
°°°
Andra yang sedang meeting pun tidak tenang dari tadi. Pikirnya tidak fokus pada pekerjaan, untung saja ada Toni yang bisa menggantikannya untuk menjelaskan kemajuan proyek kerjasama mereka.
Ponsel selalu ia bawa walau hanya dalam mode getar, perasaan khawatir memenuhi pikirannya. Saat pihak investor bertanya ia bahkan hanya mengangguk saja.
Benar saja kan ada panggilan masuk dari mom Rahmi, Andra langsung keluar untuk mengangkat panggilan itu tanpa pikir panjang.
"Hallo Mom." Dengan tangan gemetar Andra mengangkat panggilan dari mom Rahmi.
"Hallo nak, Sabila mau melahirkan, kami sudah membawanya ke rumah sakit. Cepat kau kemari, dia butuh suaminya ."
Setelah menutup teleponnya Andra kembali masuk ke dalam ruangan rapat. Ternyata Toni sudah menjelaskan semuanya pada pihak investor, jadi saat Andra masuk tanpa diduga mereka menyuruhnya untuk pulang.
"Tuan Andra, anda bisa pergi lebih dulu saya tidak keberatan bahkan jika dari awal saya tau istri anda sedang hamil tua, saya tidak akan memaksakan untuk bertemu."
"Saya sebagai ayah dari tiga orang anak paham betul saat istri hamil besar dan mau melahirkan. Anda harus selalu siaga disampingnya, saat melahirkan pun harus siap menjadi pelampiasan rasa sakitnya. Tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakitnya wanita melahirkan keturunan untuk kita ke dunia ini."
Beruntung sekali Andra ternyata investor itu tidak seburuk yang ia kira, pemahamannya tentang wanita patut dicontoh.
Andra memacu kendaraannya dengan kecepatan yang agak tinggi. Tidak berani terlalu mengebut karena ada wanita dan calon buah hati mereka yang sedang menunggu. Beruntungnya ia tak menemukan lampu merah dijalan, Tuhan seperti sedang mempermudah jalannya.
Sampai di rumah sakit bersalin, Andra bergegas menuju ruang persalinan. Ada mom Rahmi, Dad Ray dan bi Nah yang sedang menunggu diluar.
"Mom, dad...," panggilnya dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena lari dari parkiran rumah sakit.
"Nak kau sudah datang, cepatlah masuk dan temani istrimu. Dia sedang berjuang hidup dan mati untuk melahirkan putramu." Mom Rahmi seorang wanita, tentu ia tau betapa nikmatnya saat seorang wanita melahirkan anaknya.
Perjuangang terbesar seorang wanita adalah saat ia melahirkan. Belum sampai disitu, setelah itu seorang ibu masih harus menyusui anaknya selama kurang lebih 2 tahun. Maka janganlah kalian menyakiti hati ibumu, yang sudah berjuang mengorbankan nyawa dan bentuk tubuhnya yang tak lagi sama dengan sebelum melahirkan.
Melihat Sabil kesakitan dan penuh keringat, hati Andra benar-benar tersentak. Beginikah perjuangan wanita, dengan lubang yang begitu kecil ia harus mengeluarkan bayi dari dalam perutnya. Wanita sungguh istimewa, dimana saat para suami dengan gampangnya meminta anak mereka dengan sukarela mengandung dan melahirkan.
"Sayang, kau pasti bisa. Maafkan aku membuatmu merasakan kesakitan ini." Tanpa Andra sadari tangisnya mengalir begitu saja.
"Ini kewajibanku dan kodratnya seorang wanita kak. Aku bahagia karena Tuhan memberikanku kesempatan untuk mengandung dan melahirkan. Aku merasa menjadi wanita yang sempurna untukmu kak." Sabil meraih tangan suaminya, memberikan pengertian bahwa ia tidak perlu merasa bersalah.
Dengan setia Andra tak beranjak sedikitpun dari samping sang istri. Memberikan kekuatan dan selalu membisikkan kata cinta sebagai bentuk rasa terimakasihnya. Walaupun sesekali ia harus menerima jambakan, cubitan dan pukulan saat Sabil merasakan dorongan yang kuat dalam perutnya.
__ADS_1
Satu cengkraman kuat pada bahu Andra bersamaan dengan panjangnya Sabil mengejan, lahirlah seorang bayi mungil ke dunia ini. Tangis bayi berjenis kelamin laki-laki itu menggelegar di ruangan persalinan bahkan sampai keluar ruangan.
"Terimakasih sayang, kau hebat. Aku mencintaimu." Andra menghujani istrinya dengan ciuman di wajah dan tangannya.
