
°°°
Seharian ini Sabil benar-benar menghabiskan waktunya untuk menemani mom Rahmi. Sedangkan Andra dan daddy nya kembali memeriksa perusahaan dari jarak jauh di ruang tamu yang ada disana. Ruangan yang ditempati mom Rahmi memang tidak seperti ruangan rumah sakit, lebih seperti hotel atau apartemen yang lengkap dengan perlengkapannya.
Ada ruangan pasien milik mom Rahmi yang luas dan nyaman, satu ruang tamu dan ada juga kamar satu lagi untuk dad Ray beristirahat. Sang suami tentu saja menyiapkan semua itu untuk kenyamanan istrinya karena mereka tidak hanya sebentar menginap di rumah sakit itu.
Jangan tanya biaya ya. Itu tidak akan bisa dihitung dengan kalkulator.
"Mom, apa ingin sesuatu?" tanya Sabil yang hanya diam saja sejak tadi.
"Tidak nak, kau istirahat saja di kamar sebelah jika lelah."
"Aku akan melihat dad dan kak Andra saja kalau begitu mom. Mommy tidurlah barusan mom minum obat jadi harus beristirahat." Sabil membetulkan selimut mom Rahmi hingga menutupi tubuh beliau hingga ke dada, lalu ia beranjak dari duduknya membiarkan mom mertuanya itu beristirahat.
"Tunggu nak," panggil mom Rahmi dengan sedikit ragu.
"Ya mom?"
"Ada yang ingin mom bicarakan padamu." Mom Rahmi merasa, ia tak bisa menyimpan rahasia ini lebih lama lagi.
Sabil bertanya-tanya dalam hati, ada apakah gerangan yang membuat wajah mom Rahmi berubah pias seperti itu. Apa ada sesuatu yang terjadi.
"Apa ada yang sakit Mom?" Sabil terlihat khawatir.
"Tidak nak, Mommy ingin memberitahu kamu sesuatu." Wajah sayu itu tampak serius.
Sabil pun mendekat, menggenggam tangan mom Rahmi. Lalu menatapnya penuh perasaan.
"Ada apa apa Mom. Bicara saja tidak perlu ragu, aku akan mendengarkan dengan baik."
__ADS_1
Mulut mom Rahmi terasa kelu, bibirnya seakan sulit untuk bergerak. Padahal ia sudah menyiapkan diri dan menata ucapannya agar Sabil memaafkannya nanti.
"Mommy... mom ingin memberitahu kamu kalau..." Takut tentu saja mom Rahmi merasa takut, menyesal pun sudah terlambat. Jika waktu bisa di ulang ia tak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi.
"Yaa mom, kalau apa?"
"Kalau mom itu adalah orang yang... yang men..."
Klek
Andra masuk, mom Rahmi dan Sabil pun menoleh. Ucapan mom Rahmi yang sudah hampir terucap pun berhenti.
"Sayang, ayo kita makan siang." Ajak Andra.
"Sebentar kak, Mommy mau bicara katanya." Sabil kembali memandang mom Rahmi yang memaku.
"Ada apa mom?" Andra jadi khawatir juga.
"Baiklah Mom, kami makan di luar bersama Dad." Andra berpamitan dan mengajak sang istri keluar dari kamar rawat mommy nya.
Sedangkan mom Rahmi tidak bisa ikut makan bersama karena tidak bisa sembarang makan. Ia hanya makan apa yang dokter anjurkan dan pastinya ahli gizi yang mengaturnya.
Sabil terlihat bimbang saat mengikuti langkah suaminya keluar, ia bahkan masih memandang mom Rahmi sambil berjalan. Seperti ada sesuatu dihatinya yang entah apa itu. Ia juga dilanda rasa penasaran yang kuat.
Sementara di luar dad Ray sudah menunggu, ia senang karena akhirnya ia tak makan sendirian lagi. Biasanya ia paling malas jika waktunya makan karena semua makanan terlihat tak menggugah selera saat ia harus makan sendirian. Tetapi dad Ray tak pernah mengeluh di depan sang istri.
Saat mereka sedang menyantap makan siang pintu masuk ruangan itu diketuk, suster Jane datang membawa makan siang untuk mom Rahmi. Dia menunduk saat melewati mereka yang sedang makan siang.
"Kak biar aku bantu Mommy dulu ya..." kata Sabil memohon pada sang suami.
__ADS_1
"Tidak usah sayang, habiskan makananmu. Biarkan suster itu melakukan tugasnya." Andra mencegah istrinya dan tindakannya itu sukses membuat suster Jane semakin meradang.
Mau tidak mau Sabil menurut meski tak enak dengan mom Rahmi tapi dad Ray juga tak membiarkannya mengerjakan sesuatu yang berat. Baginya dia masih mampu membayar mahal orang untuk merawat istrinya. Menantunya itu hanya perlu menemani dan membuat mom Rahmi tak kesepian.
,,,
Malam semakin larut, malam ini Andra dan Sabil berniat untuk menginap di rumah sakit menghabiskan waktunya untuk orang terkasih.
Malam itu tiba-tiba Sabil merasa bosan dan ingin keluar mencari udara segar. Tapi Andra dan dad Ray entah sedang pergi kemana. Katanya sedang bertemu rekan bisnis mereka yang kebetulan sedang berada di Swiss.
Mom Rahmi juga sedang tidur dan ia hanya sendiri. Membaca majalah sudah, berkirim pesan dengan sahabat sudah, bertelepon dengan ayah Mul pun sudah. Hmmm apa lagi yang akan Sabil lakukan agar tidak bosan menunggu suaminya kembali.
Sabil butuh kopi sepertinya untuk menghangatkan tubuhnya. Ia berjalan keluar dan menuju dapur yang tersedia, mencari kopi di rak dan lemari tapi tak menemukan apa-apa disana.
Apa aku keluar saja, sepertinya tadi aku melihat coffee shop di depan. Mom Rahmi juga sedang tidur, ya aku akan pergi sebentar dan bergegas kembali. Mengintip mom Rahmi lagi memastikan jika Mommy mertuanya itu masih terlelap, sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.
Tak lupa Sabil memakai mantelnya agar tidak kedinginan nanti. Ia senyum-senyum sendiri mengingat betapa posesif nya sang suami. Tapi ia juga senang, artinya Andra begitu menyayanginya.
Menunggu di depan lift seorang diri sambil berkirim pesan dengan Andra. Sabil sadar jika dirinya sekarang ini sudah menjadi seorang istri. Maka wajib baginya meminta ijin pada suaminya walau sekedar keluar membeli kopi.
Sabil memasuki lift saat pintunya sudah terbuka, masih sambil memandangi ponselnya. Ternyata hanya sendirian disana tapi Sabil tak memikirkan hal itu, ia masih sibuk membaca pesan-pesan sang suami yang begitu romantis menurutnya.
Tanpa sadar ternyata ada seorang wanita yang ikut masuk kedalam lift sebelum pintu lift akhirnya tertutup. Namun, Sabil tak sadar jika sedari tadi ada mata yang mengawasinya, ada yang melihatnya penuh kebencian. Seolah Sabil telah melakukan kesalahan yang besar padanya. Padahal kenal saja tidak.
°°°
Xiexie
Terus kawal sampai akhir ya...
__ADS_1
Big love selalu untuk kalian semua.