
°°°
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruangan Dion. Sekretaris Mia segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya ketika melihat tuannya lewat.
"Kau sudah mengurus semuanya?" Tanya Dion pada sekretarisnya.
"Sudah tuan, sesuai keinginan anda."
Apalagi kalau bukan mengurus wanita yang membuat kekasih tuannya itu salah paham.
Sedangkan Rani sedari tadi hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sembab dan merah merona karena ulah kekasihnya itu. Meski di lantai itu hanya ada sekretaris Mia tapi ia tetap merasa malu. Pikirnya terus mengingat kejadian di lift tadi, ia masih tidak menyangka kalau Dion begitu agresif sekarang. Apa karena sudah lama tidak bertemu jadi membuatnya seakan begitu haus hingga tak berhenti menyesap dan melu-maat.
Aahhh... kenapa aku jadi ikutan meesuum si.
"Kau kenapa Rani?" Tanya Dion yang melihat kekasihnya menggelengkan kepala.
Rani tersadar, ia seperti sedang ketahuan berpikir mesuumm wajahnya semakin memerah.
"Tidak kak," jawab Rani tersenyum.
Mia yang menyadari gelagat aneh dari calon nona mudanya pun tersenyum. Ia tau hubungan tuanya dengan salah satu artis di perusahaan itu. Karena Dion kerap menyuruhnya mengawasi semua kegiatan gadis itu.
"Ohh iya, dimana kotak makanan yang tadi aku bawa kak Mia?"
"Sudah saya letakkan di dalam ruangan tuan, nona."
"Terimakasih kak Mia."
"Tidak perlu sungkan nona, sudah tugas saya melayani anda." Sekretaris Mia begitu sopan.
Mereka pun bergegas masuk ke ruangan Dion.
"Aku siapkan makanannya sekarang ya kak. Kakak belum makan kan?"
Dion hanya mengangguk, ia membiarkan gadisnya melakukan apa yang dia mau.
Dengan telaten Rani menata makanan yang ia bawa, rasanya begitu senang karena sudah lama ia tak makan bersama.
"Kak Dion mau pakai yang mana?" Tanya Rani pada sang kekasih.
"Apa saja asal kau suapi."
"Kak Dion kenapa jadi manja begini." Rani mencebikkan bibir nya.
"Manja pada pacar sendiri tak masalah kan."
"Iya deh, aku akan menyuapi kakak." Tentu saja Rani harus mengalah karena tadi dia sudah berprasangka buruk pada Dion.
Mereka menghabiskan makanannya dengan lahap, ternyata menangis pun bisa membuat orang menghabiskan banyak tenaga. Alhasil Rani lah yang lebih banyak menghabiskan makanan itu.
__ADS_1
"Aku kenyang kak..." Rani tersenyum senang.
"Lain kali jangan pernah membuang-buang air mata mu untuk hal yang tidak jelas," sindir Dion.
"Hehehe..." gadis itu hanya menyengir kuda mendengarnya.
"Kenapa kakak membiarkan wanita-wanita itu sampai masuk kemari?" Rani masih tak habis pikir mengapa dengan bebas para wanita itu datang ke kantor kekasihnya.
"Apa kau cemburu?"
"Jawab dulu kak," ujar Rani kesal.
"Baiklah, sini." Dion mengajak Rani bersandar di dadanya.
Rani pun menurut, dengan senang hati ia menghambur dalam kehangatan pelukan sang kekasih.
"Aku hanya sedang menyaring siapa saja artis perusahaan ini yang benar-benar bermutu atau hanya mengandalkan jalan pintas."
"Maksud kakak?" Rani mendongak menatap kekasih tampannya, ia belum paham dengan apa yang Dion bicarakan.
Dion gemas dan reflek menggigit hidung sang gadis pujaan.
"Aawww... Hidungku," Rani menjauhkan tubuhnya.
"Dengarkan dulu baik-baik..." Dion kembali membawa gadis itu dalam pelukannya.
"Maaf... Wajah kamu yang terlalu menggemaskan," Dion tertawa kecil lalu ia kembali melanjutkan ceritanya.
"Jadi Aku sudah banyak mendengar, kalau banyak artis yang menggunakan jalan pintas agar semakin terkenal, padahal aktingnya tak terlalu bagus. Mereka banyak yang menggoda pada sutradara atau produser agar bisa ikut akting dalam film yang diinginkan."
