Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab32 Menjemputmu


__ADS_3

°°°


Setelah memastikan Andra pergi, Sabil masuk lebih dalam untuk mencari ayahnya.


"Ayah... " Ujar Sabil melihat sang ayah yang masih asyik menonton TV.


"Kau sudah kembali nak, apa kau sudah makan, ayah akan membuat makanan untuk mu."


"Ish.. ayah, aku sudah makan di jalan. Apa ayah sudah makan. Tadi aku sudah mengirim pesan agar ayah memakan makan malamnya."


Ujar Sabil yang saat ini sudah duduk di samping ayahnya.


"Sudah, tadi nak Amel menemani ayah makan." Ujar pak Mul lembut.


Sabil tersenyum, "Oh iya Kak Andra membelikan ini untuk ayah, apa ayah mau memakannya sekarang?" Tanya Sabil seraya memegang bungkusan plastik yang tadi di letakkan di meja.


"Apa itu?"


"Seafood ayah."


Pak Mul tersenyum, dan Sabil segera menyiapkan piring piring untuk menuangkan makanan itu.


Ia menikmati makanan itu sambil mendengarkan cerita Sabil saat bertemu mom Rahmi tadi dan saat Andra mengajaknya makan pun Sabil ceritakan.


,,,


Pagi sudah kembali menyapa. Sabil pun bersiap kembali bersekolah.


Meong, meong,


Moli mendekat, "Moli sayang." Ujar Sabil memandang gemas pada makhluk berkaki empat yang sekarang terlihat semakin menggemaskan. Tubuh yang dulu mungil dan kurus, sekarang sudah gembul dan lucu.


Membuat siapa saja yang melihat ingin menggendongnya.


Kucing itu semakin manja pada Sabil, menggesek-gesekan badannya pada kaki Sabil.


"Hai Moli, apa kau ingin bermain? Aku harus berangkat sekolah, nanti aku akan mengajakmu bermain setelah pulang sekolah. ok?"


Ujar Sabil, seraya mengusap kepala Moli.


"Kucing pintar." ujarnya lagi, namun sekarang ia menggelitik perut Moli bulu-bulu halusnya sangat nyaman terasa di permukaan kulit Sabil.


"Ayah..." Ujar Sabil yang saat ini sudah mendudukkan dirinya di kursi makan.


"Makanlah ayah sudah membuat nasi goreng kesukaan kamu."

__ADS_1


"Wahh enak sekali kelihatan nya."


Sabil mulai menyendokan nasi goreng itu ke piring di depan nya. Menyuapkan kedalam mulutnya. Seperti biasa masakan ayahnya itu yang terbaik.


Sabil sudah menghabiskan satu piring nasi goreng spesial buatan ayahnya, kini segelas susu segar pun tandas tak tersisa. Sabil memang bukan tipe gadis yang mengkhawatirkan bentuk tubuhnya, toh ia juga tak kunjung gemuk walaupun makan banyak.


Selain karena memang suka makan, Sabil juga terbiasa sarapan sedikit banyak. Karena ia harus mengayuh sepeda ke sekolah dan pulang pun sama.


"Ayah Sabil sudah selesai, Sabil berangkat dulu." Pamit Sabil, meraih tangan kanan sang ayah.


"Tunggu nak, kau naik apa ke sekolah?"


"Tentu saja sepeda, kenapa yah?" Sabil menaikan sebelah alisnya.


"Bukankah kau kemarin tidak pulang dengan sepeda mu."


Sabil baru tersadar sekarang, oh iya.. aku naik apa sekarang. Baiklah naik taksi saja. Eh bukankah kak Andra menyuruh orang untuk mengantarkan sepeda nya.


"Nak..." panggil pak Mul.


"Kenapa..?"


"Tidak ayah, apa kemarin tidak ada yang mengantar sepedaku kemari?"


"Tidak nak." Jawab pak Mul.


"Hati-hati nak."


"Iya ayah."


Sabil melangkah keluar, di depan ternyata kak Amel sudah datang ke toko. Ia sedang membersihkan dan menyiapkan meja dan peralatan lainnya.


"Hai Sabila, kau sudah mau berangkat?" sapa Amel.


"Iya kak, aku berangkat dulu ya." jawab Sabil.


"Eh tunggu, seperti nya di depan ada yang menunggumu."


"Siapa kak, apa kak Amel kenal?"


Sabil menaikan alisnya, siapa yang mencarinya pagi-pagi begini.


"Tidak, tapi sepertinya aku pernah melihatnya... Ya pria itu yang kemarin duduk mengobrol dengan ayah Mul lalu pergi bersamamu." Amel cukup mengingat pria itu, mungkin karena wajah tampannya menjadi mudah diingat.


"Hah..." Sabil semakin mengerutkan dahinya. "Baiklah aku lihat dulu keluar kak."

__ADS_1


"Iya hati-hati."


Sabil keluar dengan tanda tanya di kepalanya. Ia sudah menebak siapa yang datang, tapi untuk apa pria itu datang kemari pagi-pagi.


Andra keluar dari mobilnya ketika melihat Sabil melewati pintu.


"Kak Andra... Ada apa kak pagi-pagi kemari?" Tanya Sabil saat ia sudah sedikit dekat dengan Andra.


"Menjemputmu...Maaf orang yang aku suruh mengantarkan sepedamu, malah tak mengantarkannya kemari."


"Tidak apa kak, aku bisa naik taksi. Kak Andra tidak perlu repot menjemputku."


Sabil merasa tak enak pada kakak kelasnya itu. Apalagi ia khawatir jika nanti banyak yang melihatnya berangkat satu mobil dengan Andra.


"Tidak karena aku sekalian lewat jalan ini."


Jawaban Andra memang mengada-ada, bagaimana bisa dari rumah nya ke sekolah melewati rumah Sabil. Yang ada itu jadi jalan memutar.


"Ayo, apa kau ingin terlambat." Ujar Andra, mengalihkan perhatian gadis itu agar segera menaiki mobilnya.


"Makasih kak,"


,,,


Mereka telah sampai di sekolah, kini Sabil benar-benar harus bersiap. Karena di parkiran sekolah saat ini lumayan cukup ramai.


"Kak, biar aku buka sendiri." Ujar Sabil dan ia buru-buru turun.


Mereka telah keluar dari mobil. Terlihat Alex dan Reza menghampiri mereka.


Sedetik kemudian Sabil melihat mobil Dion juga sampai, pasti ada Rani juga di dalamnya.


"Kak Andra aku duluan." Ujarnya.


"Tunggu... "


Apa lagi ini, lagi-lagi memegang tangan ku.


Sabil menoleh, " Ada apa kak?"


"Kau mau kemana?." Tanya Andra.


"Aku akan masuk bersama Rani, itu"


Sabil menunjuk ke arah Rani yang saat ini sudah keluar dari mobil.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2