Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab53 Panggilan Ayah


__ADS_3

°°°


Esok paginya...


"Siapkan mobil, aku akan berangkat setelah sarapan." Ujar Andra pada Toni yang sedang berdiri di sisi meja makan.


"Baik tuan.." Toni berlalu menuju garasi, pemandangan yang selalu membuatnya takjub. Padahal sudah kali keberapa ia ke garasi mobil keluarga Adiguna itu. Deretan mobil mewah, tak hanya dua atau tiga, tapi sudah seperti dealer mobil. Ia mencari mobil yang di maksud tuan mudanya, memencet tombol alert pada kunci agar tau mana mobil yang di cari.


"Huhh... akhirnya ketemu juga." Toni segera masuk dan menyalakan mesinnya. Ia melihat jam, waktunya cukup untuk membuat mesin mobil itu panas. "Ehh... tapi ini weekend, harusnya tidak ke kantor kan tuan muda. Ahh sudahlah... yang penting aku cukup menjalankan perintah saja." Toni bergumam sendiri.


Disinilah Toni sekarang, di kediaman keluarga Adiguna. Semalam setelah Andra mendengar alasan Toni kenapa sampai menginap di kantor, akhirnya ia mengajak OB itu pergi. Dan ternyata Toni bisa menyetir dan mempunyai SIM. Jadilah Andra menawari pria itu untuk menjadi sopirnya. Tentu saja Toni langsung mengangguk setuju, baginya kerja apapun yang penting tidak di pecat.


Andra memilih pulang ke rumah utama karena Toni butuh tempat tinggal. Jadi ia membawanya kesana, tidak mungkin Andra membawa sopir barunya tinggal di apartemen itu tempat privasinya.


"Ton, di panggil tuan muda. Sekalian bawa mobilnya." Ujar salah satu pelayan di sana. Ya Toni baru semalam sampai di sana, dia belum tau nama siapa saja yang bekerja di rumah yang besar itu. Mungkin akan susah menghafalnya, karena pelayannya begitu banyak.


"Baik Bu," jawab Toni.


Ia segera mengeluarkan mobil itu dari garasi dan menghampiri tuan mudanya.


Ciittt...


Toni berhenti tepat di depan Andra. Lalu segera turun dan membukakan pintu bagian belakang untuk majikan nya itu.

__ADS_1


"Aku akan pergi sendiri." Ujar Andra yang sudah siap dengan gaya kasualnya. Menggunakan kaos polos dan kacamata hitam sebagai pelengkap. Toni saja sampai terpana dengan ketampanan tuanya, padahal ia seorang pria bagaimana para gadis tidak tergila-gila.


"Lalu apa yang harus saya lakukan tuan muda." Ia bingung, jika tugasnya sebagai sopir kenapa tuan mudanya menyetir mobil sendiri.


"Kau bisa melakukan apapun, terserah." Ujar Andra, lalu ia pergi begitu saja.


"Ish... kalau begini seperti makan gaji buta saja jadinya." Padahal ia sudah berdandan rapih pagi ini, ia pun masuk kembali kedalam dan mencari kegiatan lain.


,,,


Ini weekend seharusnya orang-orang masih bergelut dengan selimutnya. Tapi Sabil bangun seperti biasa, dan membantu ayahnya. Memang di akhir minggu biasanya pengunjung cafe sekaligus toko kue pak Mul begitu ramai.


Karyawan semakin banyak, sehingga pak Mul tinggal mengamati nya saja. Semenjak memperluas toko kuenya dan di tambah cafe sebagai tempat nongkrong keluarga dan anak-anak muda, memang menjadi semakin ramai. Ternyata itu adalah idenya Andra. Tapi tanpa sepengetahuan mereka Andra membeli ruko di sebelah toko kue pak Mul dengan harga tinggi agar pemilik sebelumnya mau pindah. Dan ia menjual kembali pada pak Mul dengan harga yang murah, lewat orang lain tentunya.


"Sabil, tolong kamu bawakan ini ke meja itu." Tunjuk Amel pada meja yang berada di luar sembari menyodorkan nampan yang berisi kopi dan cemilan.


"Ini tamu spesial, sudah sana... jangan kelamaan." Amel sedikit mendorong punggung Sabil agar segera menghampiri sang pelanggan spesial.


"Ehh... tapi kenapa harus Sabil,kak..." Sabil masih saja protes sambil berjalan. Tapi kemudian ia memasang senyum manisnya, tidak baik jika melayani pembeli dengan menggerutu.


"Permis..si.. Kak Andra.." Mata Sabil membulat seketika, pantas saja Amel mengatakan tamu spesial. Itu si spesial di hati Sabil.


"Pagi sekali kak Andra sudah disini." Ujarnya, lalu mendudukkan dirinya di kursi yang berada di depan Andra.

__ADS_1


"Untuk mengajak mu pergi," jawabnya.


"Kemana???" Sabil bertanya tanya, apalagi kali, ini pria itu suka sekali memberi kejutan.


"Nanti kau akan tau..." Ujar Andra, kali ini sambil menyeruput secangkir kopi latte pesanannya.


"Baiklah aku akan bersiap siap dulu, kak Andra tunggu disini." Sabil masuk kedalam membawa nampan yang sudah kosong. Lalu segera masuk ke kamar nya dan mengganti baju.


Tak butuh waktu lama, Sabil sudah tampil cantik walau hanya memakai dress sederhana.


Pemandangan yang tak asing bagi Sabil, begitu keluar ayahnya sedang mengobrol dengan Andra.


"Ayah..." Panggil Sabil menghampiri mereka.


"Nak, pergilah nak Andra sudah menunggu." Sudah bisa Sabil duga, ayahnya pasti dengan mudah memberi ijin pada Andra untuk membawa anak gadisnya.


Sabil hanya tersenyum menanggapi, lalu mencium tangan ayahnya.


"Kami permisi ayah..." Ujar Andra sopan.


Ehh... apa aku salah dengar, sejak kapan kak Andra merubah panggilannya pada ayah.


Ingin sekali Sabil bertanya, tapi ia tahan untuk nanti saja setelah berada di mobil.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2