Kata terimakasih tak hanya sekali Andra ucapkan. Cintanya pada sang istri bertambah berkali-kali lipat. Apalagi saat ia melihat putranya, buah cinta mereka. Lagi-lagi ia menangis, dokter dan perawat yang membantu proses persalinan Sabil pun ikut terharu. Mereka bisa melihat betapa besarnya rasa cinta tuan muda Adiguna itu pada sang istri. Jika biasanya para suami akan marah jika istrinya melampiaskan rasa sakitnya, atau bahkan ada yang memilih menunggu diluar. Beda sekali dengan Andra yang dengan setia menemani sang istri.
Mom Rahmi dan dad Ray yang mendengar suara tangisan bayi pun berulangkali mengucap syukur. Mereka sangat bahagia menyambut kehadiran cucu pertama keluarga Adiguna ini.
"Dad, sekarang kita sudah menjadi Oma dan opa. Kita sudah tua Dad." Mom Rahmi sampai menangis haru.
"Iya sayang, kita sudah mempunyai cucu," jawab Dad Ray tak kalah senang.
Sabil dan putranya telah dipindahkan ke ruang rawat. Mereka semua pun berkumpul disana. Andra masih di samping istrinya, menyuruhnya untuk banyak makan agar putranya tidak kekurangan ASI. Di sisi lain mom dan dad Ray terus menunggui cucunya, yang menurut mereka sangat tampan seperti Andra kecil.
"Mom, berhenti mengganggu putraku. Kasihan Sabil kalau dia menangis lagi nanti." Kelakuan Oma dan opa baru itu membuat Andra geram. Baru saja sang putra tertidur setelah menyusu tapi mereka mengganggunya lagi.
"Biarkan saja, putra kalian sangat menggemaskan," ujar mom Rahmi yang masih asik mengamati cucunya.
"Tidak apa-apa kak." Sabil mencoba menenangkan suaminya, ia bahagia putranya lahir dikelilingi oleh keluarga yang sangat menyayanginya.
"Sabil saja tidak masalah. Oh iya apa kalian sudah menyiapkan nama untuknya," tanya mom Rahmi melihat putra dan menantunya.
"Namanya baby L."
Semua orang mengerucutkan dahinya menunggu ucapan Andra selanjutnya.
"Iya aku sudah menyiapkan sebuah nama untuknya, Leonard Alfatih Adiguna. Karena dia masih bayi panggil saja baby L," jelas Andra.
"Baby L, nama yang bagus kak. Kapan kak Andra memikirkannya." Tampaknya Sabil menyukai nama yang Andra siapkan.
"Saat sedang membuatnya." Ucapan Andra yang tidak tau tempat itu langsung mendapatkan pukulan dari sang istri. Padahal Sabil sedang serius tapi dijawab dengan asal oleh suaminya, apalagi di ruangkan itu ada mom dan dad Ray.
Mom Rahmi pun hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan putranya.
Kebahagiaan keluarga mereka bertambah setelah kehadiran baby L ke dunia ini. Rumah menjadi semakin hangat dan ramai oleh tangisan bayi. Oma dan opa Ray kini tidak lagi kesepian bahkan baby L banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Tentu saja itu adalah sebuah keuntungan yang Andra dapatkan, ia jadi bisa segera mencetak bayi-bayi mungil lainnya.
Happy end.
__ADS_1
Tamat.
°°°
Xiexie
Terimakasih yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Kalian sungguh luar biasa. Tanpa kalian mungkin aku tidak akan pernah menyelesaikan novel pertamaku.
Kenapa novel ini tamat?
Karena memang mereka sudah bahagia semuanya, dengan cara dan tempat masing-masing.
Kok pendek amat Thor, padahal masih mau lanjut.
Maafkan Author, hanya bisa bercerita sampai disini dulu.
Masih penasaran dengan cerita tokoh yang lain dinovel ini.
Maaf juga karena dari judulnya saja Sabila, cinta manis tuan muda. Jadi kalau author menceritakan yang lain takutnya melenceng dari judul. Kemarin saja saat menceritakan Rani dan Dion takutnya tidak nyambung dengan ceritanya Sabila. Untunglah masih bisa disambungkan, menurut author si.hehehe
Apa akan ada novel baru Thor?
Ada tapi belum tau kapan. Nunggu banyak bab dulu mungkin, baru aku up.
Hehehe maafkan kehaluan author yang mungkin tidak masuk akal atau tidak sesuai dengan kenyataan. Karena ini bukan kisah nyata, hanya ada di dunia halu.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya. Salam sayang dari Sabila dan Andra.
Salam sayang juga dari author yang tidak pemes ini. Maaf sekali lagi jika ada kata atau kalimat unfaedah didalamnya. Kalian bisa memilah-milah hal yang baik dan buruknya.
Semoga readers setiaku selalu dilimpahkan kesehatan dan diberi kemudahan dalam segala hal.
Big love untuk kalian semua.
Jangan lupa baca novel baruku juga dong.
Judulnya Bersabar Dalam Luka Perjodohan
__ADS_1
Cari nama penanya Three ono