
°°°
Alex sudah sembuh dari sakit pinggang nya ia pun segera berterima kasih pada Toni yang telah menolongnya. Ia akui Toni berhasil menyembuhkannya, tapi baginya cara yang lelaki itu pakai cukup ekstrim jadi pantaskan jika ia ketakutan tadi.
Akhirnya Andra pun membiarkan temannya itu tetap di kantornya. Ia menatap dua orang manusia yang tadi sempat tak akur kini malah terlihat begitu akrab. Alex dan Toni sedang asyik bermain game online.
"Ehh An, bagaimana kabarnya adik kelas." Ujar Alex yang terlihat senang karena barusan memenangkan pertandingannya onlinenya dengan assisten Toni.
"Kenapa?" Tanya Andra tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptopnya.
"Apa kalian pacaran?"
"Tidak."
"Kau tidak takut adik kelas di ambil orang."
"Tidak."
"Kau itu jangan terlalu percaya diri. Lihatlah sekarang adik kelas sudah dewasa dan bertambah cantik, pasti banyak lelaki yang mengejarnya." Ujar Alex memanasi.
"Tidak ada yang setampan aku." Jawab Andra penuh percaya diri.
"Kau itu. Aku sudah memperingatkanmu jangan menyesal kalau adik kelas memilih yang lain." Alex tak henti-hentinya mengompori temannya. Ia hanya ingin hubungan nya dengan Sabil berakhir bahagia, karena hanya Sabil yang selama ini mampu membuat seorang Andra tersenyum dan meluluhkan sikap dinginnya.
"Lebih baik kau urusi saja tunanganmu. Kau membiarkannya memasuki dunia modeling, tak takut tubuhnya yang menggunakan baju minim dilihat banyak orang." Ujar Andra lalu ia menyesap tehnya.
"Tidak usah membahasnya, jika bukan karena ayah aku juga tidak akan bertunangan dengan nya." Kalian masih ingat Shila, gadis yang berpacaran dengan Alex semenjak SMA. Hubungan mereka kini sudah semakin dekat, terutama keluarga nya, bahkan sudah bertunangan. Namun entahlah, Alex justru semakin sebal padanya.
Andra tersenyum sinis. "Kau terima saja, sebentar lagi kalian akan menikah."
Alex tak menyahut lagi.
Drrtt....
Ponsel Alex berdering. Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya, lalu meletakkannya kembali di meja.
Drrrttt...
Sudah beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya. Tapi Alex tak juga mengangkat telpon nya.
__ADS_1
"Siapa? Tunanganmu." Tebak Andra yang melihat perubahan di raut wajah temannya.
"Hmmm..."
"Jawab saja, bagaimana jika penting," ujar Andra.
" Tidak. Dia itu hanya merepotkan." Tapi entah kenapa, mulut dan hatinya berbeda. Ia ingin mengabaikan panggilan itu tapi hati kecilnya mengatakan sebaliknya.
Drrrttt..
"Shiiitt... " Akhirnya ia mengangkat panggilan itu.
"Ada ap.."
"Tolong aku Lex... cep... cepat kemari..." Terdengar teriakan di sebrang sana.
"Dimana kamu sekarang." Tanya Alex dengan nada tinggi.
Tuutttt...tutt...
Belum juga tunangannya itu menjawab sudah terputus panggilannya. Alex pun mencoba menghubungi nya lagi tapi nihil. Tak ada yang menjawab.
"Shiiittt..." Umpat Alex merasa frustasi.
Tanpa bertanya Andra pun mengerti, ia segera mengambil ponsel temannya dan mulai melacak. Untunglah Alex mempunyai teman yang pandai di bidang IT. Tak butuh waktu lama Andra sudah menemukan lokasi nya.
"Ketemu. Aku sudah mengirimkan nya ke ponsel mu." Ujar Andra.
"Ok, thanks." Alex langsung bergegas menuju lokasi yang Andra kirimkan.
"Tunggu... Kau butuh bantuan." Tanya Andra yang mengkhawatirkan temannya.
"Aku akan menghubungi mu jika butuh." Ujar Alex lalu ia menghilang di balik pintu.
Tapi Andra khawatir, apa yang akan di hadapi temannya bukan hal yang mudah. Ia pun menghubungi Toni, dan menyuruh beberapa anak buahnya mengikuti nya.
,,,
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli lagi dengan nyawanya. Pengalamannya di dunia balap sedikit membantu di saat genting seperti ini.
__ADS_1
Meski sisi mobilnya sudah banyak tergores karena jalanan yang sempit oleh kendaraan lain, tapi Alex dengan cepat sudah sampai lokasi. Sebuah hotel berbintang.
Ia langsung turun, dan masuk tanpa bertanya pada resepsionis ia sudah langsung naik menuju kamar yang dituju. Karena Andra tak hanya mendapat lokasinya, bahkan ia berhasil menyelusup dan tau di mana tunangan temannya berada.
Ting
Lift terbuka dan Alex berjalan cepat mencari kamar yang dituju. Sudah ketemu dan ternyata di depannya terdapat banyak yang menjaga.
Mau tidak mau Alex harus menghadapinya.
Ia langsung menghampiri mereka.
"Siapa kau!" Ujar salah satu penjaga menahan Alex.
"Maaf aku tidak ada urusan dengan kalian." Jawab Alex, menepis kasar tangan penjaga itu.
"Kau tidak bisa masuk!!" Sekarang mereka maju bersama menghadang Alex.
"Shiiittt !!! Kalian mengganggu saja. Cepat maju!!" Teriak Alex tak ada takutnya.
Empat orang penjaga bertubuh besar yang berdiri di depan pintu pun langsung menyerang Alex secara bersamaan.
Bug! bug! bug!
Wajah Alex sudah lebam terkena pukulan. Ia tak menyerah satu persatu orang itu dihajarnya.
Bug
Salah satu dari mereka memukul Alex dari belakang, dan yaa Alex sedikit terhuyung.
Kepalanya langsung berdenyut dan pandangan matanya sedikit kabur akibat pukulan balok kayu di tengkuknya. Tapi ia buru-buru menyadarkan dirinya, mengerjapkan matanya berkali-kali sembari memijit tengkuknya yang terkena pukulan.
Bug!
Ia langsung membalas dengan satu kali tendangan dan berhasil merobohkan mereka berempat. Untung saja Andra dan temannya memang jago beladiri.
Lalu Alex segera menendang pintu kamar itu hingga terbuka.
Braaaakkkk!!!
__ADS_1
°°°
Xiexie