Sabila, Cinta Manis Tuan Muda

Sabila, Cinta Manis Tuan Muda
bab22 Perhatian Kecil


__ADS_3

POV Andra


Kruuyuk...


Suara apa itu? pikirku.


Namun tetap menampilkan wajah datar ku.


Ku lirik ke sebelah, terlihat gadis di sebelah ku mengusap perutnya. Kini aku tau bunyi itu berasal dari mana.


Aku berusaha tenang, tak menampakan ekspresi apapun. Takut ia merasa malu karena bunyi perutnya.


Pasti karena ia makan sedikit tadi di rumah.


Tebakanku pasti benar, karena aku pun melihat nya. Tadi saat makan malam, aku melihat kegugupan yang Sabil rasakan.


Mungkin karena kemunculan ku membuatnya menjadi gugup. Karena yang ku tau, Sabil ialah gadis yang pemalu. Di sekolah saja ia hanya terlihat bersama dua temannya saja, yang satunya merupakan sepupuku.


Mataku melihat sekeliling pinggir jalan, barangkali ada restoran terdekat.


Akhirnya ku lihat beberapa deretan restoran cepat saji. Ku hentikan mobil sport ku, dan meninggalkan nya begitu saja di mobil.


Sampai di salah satu restoran, aku di sambut oleh para pelayan di sana. Kemudian mereka memberikan buku menu nya.


"Silahkan tuan, mau pesan apa? Di makan di sini atau di bungkus?" ujar salah satu pelayan wanita yang menghampirinya.


Ahh aku lupa menanyakan gadis itu sukanya apa..


"Bungkuskan beberapa makanan yang paling enak di sini." Pikirku cepat.


Setelah beberapa saat, pesanan ku telah siap.


Kemudian dengan cepat membayarnya.


Para pengunjung restoran dan pelayan wanita membuatku risih, mereka tak berhenti menatap ku.


Senyum terus mengembang di bibirku, ku angkat beberapa bungkus makanan yang ku bawa. Semoga gadis itu menyukai salah satu makanan ini.


Sampai di mobil aku langsung menyerahkan makanan yang ku bawa, tak hanya satu tapi semuanya. Ku lihat wajah nya kebingungan, akhirnya aku bersuara.


"Makanlah aku tak tau kau suka makanan apa, jadi aku membeli beberapa."


Matanya membulat, pipinya memerah. Menggemaskan, hanya kata itu yang pas menggambarkan wajahnya saat ini.


^^^


POV end


Sabil tertunduk malu, salahku kenapa perutku bersuara di saat seperti ini.


"Makanlah, apa tak ada yang kau suka."


"Ahh tidak, aku bisa memakan makanan apa saja." Sabil masih belum berani menatap lelaki itu.

__ADS_1


"Sepertinya aku tau, aku melupakan minumannya. Aku keluar membeli minuman dulu."


Sepertinya Andra tau, gadis itu takkan bergerak mengambil makanannya jika ia ada di sana. Ia pun hanya mencari alasan agar Sabil mulai memakan makanannya.


Setelah Andra kembali keluar, Sabil mengangkat kepalanya, memastikan lelaki itu sudah menjauh dari mobilnya.


Aku harus segera memakannya, sebelum ia kembali.


Sabil membuka salah satu bungkus makanan.


Pilihannya jatuh pada sayap ayam yang di goreng dengan tepung di bagian luar nya.


Kres, kres


Sedikit cepat Sabil mengunyahnya. Ia takut pemilik mobil itu kembali sebelum perutnya terisi.


Sedangkan Andra, ia sengaja berlama-lama di luar. Memesan beberapa jenis minuman yang berbeda. Tentu saja masih dengan alasan yang sama, ia tak tau Sabil menyukai minuman dengan rasa apa.


Sabil sangat menikmatinya sayap ayamnya.


Entah karena lapar atau memang enak, satu bungkus makanan itu ludes tak tersisa. Bahkan ia menjilati sisa-sisa daging yang menempel di tulangnya.


Untung saja lelaki itu belum kembali, tapi mengapa ia lama sekali.


Haaaa....


Aku kenyang. Sabil menyenderkan tubuhnya, senyumnya merekah kemudian.


Walaupun tadi ia sempat malu, tapi sekarang ia merasa senang karena sang kakak kelasnya ternyata perhatian juga.


"Kau sudah memakan makananmu?"


"Sudah kak, terimakasih. Tapi aku tak bisa menghabiskan ini semua."


