
°°°
Hampi pukul jam 3 sore mereka baru dalam perjalanan menuju rumah ayah Mul. Kan Sabil bilang juga apa, tidak mungkin cukup bagi Andra kalau hanya sebentar. Bukan hanya di meja, mereka juga melakukannya di tempat lain dan mencoba berbagai gaya. Sofa dan karpet ikut menjadi saksi panasnya kegiatan sepasang suami istri itu.
Senyum Andra terus merekah di wajahnya. Ia sangat puas telah menggagahi istri kecilnya, mendengar desaahaaannn dan rintihan sang istri di bawah kungkungannya menambah kepuasan tersendiri. Andra tak melepaskan genggaman tangannya dan menciumi punggung tangan sang istri, sebagai rasa terimakasihnya dan syukurnya mempunyai istri seperti Sabila.
"Kak apa kita tidak akan ketinggalan pesawat."
Sabil khawatir benar-benar merasa tak tenang, meski Andra sudah bilang bila pesawatnya bisa menunggu tapi apa mungkin hanya dua penumpang saja mau menunggu. Setau Sabil pesawat adalah alat transportasi yang tidak mungkin mau menunggu penumpangnya jika terlambat sama halnya seperti kereta api.
"Tenanglah sayang, kau tidak perlu cemas."
Wajah sumringahnya terus mengulas senyum.
Kekhawatiran Sabil itu tak berarti apa-apa bagi Andra, ia sekarang sedang berbunga-bunga hatinya.
"Atau kita tidak perlu singgah ke rumah ayah kak?" Sabil tak habis pikir dengan sang suami yang begitu tenang bahkan banyak mengumbar senyum padahal dirinya sudah sangat khawatir sampai tak peduli dengan rasa sakit di pinggangnya.
Sabil tidak tau saja apa yang membuat sang tuan muda senyam-senyum sendiri dari tadi. Padahal berkat dirinya lah Andra begitu bahagia. Memenangkan tender dan proyek sudah biasa bahkan tak membuatnya sebahagia itu. Tapi kini sang istri mampu membuat hatinya berbunga-bunga.
"Kita akan tetap ke rumah ayah sayang." Ujar Andra, lagi-lagi tersenyum aneh.
Kenapa kau sangat aneh kak, apa ada yang salah dengan kepalanya atau dia makan sesuatu yang salah pagi ini.
Sabil menautkan kedua alisnya melihat suaminya.
Toni yang sedang menyetir di depan pun tak kalah heran melihat sang tuan muda bersikap aneh. Dilihat dari kaca spion tuan mudanya terus bersikap manja dan wajahnya sangat sumringah.
Bergidik ngeri jadinya, terbiasa melihat tuan mudanya bersikap dingin dan arrogant lalu melihat perubahan sikapnya Toni jadi takut. Dan anehnya saat Toni baru sampai untuk menjemput mereka di rumahnya pun, Andra menyapanya lebih dulu. Hal yang tidak pernah Toni mimpikan.
Bulu kuduk Toni berdiri seketika. Ia kembali fokus menatap jalanan, melihat tuan mudanya hanya membuat pikirannya berkecamuk.
Mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah Sabil. Andra buru-buru keluar bahkan sebelum Toni membukakan pintu untuknya. Menghampiri sang istri, ia tau jika istrinya itu pasti merasa tak nyaman dengan tubuhnya.
Sabil pun menerima uluran tangan dari sang suami. Aww kenapa pinggangku sesakit ini. Sabil meringis menahan sakit yang sedari tak dirasanya.
__ADS_1
"Apa sakit sekali?" Tanya Andra membuat Sabil heran. Bagaimana kak Andra tau aku kesakitan.
"Apa mau aku gendong?" Tanyanya lagi.
"Darimana kakak tau aku sedang kesakitan?" Sabil balik bertanya.
"Dari mimik wajahmu sayang... dan aku tau kegiatan kita tadi pasti membuatmu kelelahan dan mungkin pinggangmu akan sedikit sakit."
Katanya sedikit berbisik di telinga Sabil.
"Aww... kenapa kau mencubitku sayang." Memegangi perutnya yang kesakitan akibat cubitan yang Sabil berikan.
Sabil hanya melirik tajam, sekarang ia tau kenapa suami berwajah sumringah sedari tadi. Mengendus kesal dan meninggalkan suaminya yang masih kesakitan.
