan tak nyaman. Menandakan mana saja yang saat ini sedang merasa terancam.


"Baiklah itu saja, Terimakasih." Lanjut Andra, kemudian ia membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Rapat selesai," ujar Dad Ray, lalu ia segera pergi dan di susul Andra, pak Tantan di belakangnya.


Sampai sang CEO dan putranya itu menghilang, barulah para pemegang saham mulai membicarakan nya di belakang. Ada yang saling mencari kubu dan bersekutu, ada yang sedang mencari cara untuk menjilat CEO baru.


Orang yang picik hanya akan memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri.


Tinggg...

__ADS_1


Andra dan Dad Ray telah sampai di lantai tempat dimana ruangan CEO berada.


"Sekarang ini adalah ruang kerja mu nak," ujar Dad Ray setelah mereka sampai. Lalu ia berjalan berkeliling ruangan, seperti memberi salam perpisahan. Andra duduk di sofa ruang itu, memandang sang Daddy yang terlihat sedih karena harus meninggalkan tempat berjuang nya dulu.


"Dad tak pernah menyangka akan berada di titik atas seperti ini. Semuanya butuh proses dan ketekunan, Dad masih ingat dulu saat awal memulai usaha. Mencari pinjaman kesana-kemari tak kenal lelah, sampai saat itu nenekmu memberikan warisan peninggalan kakek. Dari sanalah Dad berani dengan resiko yang cukup besar, menjual tanah peninggalan kakek mu yang tak seberapa. Jauh sebelum bertemu Mommy mu." Ujar Dad Ray lagi, ia menatap keluar jendela yang memperlihatkan pemandangan kota yang penuh dengan gedung-gedung bertingkat.


"Daddy yakin kau tidak akan mengecewakan kepercayaan yang telah Dad berikan. Dad juga berharap kau lebih berani dan tegas." Kini ia berbalik menatap putranya.


"Daddy tidak usah khawatir dan jagalah Mommy dengan baik, karena aku tidak bisa bersama kalian," jawab Andra meyakinkan sang Daddy.


"Kemarilah..." perintah dad Ray.


Andra bangun dari duduknya, dan mendekat ke daddy-nya. Tak disangka dad Ray membuka tangannya, dan dengan kode nya ia menyuruh Andra semakin dekat. Daddy Ray memeluk Andra, penuh kasih sayang dan perhatian.


Terkejut? Tentu saja, sudah lama ia tak merasakan pelukan hangat Daddy nya. Tapi kali berbeda, Dad Ray seperti sedang menyalurkan segala keberaniannya pada putranya.


"Daddy bangga padamu..." ujar Dad Ray sambil menepuk punggung putranya.


Andra terharu, terbawa suasana sampai tak menyadari matanya sudah berkaca-kaca.


,,,


Daddy Ray telah pulang tadi setelah memberikan beberapa wejangan pada putranya. Selanjutnya akan ada pak Tantan yang akan membantu Andra dalam menjalankan peran barunya.


Di sini sekarang, dalam kantor CEO yang sebelumnya juga ia tempati saat Dad nya tidak ada di sana. Dengan setumpuk dokumen yang harus ia pelajari. Untung saja Andra cepat dalam menyerap segala informasi, jadi tak butuh waktu lama ia menyelesaikan pekerjaan nya hari ini.

__ADS_1


"Apa ada lagi yang harus aku lakukan?" Tanya Andra pada pak Tantan saat ia menyerahkan dokumen yang sudah ia pelajari.


"Semetara ini tidak, nanti saya akan mengirimkan melalui email apa saja yang belum tuan muda lihat." Jawab pak Tantan.


"Baik, terimakasih. Pak Tantan bisa pulang duluan dan beristirahat." Ujar Andra, ia tak mau satu-satunya orang yang bisa di percaya dan membantu nya itu sampai sakit karena kelelahan.


Pak Tantan pun tersenyum dan membungkukkan tubuhnya, "Terimakasih tuan muda, saya permisi."


Di balas anggukan kepala oleh Andra. Ia pun segera membereskan meja kerjanya, tak lupa menyimpan semua dokumen-dokumen di laptopnya dengan kunci dan sandi yang pasti sulit dipecahkan jika di lihat oleh orang awam.


Jalanan mulai ramai, mungkin karena saat ini bersamaan dengan jam pulang kantor.


Andra harus terbiasa dengan itu, untung ia tinggal di apartemen yang tidak terlalu jauh dari kantor dan kampusnya.


Hari yang cukup melelahkan...


Belum lagi besok jika harus bolak balik kantor dan kampus. Mungkin aku akan mulai membutuhkan supir seperti nya, yaaa besok aku akan meminta pak Tantan mencarikan nya.


Andra langsung pulang ke apartemen nya. Melonggarkan dasinya yang terasa mencekak di leher setelah sampai. Melempar tubuhnya asal ke ranjang, tapi kemudian bangun karena belum membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


"Sabilaaa..." Gumamnya, saat melihat sebuah bingkai foto kecil di atas meja samping tempat tidur. Sebuah foto yang ia ambil diam-diam, menampilkan gadis yang tengah tersenyum manis, dengan menggendong seekor kucing. Mungkin kedepannya ia akan kesulitan mencari waktu untuk bertemu gadis itu.


°°°


Xiexie,

__ADS_1


Please tinggalkan jejak kalian readers.


Yuk like dan komen.


__ADS_2