"Kau bisa membawanya pulang, atau buang saja jika ingin," ujarnya masih dengan wajah yang datar.


"Enggg...." Sabil sudah tak berani lagi bersuara.


Andra mulai menjalankan mobilnya, takut terlalu malam mengembalikan anak gadis orang.


Sabil beberapa kali menguap, Ahh ini pasti karena aku kekenyangan. Sabar Sabil jangan sampai kau ketiduran di mobil ini.


Mobil mulai berbelok ke arah rumah Sabil. Gadis itu juga tidak tau bagaimana kakak kelasnya itu tau rumahnya, padahal sedari tadi Sabil diam saja tak menunjukan arah.


Ia tak mau ambil pusing, mungkin saja dia tau dari Mom Rahmi.


Tak lupa sebelum keluar Sabil berterima kasih. "Terimakasih kak, sudah mengantarku sampai rumah."


"Masuklah, aku akan memastikan kau selamat sampai masuk ke dalam rumah, seperti kata Mommy."


"Ahh iy..iya.."


Sabil keluar dari mobil itu, berjalan menuju rumah sekaligus toko kue di bagian depan. Kepala Sabil sesekali menengok, ia penasaran apa lelaki itu benar-benar menunggunya sampai masuk rumah.

__ADS_1


"Lelaki itu benar-benar masih di sana." gumamnya.


Sabil kembali melangkah, entah sudah berapa kali ia menengok. Mobil itu masih diam di sana, sayangnya Sabil tak bisa melihat orang di dalamnya, karena kaca mobil yang gelap jika di lihat dari luar.


Akhirnya ia sampai di depan pintu, Sabil buru-buru masuk ke dalam. Lampu yang minim penerangan membuat ia berani mengintip dari balik gorden. Ternyata benar saja, mobil itu mulai melaju setelah ia masuk.


Sabil tersenyum, ia merasa senang di perlakukan seperti itu, hatinya menghangat.


Tubuhnya berbalik, senyum masih menghiasi wajah nya. Kenapa ini? Ia memegangi dadanya, rasanya sesuatu bergetar di dalam sana.


Meong...


"Kau kah itu Moli?" cahaya yang minim membuat Sabil tak melihat dengan jelas.


Toko memang sudah tutup, wajar saja jika sebagian lampu sudah di matikan.


"Uhh.. Moli, apa kau merindukanku?" ucapnya setelah kucing kesayangannya mendekat.


Lalu Sabil membawa moli dalam gendongannya, masuk lebih dalam di mana ada cahaya yang lebih terang di sana.


Ayah pasti belum tidur.


"Ayah..."


"Nak... bagaimana? Apa kau bersenang-senang di rumah Mommy mu?"


Nampak helaan nafas lega dari pak Mul. Putrinya telah kembali, kegelisahan yang tak beralasan buyar seketika melihat senyum di wajah putrinya.


"Maafkan Sabil ayah, aku terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu. Membuat ayah harus menunggu." Wajah Sabil berubah sendu.


"Tidak apa nak.. duduklah."


Sabil mendudukan dirinya di samping ayahnya.


"Sekarang ceritakan, apa saja yang kau lakukan di sana?" Mengusap pucuk kepala putrinya lembut.


"Apa ayah tau, rumah Mom Rahmi itu sangat besar? Aku tak menyangka ia sekaya itu. Keluarga nya juga sangat baik, suaminya dan putranya. Dan ternyata putranya adalah kakak kelasku di sekolah."


"Benarkah? Berarti kalian sudah saling kenal.."


Sabil menggeleng, "Kalau Sabil pasti tau dia, karena ia sangat terkenal di sekolah. Tapi aku tak yakin dia mengenalku."


"Begitu..."


"Apa ayah sudah makan?" tanya Sabil.


"Belum, ayah menunggu mu." Ya tadi pak Mul tidak berselera untuk makan.


"Ayah ini, bukankah aku sudah bilang akan makan malam di rumah Mom Rahmi. Sekarang ayah makan Sabil akan temani."


Sabil mulai menyiapkan makanan yang sudah di hangatkan sebelum di meja makan. Tak lupa ia juga menghidangkan makanan yang tadi di beri kakak kelasnya.


Sabil menemani ayahnya makan, sambil memperhatikan nya. Ya.. seandainya ayahnya punya pendamping pasti ia tak kesepian, dan ada yang akan mengurusnya.

__ADS_1


°°°


Xiexie


__ADS_2