Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab55 Kincir Ria


__ADS_3

°°°


Langit sudah hampir gelap, tapi Sabila si gadis cantik itu belum juga merasa lelah. Ia masih saja mencoba berbagai jenis permainan. Tangannya tak berhenti menarik lengan kekar Andra kesana-kemari agar mengikutinya.


Andra cukup kewalahan mengikuti Sabil, pasalnya kini tangannya penuh dengan boneka yang ia menangkan dari permainan yang ada di sana. Kakinya pun sudah mulai pegal-pegal.


Entah kapan gadis itu akan merasa lelah.


"Kak ayo naik itu..."


"Sekarang yang itu..."


"Yang itu kak..."


Andra mengekor saja, kini Sabil tak lagi menariknya karena tangannya pun penuh juga dengan boneka. Padahal ia sudah menawarkan pada gadis itu untuk menaruhnya di mobil tapi di tolak. Gadis itu bersikeras ingin membawanya saja, agar orang lain melihatnya. Ya Sabil begitu bangga dengan banyak boneka di tangannya.


"Sudah mau malam, apa kau tidak lelah?" Tanya Andra dengan nada pelan takut Sabil tersinggung.


"Lumayan lelah, tapi aku masih ingin bermain kak. Aku tidak tau kapan akan kesini lagi."


Rupanya itulah yang ada di pikiran Sabil. Apa dia tidak tau kalau tuan muda Adiguna itu bisa memboyong wahana itu ke samping rumahnya kalau mau.


"Kapan pun kau mau, aku akan mengajakmu kemari." Diusapnya kepala Sabil dengan penuh kelembutan. Saat ini mereka sedang duduk di bangku yang tersedia di sana.


Mata Sabil kembali berbinar mendengar ucapan Andra.


"Benarkah kak?"


Andra tersenyum lalu mengangguk. Seketika Sabil menghambur memeluknya. Berterimakasih berulangkali.


"Kalau begitu, aku mau naik itu. Aku janji ini yang terakhir." Ucapnya, seraya menempelkan kedua tangannya memohon, tak lupa mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Baiklah tuan putri... apapun yang kau mau." Andra berdiri dan mempersilahkan Sabil layaknya pangeran kepada tuan putri nya.


Para pengunjung lain sungguh iri melihat pasangan itu.


Mereka akhirnya menaiki wahana Kincir Ria, sebuah wahana yang berbentuk seperti roda dan mempunyai ruang di setiap sisinya, yang bisa dinaiki dua sampai empat orang di dalamnya.


"Apa kau tau kata orang jika membuat permohonan saat berada di puncak wahana ini, maka permohonan kita akan menjadi kenyataan." Ujar Andra saat mereka sudah di dalam salah satu kabin wahana itu. Kincir ria memang bergerak pelan tidak seperti wahana lainnya yang bergerak cepat, jadi yang menaiki bisa menikmati pemandangan ibu kota di malam hari.


"Benarkah? Apa kak Andra pernah mencobanya?" Sabil menyimak dengan baik. Menaruh tangannya di bawah dagu.


Andra menggeleng, "Ini pertama kalinya aku ke taman bermain."


"Apa mom dan dad Ray tidak pernah mengajak kak Andra kemari?" Tanya Sabil.


"Saat aku kecil, mereka sibuk dengan urusan pekerjaan." Guratan kesedihan tampak di wajah tampannya. Mungkin ini pertama kalinya ia menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain. Sabil pun diam membiarkan Andra mengeluarkan perasaannya yang selama ini dipendamnya sendiri.


"Aku hidup dengan para pengasuh, dari bangun tidur sampai akan tidur lagi mereka yang menemani ku. Aku jarang bermain keluar, di sekolah pun tak punya banyak teman. Karena itulah aku lebih suka membaca, karena dengan membaca aku mengenal dunia." Terdapat luka yang tersimpan dalam hatinya, Sabil bisa merasakan nya.


"Tidak apa kak, Aku suka mendengarkan," jawab Sabil dengan senyum tulus di wajahnya.


"Cerita ku tak penting dan tak perlu di ingat," ujar Andra.


"Lalu apa ayah dan ibumu dulu sering mengajakmu kemari?" Tanyanya.


"Hmmm..." Sabil menyenderkan punggungnya sebelum menjawab.


"Ayah dan ibu sering mengajakku kemari. Setiap aku ulang tahun atau merayakan sesuatu. Kami bermain bersama, tapi dulu aku tidak bisa seenaknya jajan sembarangan. Ibu selalu melarang ku tidak boleh jajan sembarangan." Lain dengan Andra, Sabil menceritakan nya dengan wajah bahagia bila mengingat masa kecilnya.


"Lalu tadi kau makan semua itu. Bagaimana kalau ayah marah?" Andra panik seketika.


"Ayah tidak akan marah jika tidak tau. Hehehe..." Lagi-lagi wajah seperti itu yang di pasang. Mode cute on.

__ADS_1


Andra hanya menggelengkan kepalanya.


"Dulu juga aku belum bisa banyak menaiki wahana karena umurku belum cukup. Aku juga baru pertama naik ini. Karena setelah ibu tiada, ayah tak pernah lagi mengajakku kemari." Sendu, wajah itu mampu menusuk relung hati Andra. Ia tak bisa membayangkan gadis kecil yang hidupnya penuh kasih sayang orang tua itu harus kehilangan ibunya.


Andra meraih tangan Sabil dan digenggamnya erat kedua tangan halus itu.


"Kapanpun kau ingin kemari, aku akan menemanimu." Mereka yang duduk berhadapan tentu dengan mudah saling menatap. Sabil tersenyum yang menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih kak." Ujar Sabil.


"No... tak perlu mengucapkan terimakasih. Berterimakasihlah dengan cara yang lain." Andra menyondongkan tubuhnya ke depan, semakin mendekat dengan Sabil.


Jarak di antara mereka sudah sangat dekat, bahkan Sabil bisa merasakan kehangatan hembusan nafas Andra. Wajah mereka semakin berdekatan, Andra terus mengikis jarak.


Jantung Sabil sudah tak bisa di kondisikan, jarak itu terlalu dekat. Entah dorongan dari mana, ia menutup matanya.


Andra yang melihat Sabil menutup mata pun tersenyum. Sebenarnya ia juga sudah tak bisa menahan godaan bibir mungil berwarna pink itu dari tadi. Tapi ini belum saatnya, status mereka belum jelas, tak mau Sabil menganggap bahwa ia hanya mempermainkan nya.


°°°


Pengumuman guys


Author ada novel baru tapi di akun yang beda. Cari di pencarian ya.


Judulnya Bersabar Dalam Luka Perjodohan


Nama penanya Three ono


Jan lupa kasih dukungan juga.


Xiexie

__ADS_1


__ADS_2