Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab102 Erangan


__ADS_3

°°°


"Ini untuk menutup matamu sayang." Andra memasangkan dasi pada mata sang istri agar kejutannya semakin berhasil.


"Kenapa harus ditutup segala kak?" Sabil setengah menggerutu. Mau makan malam saja kenapa matanya harus ditutup.


"Nanti kau akan tau, sini biar aku bantu kau berjalan." Andra menuntun Sabil keluar dari kamar dengan hati-hati sampai di meja makan dan memastikan istrinya duduk dengan benar, barulah ia membuka penutup matanya.


"Kak, ini..." Menutup mulutnya dengan mata berbinar-binar. Sungguh tidak menyangka akan diberi kejutan lagi dan lagi.


"Apa kau terkejut?" Sabil mengangguk.


"Kapan kak Andra menyiapkan ini semua, tadi bahkan tidak ada apa-apa disini." Masih tidak percaya.


"Kau tau tidak ada yang tidak bisa suamimu ini lalukan." Berkata dengan bangga.


Sabil tak peduli lagi jika Andra sedang menyombongkan diri sekarang. Hatinya sedang berbunga dengan kejutan yang manis itu.


"Terimakasih kak."


"Tidak usah berterimakasih kepadaku. Sudah aku bilang, kewajiban ku saat ini adalah membuat mu bahagia dan tugasmu hanya perlu hidup bahagia karena ku." Memegang tangan Sabil dan menciumnya.


"Ayo makan."


Mereka makan dengan sangat romantis, sesekali Andra menyuapi istrinya dan sebaliknya. Bahkan kini mereka membereskan meja makan dan mencuci piring berdua. Rona bahagia jelas terpancar dari wajah keduanya. Mencuci piring yang seharusnya hal yang mudah dan bisa cepat dilakukan tapi kenapa kedua orang itu belum juga selesai.


Busa-busa sabun pencuci piring sudah berserakan dimana-mana. Rambut baju dan wajah pun tak luput dari hiasan busa sabun. Kenapa kalian harus membuat hal kecil itu menjadi rumit. Benar saja kan kalau mereka tak hanya mencuci piring tapi juga berperang busa sabun.


"Sudah kak, aku jadi basah lagi karena kak Andra." Sabil mencegah Andra yang hendak mengolesinya dengan busa sabun.

__ADS_1


"Kau yang memulainya lalu kau mau kabur."


Andra membopong tubuh Sabil, seketika istrinya itu berteriak. "Kak, kenapa suka sekali membuatku kaget." Tangannya sudah ia kalungkan pada leher suaminya.


"Mau kemana kak?"


"Membersihkan tubuh." Dijawab dengan enteng.


Mata Sabil membulat, tidak bisa, tidak boleh ke kamar mandi berdua.


"Aku sendiri saja kak." Pintanya.


"Aku akan membantumu." Dengan senyum menyeringai dan membuat Sabil bergidik ngeri. Bisa dibayangkan adegan apa yang akan terjadi.


Satu persatu Andra menanggalkan pakaian nya hingga Sabil memalingkan wajahnya. Bagaimana mungkin lelaki itu tak punya malu sekarang. Bukan itu saja Andra pun menanggalkan pakaian sang istri yang masih enggan memutar wajahnya.


"Kak kenapa tidak mengisi bathtub." Ya lelaki itu sedari tadi hanya menatapnya. Tangan Sabil pun sibuk menutupi aset berharga nya.


"Kau tadi sudah berendam terlalu lama, jadi tidak ada berendam lagi kali ini. Kita menggunakan itu saja." Tunjuknya pada shower.


Andra mulai menyalakan kran air dan membasahi tubuhnya. Sabil menelan salivanya berkali-kali, tubuh kekar sang suami membuat ia ingin menyentuhnya. Ahhh... otot-otot itu, bagaimana kak Andra mendapatkannya.


Kemudian tatapan matanya beralih ke bawah, benda tumpul yang keras dan bisa membuatnya menggila saat menyatu dengan miliknya.


Aaa... kenapa kak Andra menodai mataku dengan hal itu. Menutupi wajahnya dengan kedua tangan tapi gerakan itu tanpa sadar membuat aset yang sedari ia tutupi kini terpampang nyata di depan mata Andra.


"Sayang, apa kau sedang menggodaku."


Sabil merutuki kebodohannya, dengan segera ia kembali menutupinya.

__ADS_1


"Apa yang perlu ditutupi, bahkan aku sudah merasakannya." Menyambar bibir Sabil dengan cepat, menyesap, meluumaat, dan mengabsen rongga mulut masing-masing. Sabil tau kemana arah ciuman yang terasa panas itu, tangan Andra bahkan sudah menjalar kemana-mana.


Keduanya semakin memanas dan meminta lebih. Andra mengangkat tubuh Sabil, otomatis kaki Sabil melingkar di pinggang Andra. Berjalan ke bawah guyuran shower yang hangat, semakin membuat panas tubuh mereka. Andra pun menempelkan punggung Sabil ke tembok lalu beralih mengabsen leher dan telinga, gigitan kecil tak meninggalkan bekas Andra lakukan karena tak mau menjadi bahan ledekan mom dan dad nya.


"Ahhh... pelan kak." Posisi Sabil yang seperti itu membuat senjata sang suami melesat dalam hingga pangkal batangnya.


"Panggil aku suamiku, maka aku akan pelan." Bisiknya di telinga Sabil.


Tanpa pikir panjang, Sabil pun menurut karena area intinya terasa perih dengan posisi itu.


"Suamiku... Ahhh... pelan suamiku..."


Panggilan baru itu sukses membuat Andra bersemangat, menambah kecepatan ritme permainan nya.


"Terimakasih sayang... ahhh..."


"Kau bohong kak, kau tidak menepati janji...ahhh pelan sedikit..."


Hentakan demi hentakan yang semakin dalam membuat erangan panjang keduanya saat keluar bersama-sama.


"Aaahhh aku mencintaimu Sabila." Bersamaan dengan ledakan larva putihnya dalam kehangatan milik sang istri.


"Aahhh kak..." Tubuhnya lemas, kalau saja Andra tak menopang pasti sudah jatuh kelantai.


°°°


Xiexie


Big love untuk kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2