Pinggangku seperti mau patah rasanya. Berjalan tertatih sambil memegangi pinggangnya.
"Sayang tunggu aku, kenapa aku ditinggal." Andra sedikit berlari menyusul sang istri.
"Aku gendong yaa..." Bujuknya.
"Kak turunkan."
Mata Sabil membulat dan memberontak tapi Andra tetap tak mau menurunkan tubuh sang istri dari gendongannya.
"Sebaiknya berpegang jika tak ingin jatuh." Jawabnya menyeringai.
Mau tak mau Sabil pun mengalungkan tangannya ke leher Andra walaupun wajahnya cemberut. Kenapa aku baru sadar kalau kak Andra begitu buas sampai pinggangku rasanya seperti patah. Terus memasang wajah masamnya.
Andra menggendong sang istri hingga masuk ke dalam rumah. Membuat pak Mul yang melihatnya pun sontak merasa khawatir melihat putrinya digendong seperti itu. Pikirnya sang putri sedang sakit atau terjadi sesuatu yang buruk menimpanya.
"Ada apa ini nak, apa kau sakit?"
Sabil ragu untuk menjawab dan bingung mau menjawab apa. Akhirnya ia hanya diam saja dan melirik suaminya, memberi kode lewat tatapan matanya agar suaminya itu yang menjelaskan pada ayahnya.
Kak, kau saja yang jawab, aku tidak tau mau bilang apa. Semua ini perbuatan kak Andra yang terlalu berlebihan. Sorot matanya menatap Andra.
__ADS_1
Andra paham jika istrinya itu enggan untuk menjawab.
"Tidak apa-apa ayah, Sabila hanya kecapean." Menjawab dengan asal disertai senyum nakal.
Pak Mul melihat putri dan menantunya bergantian, keduanya terlihat malu-malu dan merona. Akhirnya ia paham apa yang terjadi disini. Anak muda memang terlalu bergairah.
Tersenyum melihat kebahagiaan yang dirasakan putrinya.
"Ayah kami kesini untuk berpamitan dan meminta ijin untuk membawa putrimu yang cantik ini menemui mommy."
Ujar Andra yang kini sudah duduk di sofa bersebelahan dengan istrinya.
"Kau tidak perlu meminta ijin karena Sabil sepenuhnya adalah hak mu, ayah sudah tidak berhak lagi melarang dan mengaturnya. Kaulah yang berhak dan berkewajiban atas apa yang ada pada diri Sabila."
"Ayah tentu akan mengijinkan dan mendoakan kalian agar selamat sampai tujuan. Mommy mu kini adalah ibu mertua Sabil, sudah sewajarnya Sabila menemuinya meminta doa restunya agar rumah tangga kalian berjalan dengan lancar, jika pun nanti ada masalah kalian harus bisa menghadapi dengan kepala dingin. Membicarakan semuanya dengan tenang tanpa melibatkan emosi."
Sabil memeluk ayahnya, rasanya berat karena ini pertama kalinya ia akan berpergian jauh, otomatis ia juga akan berjauhan dengan ayahnya.
Pak Mul mengusap punggung putrinya, ia juga mengerti apa yang sedang putrinya rasakan. Berjauhan dengan orang tua memang bukan hal yang mudah.
"Aku pasti akan merindukan ayah." Sabil hampir menangis, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Ayah juga akan merindukan putri ayah yang cantik ini. Kau bisa menelepon jika rindu," ujar pak Mul menenangkan putrinya.
"Kenapa ayah tidak ikut saja berjalan-jalan bersama kami."
Andra bahkan sudah menawarkan hal itu tempo hari tapi pak Mul menolak. Jika hanya masalah kesehatan itu tak masalah karena Andra pasti bisa menyiapkan dokter terbaik untuk ikut dalam pesawat.
Sudah dibilang pak Mul itu sangat sangat pada mendiang istrinya. Cintanya seakan sudah terpaku di tempat, tepat dimana mereka menghabiskan waktu bersama. Kenangan dan ingatan membuatnya berat walau sekedar pergi sebentar. Dia sungguh mengabdikan hidupnya ditempat ini dan dia berpikir istrinya juga sedang menunggunya disini.
°°°
Xiexie
Bonus malam, jangan bosen ya bacanya. Lebih suka aku update panjang atau pendek aja kira-kira?
__ADS_1
Big love untuk kalian semua.