Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab110 Menemukanmu


__ADS_3

°°°


Sabil masih berderai air mata saat mengingat masa-masa indahnya bersama sang ibu. Ia masih tidak menyangka jika kebersamaannya malam itu adalah saat-saat terakhir ia melihat ibunya di dunia ini.


"Maaf nona, kita mau kemana lagi?" tanya sang supir yang bingung dari tadi hanya diajak berputar-putar saja. Bahkan Sabil melarang supir itu menyalakan ponselnya.


"Kita ke hotel terdekat saja pak." Saat ini Sabil butuh waktu untuk menyiapkan hatinya. Ia tak membenci suaminya atau ibu dan ayah mertuanya. Sabil bisa merasakan jika kasih sayang mereka itu nyata bukan hanya pura-pura seperti yang dikatakan suster Jane.


Sabil hanya butuh waktu untuk meredam kekecewaannya karena mereka sudah menutupi itu semua selama ini. Ia belum siap jika harus bertemu suaminya saat hatinya dipenuhi rasa kecewa.


"Tapi nona bagaimana jika nanti tuan bertanya?" Sang supir takut jika yang akan ia lakukan itu salah dan membahayakan nona mudanya.


"Katakan saja jika mereka bertanya tapi tolong katakan juga jika saat ini aku sedang tidak ingin diganggu."


"Baiklah nona." Sang supir akhirnya bergerak menjalankan mobilnya mencari hotel yang ada disekitar tempat mereka saat ini.


Sampai di depan hotel yang tidak terlalu besar, ya Sabil yang meminta berhenti disitu. Ia tak masalah dengan kemewahan, asalkan tempat itu nyaman dan bisa untuk menenangkan diri sementara waktu.


"Terimakasih pak." Sabil turun dan memasuki hotel itu, memesan kamar untuknya tinggal sebentar. Jika nanti ia sudah bisa mencerna semua kenyataan dan kejadian waktu itu, Sabil akan mencari suaminya dan bertanya langsung.


Sang supir pun menunggu hingga nona mudanya benar-benar sudah masuk kedalam dengan selamat. Karena tugasnya tidak hanya sekedar mengantarkan saja tapi menjamin keselamatan tuannya. Sebenarnya tanpa sepengetahuan Sabil, sang supir menyalakan alat pelacak di mobil itu agar orang suruhan taun besarnya bisa melacak keberadaan mereka.


,,,


Andra masih di perjalanan untuk menyusul Sabil. Saat dia melihat titik lokasi mobil yang dikendarai Sabil berhenti di depan sebuah hotel, Andra jadi bertanya-tanya kenapa istrinya itu tidak kembali ke apartemen.


Mobilnya melaju semakin kencang, bahaya jika sang istri menginap sendiri di hotel kecil yang tak terjamin keamanannya. Ia tadi sudah menyuruh supir dan anak buah dad Ray untuk menunggu disana, takut terjadi apa-apa.

__ADS_1


Akhirnya Andra sampai juga di tempat tujuan, ia bergegas keluar dan mencari keberadaan supir yang tadi mengantarkan Sabil.


"Tuan muda." Para bawahan dad Ray membungkuk hormat saat Andra datang.


"Dimana istriku?" tanya Andra.


"Nona sudah masuk kedalam kamar hotel tuan," ujar sopir yang tadi mengantarkan Sabil.


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu tadi?" Andra menatap sopir itu penuh selidik.


"Tadi nona berpesan, katanya nona sedang tidak ingin diganggu tuan." Menunduk takut.


Mereka semua menunggu reaksi tuan mudanya, semua orang menunduk. Takut jika sang tuan muda melampiaskan amarahnya pada mereka. Kalaupun iya, mereka juga tidak berani melawan. Mereka akan terima apapun meski itu pukulan. Bekerja pada tuan Adiguna berarti siap menghadapi apapun termasuk kemarahan sang tuan. Tapi jangan salah setiap orang yang bekerja pada keluarga Adiguna sudah terjamin hidupnya bahkan keluarganya.


"Baiklah terimakasih, kalian sudah bekerja keras hari ini. Kalian bisa pergi sekarang." Sungguh diluar dugaan, tuan muda Adiguna berterimakasih pada bawahannya. Lalu ia pergi menyusul istrinya. Meninggalkan semua orang dengan wajah terkejutnya.


Mereka bisa bernafas lega saat ini, dan semuanya membubarkan diri melanjutkan tugas mereka masing-masing.


Untung saja kamar Sabil hanya di lantai 3, jika lebih tinggi lagi sudah dipastikan Andra akan kelelahan menaiki tangga darurat.


Andra mengetuk pintu terlebih dahulu, walaupun ia juga memegang kunci cadangan. Tidak ada jawaban juga hingga cukup lama ia menunggu Sabil membuka pintu. Pikirnya, jika sekali lagi ia mengetuk pintu tapi Sabil tak juga keluar, maka dengan terpaksa ia menggunakan kunci yang ia pegang.


Tok, tok, tok.


"Iya sebentar." Suara sang istri terdengar juga, baru mendengar suara istrinya saja sudah membuat Andra tersenyum dan lega.


Klek

__ADS_1


"Siap...a?" Sabil terkejut melihat siapa yang datang. Tidak menyangka akan ditemukan secepat ini.


"Sayang..." Baru saja Andra hendak memeluk istrinya tapi tangan Sabil sudah menghalangi.


"Stop kak, aku mohon pergilah." Berkata sambil memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap suaminya.


"Kenapa Sabil, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau tiba-tiba menghilang. Tolong katakan, apa yang membuatmu menangis." Hati Andra sakit ketika melihat air mata sang istri berderai.


"Kak... aku mohon pergilah. Tolong berikan aku waktu untuk menenangkan pikiranku." Mendorong pintu hendak menutupnya lagi.


Tangan Andra dengan cepat menahan pintu itu agar tidak tertutup.


"Katakanlah apa yang terjadi maka aku akan pergi dari sini jika itu mau mu." Andra berhasil membuka pintu kembali.


Tangis Sabil semakin pecah, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Hal itu membuat Andra semakin bingung dan ia membawa Sabil kedalam pelukannya.


"Berhentilah menangis sayang, itu membuat hatiku sakit. Katakanlah apa kesalahanku sampai kau tak mau bertemu denganku." Memeluk erat tak peduli Sabil terus meronta dan memukuli dadanya.


"Kenapa kau jahat kak, kau menyembunyikan semua itu dariku selama ini. Apa tujuanmu menikahi ku, apa hanya untuk membayar rasa bersalah mu karena Mommy sudah membuat ibuku meninggal."


Duaaar.


Hal yang selama ini Andra takutkan dan ia simpan rapat-rapat, ternyata istrinya mengetahui dari orang lain. Apa yang harus ia katakan sekarang agar istrinya mau memaafkannya.


°°°


Xiexie

__ADS_1


#Kawalsampaiakhir


Yuk jangan lupa like dan komen.


__ADS_2