"Maka dari itu aku berniat menyingkirkan para artis yang bertindak seperti itu. Dengan membiarkannya masuk dalam perangkap yang aku buat. Di ruangan ini aku pasang cctv sebagai bukti untuk mendepak mereka keluar."
"Nantinya hanya akan ada artis bertalenta dan berkemampuan bagus di perusahaan ini. Seperti kau contohnya," ujarnya seraya mengeratkan pelukannya.
Sekarang Rani paham, memang kadang banyak orang yang lebih bisa berakting dengan baik tapi tak ada kesempatan. Mereka kalah dengan yang mengandalkan tubuhnya atau uang.
"Aku paham sekarang kak tapi kenapa kak Dion lama tak menemui ku? Apa kakak begitu sibuk," ujar Rani dengan nada sedihnya.
"Apa kau rindu?"
Dengan malu Rani mengangguk.
"Maafkan aku, dari kemarin memang agak sibuk sedikit." Dion merasa bersalah.
"Tapi kak Dion juga tak menghubungiku bahkan tak mengangkat telepon dari ku."
Rani yang selalu dapat banyak perhatian dari sang kekasih merasa begitu sedih dengan perubahan yang Dion lakukan.
"Maaf sayang... Dari kemarin memang aku jarang melihat ponsel. Bukan hanya telpon darimu yang aku abaikan tapi semuanya."
__ADS_1
"Jangan seperti itu lagi kak, aku tidak terbiasa tanpa kakak. Sesibuk apapun kak Dion, harus menyempatkan waktu untuk menghubungiku," ujar Rani melepaskan diri dari pelukan kekasihnya.
Rani menatap kekasihnya dalam, rasa cintanya kian besar dan semakin takut untuk kehilangan. Kehadiran Dion di hidupnya seakan menjadi candu yang tiada obat. Perhatian dan kasih sayang yang Dion berikan membuat Rani egois saat ini, rasa ingin memiliki untuk dirinya sendiri semakin kuat. Seakan tak rela bila lelaki sebaik Dion bersama wanita lain.
Kak Dion hanya untukku.
Gadis itu kembali bersandar di dada bidang sang kekasih. Memainkan jari jemari nya disana.
"Apa kak Dion tau kalau Sabil sudah di lamar?" Tanyanya.
"Benarkah, kapan?" Dion pun terkejut mendengarnya.
"Belum lama ini kak, mereka bahkan tak berpacaran. Kak Andra begitu gentle, ia langsung melamar Sabil," ujar Rani yang masih memainkan jari jemari nya.
"Apa kau juga mau," tanya Dion menggoda.
"Mau apa kak?" Rani pura-pura tidak paham.
Dion menjauhkan tubuh mereka, menatap lekat gadisnya.
"Kau mau di lamar seperti Sabil?"
Tidak ada jawaban tapi pipi Rani sudah kembali merona. Ia malu tapi juga ingin.
"Kalau kau mau, aku tidak akan melamar mu tapi langsung menikahi mu. Sekarang pun aku bisa membawa mu ke mengucap janji suci."
Lelaki itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia memang tak ingin main-main dengan hubungannya bersama Rani. Sudah cukup ia membiarkan gadis itu bebas di luar sana menggapai mimpinya. Jika bisa Dion ingin sekali segera mengikatnya dengan tali pernikahan. Setiap kali melihatnya berakting dengan lawan jenisnya dengan mesra menjadikan darahnya kian mendidih.
"Mana bisa langsung menikah tanpa lamaran. Kak Dion tidak ada romantis-romantisnya."
Rani kesal dan memalingkan wajahnya.
"Rupanya kau sedang iri dengan Sabil sekarang," ujar Dion meledek.
"Tidak! Siapa yang iri." Rani mengelak meski tak sesuai kenyataan yang sebenarnya.
"Padahal aku ingin menyiapkan lamaran yang sangat romantis untukmu." Dion berkata seolah dia kecewa.
"Benarkah itu kak," mata gadis itu langsung berbinar mendengarnya.
Sontak tawa Dion pecah melihat tingkah kekasih kecilnya.
"Kak Dion... Nyebelin banget sih." Rani beneran kesal jadinya.
°°°
Xiexie
Indahnya berpacaran jangan pada iri ya...
__ADS_1