
°°°
Andra benar-benar melakukan tugasnya dengan telaten. Membantu mandi sang istri, menggosok punggung dan setiap jengkal tubuh indah yang ia kagumi. Tak lupa ia juga membantu Sabil untuk mencuci rambutnya.
Jangan tanya apa Andra tak bernap-su melihat tubuh polos istrinya. Tentu saja ia harus mati-matian menahan hasratnya, jika tidak memikirkan luka semalam yang belum mengering mungkin ia akan kembali memakan Sabila.
Sabil pun cukup was-was saat Andra bilang tidak akan macam-macam dan hanya mandi.
Pasalnya semalam saja bilangnya hanya sekali tapi nyatanya tidak cukup.
"Aku janji kali ini hanya mandi sayang."
Sabil pasrah saat Andra menyabuni dan menggosok seluruh tubuhnya, karena sebenarnya ia pun sudah tak bertenaga lagi dan merasa lemas karena sangat lapar.
Hampir satu jam kegiatan mandi bersama itu selesai. Tak hanya mandi rupanya, Andra bahkan membantu Sabil hingga memakai pakaian. Membayangkan luka yang Sabil dapat akibat perbuatannya, membuat ia menjadi begitu penyayang.
"Tidak perlu kak, aku masih bisa memakai sendiri," protes Sabil saat suaminya memakaikan pakaian dalam untuknya. Ia sudah sangat malu saat mandi tadi dan sekarang semakin malu saat Andra memakaikan pakaian dalam.
Andra mencoba memasang wajah yang biasa saja saat kegiatan itu berlangsung. Walaupun sebenarnya ia sedang menahan sesuatu di bawah sana yang tidak mau tertidur.
Kini keduanya telah siap dengan baju dan dress rumahan yang Sabil pakai. Sangat cantik, imut dan menggemaskan. Andra saja tak berhenti menatap istrinya.
"Kak, sampai kapan akan melihatku seperti itu." Rengeknya yang risih akan tatapan mata sang suami.
"Maaf sayang, aku lupa kita belum sarapan. Habisnya kau terlalu cantik hingga membuat aku selalu terpesona." Entah itu sebuah gombalan atau ucapan tulus Andra, tapi itu sukses membuat Sabil tersipu.
"Kau mau makan di bawah atau disini saja."
Andra terlihat mengkhawatirkan istrinya.
__ADS_1
"Di bawah saja kak," jawab Sabil.
"Kau yakin?" Andra tampak menaikkan alisnya.
"Iya, lihatlah aku bisa berjalan. Aww...."
Niatnya mau menunjukkan kalau ia baik-baik saja tapi nyatanya untuk berdiri saja kesusahan.
"Kan aku bilang apa. Diamlah disini, aku akan menyuruh bi Nah mengantarkan makanan kemari." Mengecup kening sang istri lalu berjalan keluar.
Seperti biasa, perintah yang tidak bisa dibantah.
Sabil menurut, mau berdebat pun percuma saja. Ia menunggu dengan patuh seperti yang di mau suaminya.
Tidak butuh waktu lama, para koki yang profesional dengan cepat menyiapkan berbagai hidangan untuk tuan muda dan istrinya.
Bi Nah datang dengan mendorong stroller makanan.
"Masuk." Ujar Sabil.
"Permisi nona, saya membawakan sarapan." Bi Nah masuk setelah meminta ijin. Lalu menata satu persatu makanan yang ia bawa di atas meja.
"Terimakasih banyak bi Nah, maaf aku tidak membantu menyiapkan sarapan." Sabil berkata tak kalah sopan. Ya padahal ia ingin menyiapkan segalanya sendiri untuk sang suami, sebagai baktinya sebagai seorang istri.
"Tidak perlu sungkan nona, ini sudah tugas kami." Ujar Bi Nah tersenyum sopan.
"Apa bi Nah tau dimana kak Andra?" Pasalnya setelah pergi untuk menyuruh orang membuat sarapan lelaki itu tak kembali ke kamar.
"Tuan muda ada di ruangan kerjanya, nanti akan saya panggilkan."
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih bi."
Beberapa menit kemudian, Andra datang ke kamarnya setelah ada beberapa pekerjaan yang ia selesaikan. Rencananya yang akan pergi, membuatnya sibuk menyelesaikan pekerjaan yang mendesak.
"Sayang, kenapa kau belum memakan makanannya?" Tanyanya yang baru saja masuk mendapati makanan yang ada di atas meja masih utuh.
"Aku menunggu kak Andra." Sabil pun meletakkan majalah yang tadi ia baca sembari menunggu sang suami.
"Seharusnya, kau tidak perlu menunggu. Bukankah kau sudah lapar sejak tadi, kau jadi harus menahan lapar mu lagi. Maaf ya, tadi ada sedikit pekerjaan yang Toni kirimkan."
"Tidak apa-apa kak, hanya sebentar itu tak masalah. Aku sudah makan camilan dan teh hangat tadi." Sabil tersenyum hangat.
Andra mengusap pipi lembut Sabila, gadis manis yang sudah seutuhnya menjadi istrinya semalam.
"Ayo kita makan," ujar Andra yang dibalas anggukan kecil oleh istrinya.
Sabil melayani sang suami tercinta terlebih dahulu, sesuatu yang selalu ayahnya ajarkan, mendahulukan kepentingan suami itu tanda berbakti.
Mereka sarapan sekaligus makan siang karena matahari semakin meninggi. Sarapan perdana setelah menjadi sepasang suami istri.
°°°
Xiexie
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Like dan komen kalian sangat berarti untuk ku.
Maafkan jika banyak typo dan alur yang berantakan.
__ADS_1
Big love untuk kalian semua penyemangat ku.